SEMARANG — Pelaksanaan Evaluasi Tari Sobokartti 2026 memasuki hari kedua di Gedung Sobokartti, Semarang, Minggu (28/6/2026). Ajang yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kelompok usia ini tidak hanya menjadi kompetisi untuk mengukur kemampuan menari, tetapi juga menjadi wahana pembinaan dalam mencetak generasi penerus seni tari tradisional yang memiliki penguasaan teknik, penghayatan, dan pemahaman budaya yang kuat.
Ketua Pelaksana Evaluasi Tari Sobokartti 2026, Darmadi, mengatakan pelaksanaan kompetensi berlangsung lancar dengan antusiasme peserta yang tetap tinggi. Menurutnya, evaluasi tahunan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang selama ini menjadi ciri pembinaan di Sobokartti.
“Evaluasi ini bukan semata-mata untuk menentukan juara, tetapi menjadi sarana pembelajaran. Masukan dari dewan juri diharapkan dapat meningkatkan kemampuan teknik, penghayatan, serta pemahaman karakter tari bagi para peserta dan pelatih,” ujar Darmadi.
Ia menambahkan, Sobokartti secara konsisten menyelenggarakan evaluasi tari sebagai upaya menjaga mutu pendidikan seni sekaligus memperkuat regenerasi penari. Melalui penilaian aspek wiraga, wirama, dan wirasa, peserta diharapkan tumbuh menjadi penari yang tidak hanya terampil, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap tarian.
Dukungan terhadap keberlangsungan Sobokartti juga disampaikan Lurah Kebon Agung, Hepi Kumalasari,ST, yang hadir membuka kegiatan. Menurutnya, Sobokartti telah menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Kota Semarang sekaligus ruang pembentukan karakter generasi muda melalui pendidikan seni.
“Kami berharap Sobokartti terus eksis, semakin maju, dan tetap menjadi rumah bagi para seniman serta generasi muda untuk belajar dan mencintai seni budaya Indonesia. Pemerintah Kelurahan Kebon Agung siap memberikan dukungan agar warisan budaya ini tetap hidup dan lestari,” kata Happy Fauziah.
Dalam sesi evaluasi, dewan juri Endik Guntaris menyoroti masih adanya sejumlah aspek teknis yang perlu ditingkatkan oleh peserta. Menurutnya, keseimbangan tubuh saat melakukan perpindahan gerak, lompatan, serta sinkronisasi antara gerak kaki, tangan, kepala, dan arah pandangan masih menjadi catatan penting.
“Latihan olah tubuh sebaiknya dibangun sejak usia dini. Ketika fondasi fisik sudah kuat, peserta akan lebih mudah menerima materi tari yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya estetika gerak dalam tari kreasi maupun tari bertema fauna. Menurutnya, seorang penari harus mampu menghadirkan keselarasan antara teknik dan ekspresi sehingga karakter tari dapat tersampaikan kepada penonton.
Endik memberikan apresiasi terhadap penampilan peserta usia anak yang dinilainya justru mendominasi penampilan terbaik pada hari kedua evaluasi. Ia melihat banyak penari cilik memiliki energi, keberanian, dan kualitas teknik yang menjanjikan.
Namun demikian, ia mengingatkan para pelatih agar proses latihan dilakukan secara merata dengan melakukan rotasi posisi penari depan dan belakang. Cara tersebut dinilai mampu meningkatkan kemampuan seluruh anggota sanggar secara seimbang.
Sementara itu, dewan juri Siwi Wahyuningsih menilai pembelajaran tari tidak cukup berhenti pada penguasaan teknik gerak. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah, filosofi, karakter musik, serta latar budaya setiap tarian harus menjadi bagian dari proses latihan.
“Ketika mempelajari Tari Banyuwangi, misalnya, peserta perlu memahami karakter Tari Gandrung, sejarahnya, iringan musiknya, hingga rasa tari tersebut. Jangan sampai semua tari dibawakan dengan rasa yang sama, karena setiap daerah memiliki karakter budaya yang berbeda,” ujar Siwi.
Ia mendorong para pelatih membiasakan peserta memperkaya literasi melalui buku, dokumentasi pertunjukan, maupun media digital agar wawasan mengenai tari Nusantara semakin luas. Dengan demikian, penari tidak hanya mampu menampilkan gerak yang benar, tetapi juga menghadirkan penghayatan yang sesuai dengan identitas budaya masing-masing daerah.
Menurut Siwi, antusiasme peserta, khususnya kelompok usia anak, menjadi modal penting bagi regenerasi seni tari tradisional. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, ia optimistis akan lahir generasi penari yang mampu menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia.
Persaingan pada kompetensi hari kedua berlangsung cukup ketat. Pada Kelas A1, Quensha berhasil meraih Juara I melalui Tari Belibis Seta dengan nilai 774, disusul Ammara Azzahra Rizta melalui Tari Gebyar dengan nilai 770, serta Cristina Azzahra N. melalui Tari Eca Ece dengan nilai 769.
Pada Kelas A2, Najma Aqila menjadi peraih nilai tertinggi melalui Tari Jaimasan dengan skor 771. Posisi kedua ditempati Refania Anindita W. melalui Tari Kepyar dengan nilai 767, sedangkan Ima meraih peringkat ketiga dengan Tari Jaimasan bernilai 765.
Adapun pada Kelas B, Jasmin Asyla Rahma tampil sebagai juara melalui Tari Punjari dengan nilai tertinggi 794. Peringkat kedua diraih Yasmina Khairunnisa melalui Tari Gado-Gado Semarangan dengan nilai 765, sementara Jihan Alifatunnisa menempati posisi ketiga dengan nilai 760.
Melalui evaluasi ini, Sobokartti kembali menegaskan perannya sebagai lembaga pelestari seni tari yang tidak hanya mengembangkan kemampuan teknis penari, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap nilai-nilai budaya Nusantara. Regenerasi yang dibangun melalui pembinaan berjenjang diharapkan mampu melahirkan penari-penari muda yang memiliki kompetensi, karakter, dan pemahaman budaya yang kuat di tengah perkembangan zaman. (Christian Saputro,)




