YOGYAKARTA — Di tengah dominasi drone yang kian presisi dan otomatis, ada sebuah medium fotografi udara yang memilih jalan sunyi namun puitis: layang-layang. Kite Aerial Photography (KAP), atau fotografi udara berbasis layang-layang, kembali diperkenalkan sebagai alternatif kreatif yang ramah lingkungan sekaligus sarat nilai edukasi. Melalui pameran dan lokakarya yang digelar di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) pada Selasa (7/7/2026), teknik lawas ini ditawarkan kepada mahasiswa dan masyarakat sebagai bentuk eksplorasi seni visual yang berbeda.
Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bagian integral dari rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 yang akan memuncak di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli mendatang. Digelar hingga 9 Juli, acara ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata serta Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, menandakan bahwa KAP kini dianggap sebagai aset budaya dan ekonomi kreatif yang layak dilestarikan.
Momen pembukaan ditandai dengan penandatanganan kerja sama strategis antara Angkasa Satu, selaku penyelenggara JIKF 2026, dan UKDW. Sinergi ini menjadi fondasi bagi pengembangan pendidikan seni dan budaya yang beririsan dengan teknologi kreatif.
RDA Yuristianto, Ketua Angkasa Satu, menyadari bahwa KAP masih terasa asing di telinga banyak orang Yogyakarta. Baginya, ruang edukasi seperti ini krusial untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
“Mahasiswa memiliki kreativitas tinggi dan keterbukaan terhadap inovasi. Kami ingin memperlihatkan bahwa fotografi udara tidak selalu identik dengan baling-baling drone dan baterai lithium,” ujar Yuristianto. “KAP membuktikan bahwa kita bisa memanfaatkan energi angin—sumber daya alam yang gratis dan tak terbatas—untuk menciptakan karya.”
Perbedaan mendasar antara KAP dan drone terletak pada filosofinya. Jika drone mengandalkan stabilitas elektronik dan kecerdasan buatan, KAP menuntut dialog fisik antara fotografer dan alam. Kamera dipasang pada rangka layang-layang khusus, dan kestabilan gambar bergantung sepenuhnya pada kemampuan menerbangkan layang-layang melawan arus angin. Hasilnya adalah citra udara yang mungkin kurang tajam secara teknis, namun kaya akan karakter artistik dan “jiwa” yang sulit direplikasi mesin.
Lokakarya tersebut menghadirkan dua pakar utama: Dr. Ir. Martinus, S.T., M.Sc., peneliti Auto Kite Aerial Photography, dan Ir. Anshori Djausal, M.T., praktisi sekaligus pengembang KAP Indonesia. Mereka tidak hanya membagikan sejarah perkembangan KAP global, tetapi juga mendemonstrasikan pengambilan gambar secara langsung.
Anshori menekankan bahwa potensi KAP melampaui batas seni murni. “Teknologi ini bisa digunakan untuk penelitian lingkungan, dokumentasi kawasan, pemetaan sederhana, hingga media pendidikan,” jelasnya. Selain emisinya nol, KAP menawarkan perspektif visual yang organik, seolah mata penonton ikut terbawa melayang bersama layang-layang.
Apresiasi datang dari Wakil Rektor I UKDW, Dr. Rosa Delima, S.Kom., M.Kom. Ia melihat kolaborasi ini sebagai pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami bahwa inovasi tidak selalu berarti hal yang canggih dan mahal.
“Kegiatan ini memperkaya kreativitas mahasiswa dalam menciptakan karya visual yang inovatif, sekaligus mengajarkan mereka untuk menghargai teknologi sederhana,” kata Rosa.
Pembelajaran berbasis kolaborasi terlihat jelas dari keterlibatan Unit Kegiatan Mahasiswa Duta Wacana Photography (DWPh) dan Program Studi Desain Produk UKDW. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga eksekusi acara.
Daya tarik kegiatan ini bahkan melampaui batas nasional. Shameem, seorang peserta asal Lebanon, hadir untuk menyerap ilmu KAP di Yogyakarta. Ia berharap tradisi ini dapat terus berkembang dan suatu hari nanti bermuara pada ajang kompetisi internasional yang bergengsi.
Bagi masyarakat umum yang ingin merasakan atmosfer unik ini, Pameran Kite Aerial Photography terbuka di Atrium Gedung Agape UKDW hingga 9 Juli 2026. Pengunjung dapat menyaksikan hasil foto udara yang memukau beserta perangkat KAP yang menjadi “senjata” para fotografernya.
Pada akhirnya, upaya reintroduksi KAP ini ingin menegaskan satu pesan: layang-layang bukan sekadar mainan masa kecil atau artefak museum. Ia adalah medium hidup yang memadukan seni, budaya, teknologi, dan inovasi. Menjelang JIKF 2026, KAP diharapkan tidak hanya menjadi nostalgia, melainkan bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan—mengingatkan kita bahwa untuk melihat dunia dari ketinggian, kadang kita tidak perlu mesin yang rumit, cukup seutas tali dan angin yang bersahabat. (Christian Saputro)




