JAKARTA — Delegasi Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences dari China menjajaki peluang kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengelolaan limbah industri, pemulihan kawasan bekas tambang, hingga pengembangan teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik. Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, yang berlangsung sekitar 90 menit.
Pertemuan diawali dengan pemaparan dari Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Prof. Nunung Nuryartono, serta perwakilan delegasi Hubei, Liu You-gang dan Cai Jun-xiong. Kunjungan itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan akademik delegasi China di Indonesia yang juga mencakup kunjungan ke Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia.
“Kami datang ke BRIN dan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia sebagai bagian dari kegiatan akademik di bidang eco-environmental sciences atau ilmu lingkungan,” kata Liu You-gang.
Menurut Liu, salah satu tujuan utama kunjungan adalah mempelajari praktik pengelolaan limbah industri di Indonesia. Persoalan limbah industri, kata dia, menjadi tantangan global seiring meningkatnya produksi manufaktur yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan apabila tidak dikelola secara bertanggung jawab.
Selain itu, delegasi Hubei juga ingin memperoleh gambaran mengenai upaya pemulihan kawasan bekas tambang logam non-ferrous, seperti tambang nikel dan bauksit, yang kini menjadi salah satu isu penting dalam pengelolaan sumber daya alam.
“Kami ingin mendengar langsung bagaimana proses pengelolaan dan pemulihan kawasan bekas tambang logam non-ferrous di Indonesia serta teknologi yang telah diterapkan,” ujar Liu.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nunung Nuryartono memaparkan sejumlah inovasi yang tengah dikembangkan BRIN, termasuk teknologi pirolisis yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar cair melalui proses pemanasan tanpa oksigen. Teknologi tersebut dinilai memiliki potensi mendukung pengembangan energi alternatif sekaligus mengurangi timbunan sampah plastik.
“Dari teknologi pirolisis, BRIN dapat merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan. Namun implementasinya memerlukan koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Nunung.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Ario Betha, menilai kerja sama dengan Hubei Provincial Academy juga berpotensi dikembangkan pada bidang daur ulang baterai kendaraan listrik.
Menurut Ario, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, termasuk produk asal China seperti Wuling dan BYD, harus diikuti dengan kesiapan sistem pengelolaan limbah baterai yang aman dan berkelanjutan.
“Kita harus mulai memikirkan penanganan dan pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik sejak sekarang. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang kerja sama riset,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Liu You-gang menjelaskan bahwa China telah membangun sistem industri daur ulang baterai kendaraan listrik yang terintegrasi. Baterai yang kapasitasnya telah turun di bawah 80 persen wajib memasuki proses daur ulang sesuai regulasi yang mengatur seluruh siklus hidup baterai, mulai dari produksi, penggunaan, hingga pengolahan kembali.
“Di China sudah ada industri yang mampu melakukan daur ulang baterai hingga 100 persen. Saat ini juga banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di China dan meneliti pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik,” kata Liu.
Selain berdialog dengan BRIN, delegasi Hubei juga melakukan pertemuan dengan Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, jajaran bidang pendidikan internasional, para peneliti, dan akademisi ilmu lingkungan. Rangkaian kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penguatan kolaborasi riset Indonesia–China dalam pengembangan teknologi lingkungan, ekonomi sirkular, dan pembangunan berkelanjutan. +Christian Saputro/SL)




