Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Di tengah riuh rendah tawa dan sapaan hangat para alumni SEBA Polsuk Angkatan 1988/1989 di kawasan wisata Eling Bening, Ambarawa, ada sebuah sudut yang hening namun memikat. Di sana, aroma cat minyak bercampur dengan sejuknya udara pegunungan Semarang. Bukan suara mesin atau derap sepatu boot yang terdengar, melainkan desis halus kuas yang menyapu kanvas. Asep Leoka, pelukis senior asal Kaliwungu, sedang “berbicara” melalui warna.
Minggu (5/7/2026) itu, seni rupa bukan sekadar pajangan dinding, melainkan magnet yang menyedot perhatian ratusan peserta reuni. Asep menghadirkan 17 karya pilihannya, namun sorotan utama tertuju pada demonstrasi live painting yang dilakukannya di hadapan publik. Dengan ketenangan seorang pertapa, ia mengangkat tema “Pesona Bahari Nusantara”. Di atas kanvas putih, perlahan-lahan lahir hamparan laut biru tua, langit yang membentang luas, dan dinamika kehidupan maritim Indonesia yang seolah hidup dan bernapas.
Bagi para alumni polisi yang terbiasa dengan disiplin keras dan hierarki kaku, menyaksikan proses kreatif Asep adalah sebuah jeda estetika yang menyegarkan. Mereka berdiri melingkar, mengamati bagaimana setiap goresan palet—teknik khas yang menjadi tanda tangan artistik Asep—membentuk realitas baru. Dari
sapuan kasar yang ekspresif hingga detail halus yang menangkap cahaya, penonton diajak menyelami proses kelahiran sebuah karya seni dari nol hingga utuh.
Asep Leoka bukanlah pendatang baru dalam dunia seni. Sejak 1983, ia telah mengabdikan diri sebagai pelukis otodidak. Gaya impresionismenya yang kuat tidak lahir dari bangku akademis seni murni, melainkan dari observasi langsung terhadap alam. Bagi Asep, alam adalah guru terbesar. Pegunungan Kendal, sawah-sawah hijau, sungai yang mengalir tenang, dan laut yang bergelora telah membentuk kepekaannya terhadap cahaya dan warna selama lebih dari empat dekade.
Kisah Asep dengan seni dimulai sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Kegemaran menggambar itu berkembang saat SMP, ketika ia mulai bereksperimen dengan cat air, sebelum akhirnya jatuh cinta pada karakter tebal dan tekstur kaya dari cat minyak. Menariknya, seni baginya bukan sekadar hobi mewah, melainkan tulang punggung kehidupan. Karya-karyanya telah dijual sejak ia masih SMA, membantu membiayai pendidikannya hingga lulus sebagai Sarjana Muda Teknik Elektro dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 1988—tahun yang sama dengan angkatan alumni yang sedang berkumpul itu.
Sejarah seolah berdialog dengan masa kini. Asep, yang lahir pada 3 Agustus 1965, telah melewati perjalanan panjang yang paralel dengan banyak kisah perjuangan. Pameran tunggalnya, “Jejak-Jejak Warna”, serta berbagai pameran bersama lainnya, telah menempatkan karyanya dalam koleksi pribadi maupun institusi, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, bagi Asep, validasi tertinggi bukanlah harga lelang atau pujian kritikus, melainkan kemampuan kanvas untuk merekam keindahan Nusantara dan menyampaikan pesan kemanusiaan.
Kehadiran Asep di reuni SEBA Polsuk 1988/1989 membawa dimensi baru. Acara yang bertema “Menjalin Silaturahmi” itu tidak hanya diperkaya oleh nostalgia masa dinas, tetapi juga oleh apresiasi terhadap keindahan. Seni menjadi jembatan emosional lain, selain ikatan profesi. Dalam ruang kebersamaan di Eling Bening, persaudaraan antar-alumni bertemu dengan kecintaan terhadap budaya, menciptakan harmoni yang langka.
Saat karya bahari terakhir Asep selesai, tepuk tangan pecah. Bukan hanya karena kekaguman pada teknik, tetapi karena penghormatan terhadap seorang seniman yang konsisten menjaga api kreativitasnya tetap menyala. Di tengah kerumunan mantan penegak hukum, Asep Leoka mengingatkan bahwa selain kekuatan fisik dan disiplin, bangsa ini juga membutuhkan kelembutan rasa dan keindahan visual untuk tetap utuh. Kanvasnya telah berbicara, dan pesannya terserap dalam diam, sejalan dengan deburan ombak imajinasi yang baru saja ia lukiskan.(*)




