SEMARANG — Sebelum gemuruh gamelan memecah hening di Gedung Ki Narto Sabdho, ada keheningan lain yang harus dihadapi terlebih dahulu. Di TPU Bergota, Semarang, keluarga besar Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo berziarah ke makam para pendiri dan maestro mereka. Di sana, di antara nisan-nisan tua, mereka tidak hanya menabur bunga, tetapi juga memohon restu agar nyala api tradisi tidak padam ditelan zaman. Ziarah ini bukan sekadar ritual tahunan; ia adalah jangkar yang menahan laju waktu, mengingatkan bahwa setiap langkah di atas panggung hari ini berdiri di atas pundak mereka yang telah tiada.
Usai dari kuburan, napas panjang ditarik di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Pada Rabu, 1 Juli 2026, syukuran HUT ke-89 digelar dengan kehangatan yang jarang ditemukan di perayaan institusi modern. Pemotongan tumpeng oleh Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Ratri Nugrahaning Widayanti, menjadi simbol kesederhanaan yang sakral. Hadir Prof. Dhanang Respati Puguh, putra almarhum Ki Narto Sabdho, yang kehadirannya seolah membawa kembali arwah sang maestro ke tengah-tengah anak-anak didiknya.
“Perjalanan panjang ini merupakan bukti dedikasi luar biasa,” ujar Ratri dalam sambutannya. Namun, di balik kata-kata apresiasi pemerintah itu, tersimpan beban sejarah yang berat. Ngesti Pandowo bukan sekadar aset budaya atau kebanggaan kota; ia adalah entitas hidup yang telah bernapas selama hampir
sembilan dekade. Ia lahir pada 1 Juli 1937 di Madiun dari tangan Sastro Sabdho, tumbuh menjadi raksasa di Semarang, dan mencapai puncak kejayaannya pada era 1960-an hingga awal 1970-an. Masa ketika tata panggungnya menjadi rujukan nasional, ketika iringan gamelannya mengundang decak kagum Presiden Soekarno di Istana Negara, dan ketika penghargaan Wijayakusuma tahun 1962 mengukuhkan statusnya sebagai mahakarya bangsa.
Namun, kemegahan masa lalu adalah pedang bermata dua. Ketua WO Ngesti Pandowo, Djoko Muljono, menyadari betul bahwa usia 89 tahun bukanlah jaminan kelanggengan. “Ini adalah hasil perjuangan para pendiri,” katanya dengan nada rendah. Doanya dalam bahasa Jawa—Mugi-mugi Ngesti Pandowo tetep lestari saha ngrembaka—bukanlah permohonan pasrah, melainkan ikrar ketahanan. Ia tahu persis bahwa warisan leluhur hanya bisa bertahan jika terus diremas oleh tangan-tangan baru.
Tangan-tangan baru itu kini berada di bahu Sutradara Budi Lee. Baginya, regenerasi bukan tentang mengganti pemain lama dengan yang muda, melainkan tentang menerjemahkan nilai luhur ke dalam bahasa yang dimengerti generasi sekarang tanpa kehilangan roh aslinya. “Tugas kami bukan hanya mempertahankan keberadaan, tetapi menghadirkan pertunjukan yang relevan,” tegas Budi Lee. Relevansi inilah yang membuat Ngesti Pandowo tetap bernapas meski gedung pertunjukannya berpindah-pindah dan selera hiburan masyarakat berubah drastis. Adaptasi melalui media digital, kolaborasi lintas komunitas, dan pertunjukan edukatif adalah cara mereka berkata: “Kami masih ada, dan kami masih berbicara.”
Puncak perayaan akan tiba pada 17–19 Juli 2026. Lakon “Wahyu Purbo Sejati” yang disutradarai Budi Lee, dengan koreografi Paminto Krisna dan musik Sugiyanto (Githung Swara), akan menjadi ujian sekaligus pembuktian. Kehadiran Wali Kota Semarang dan Forkopimda sebagai bintang tamu hanyalah pelengkap; esensi sesungguhnya terletak pada apakah penonton muda masih mampu merasakan getaran spiritual yang sama seperti yang dirasakan penonton tujuh dekade silam.
Ngesti Pandowo, pada usianya yang ke-89, telah melampaui definisi kelompok seni pertunjukan. Ia adalah institusi memori kolektif. Di antara debu makam di Bergota dan cahaya lampu sorot di TBRS, ia mengajarkan bahwa tradisi bukanlah benda mati yang dipajang di museum. Tradisi adalah api yang harus terus diberi umpan, dijaga dari angin perubahan, dan diteruskan kepada tangan-tangan yang belum pernah mengenal dinginnya malam tanpa wayang.
Mangayubagya HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo. Semoga ziarah di pagi hari itu terus menjadi kompas, agar di tengah hiruk-pikuk modernitas, nyala tradisi tak pernah benar-benar padam.
(Christian Saputro)




