Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Fotografi udara hari ini identik dengan drone. Tinggal menekan tombol, layar menampilkan apa yang dilihat kamera dari langit. Akurat, instan, dan serba otomatis. Namun jauh sebelum baling-baling listrik memenuhi udara, ada segelintir orang yang memilih jalan yang jauh lebih sunyi. Mereka menerbangkan kamera dengan seutas tali, menggantungkan harapan pada hembusan angin, dan menyerahkan sebagian hasil pekerjaannya kepada nasib. Salah satunya adalah Wahyu Jatmiko.
Pada awal 2000-an, ketika drone masih sebatas mimpi teknologi, Wahyu telah mempraktikkan Kite Aerial Photography (KAP)—fotografi udara menggunakan layang-layang. Saat itu, ia bekerja sebagai staf IT di Universitas Lampung (1999–2006), sebuah profesi yang akrab dengan logika biner dan kepastian kode. Namun di luar jam kerja, Wahyu justru terjun ke dunia yang penuh ketidakpastian: langit. Baginya, langit bukan ruang yang harus ditaklukkan, melainkan sahabat yang harus dipahami. “Latihan pertama dalam KAP bukan menerbangkan layangan,” katanya. “Tetapi belajar sabar menunggu angin.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Padahal di baliknya tersimpan filosofi panjang. Sebab dalam KAP, manusia tidak pernah benar-benar berkuasa. Anginlah yang menentukan apakah kamera akan terbang atau tetap tergeletak di tanah. Tak ada jadwal pasti. Tak ada tombol take off. Yang ada hanyalah membaca awan, merasakan arah angin, lalu menunggu dengan kesabaran yang nyaris meditatif.
Wahyu bukanlah pionir yang berjalan sendirian. Ia adalah bagian dari tim KAP di bawah komando Ir. Anshori Djausal, seorang pengembang KAP Indonesia yang visioner. Di bawah bimbingan Anshori, Wahyu menjelajahi berbagai bentang alam Nusantara untuk mendokumentasikan wajah Indonesia dari sudut pandang yang jarang dilihat. Bendungan Batutegi ketika masih dikelilingi bentang hijau. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan denyut aktivitas maritimnya. Segara Anakan di Nusakambangan yang rumit seperti anyaman akar bakau. Karang Basa di Laut Jawa. Bahkan kawasan pembangunan awal Masjid Agung Natuna sebelum menjelma menjadi salah satu ikon di perbatasan Indonesia.
Setiap foto lahir dari perjuangan yang tak pernah sama. Kadang ia harus mencari lapangan luas yang aman, jauh dari kabel listrik, tetapi tetap sesuai arah angin agar objek masuk ke dalam bingkai. Kadang ia memotret dari pantai yang anginnya bersahabat. Di lain waktu, ia berdiri di perbukitan dengan turbulensi yang membuat layangan menari liar. Pernah pula ia memotret dari atas kapal nelayan yang sempit, bergoyang mengikuti ombak. “Kondisi di lapangan tidak pernah sama. Bahkan lokasi yang sama, pada hari berbeda, bisa menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda.” Begitulah KAP mengajarkan satu hal: improvisasi.
Namun, improvisasi di langit sering kali beririsan dengan ketegangan tinggi. Ada dua momen yang paling membekas dalam ingatan Wahyu, momen di mana batas antara seni dan bahaya terasa begitu tipis.
Pertama, saat memotret di Segara Anakan, Nusakambangan. Kabut tebal turun tiba-tiba, menyelimuti seluruh area. Layang-layang dan kamera yang tergantung di ujung tali lenyap ditelan awan putih pekat. Wahyu hanya bisa memegang tali, merasakan getaran halus yang mengindikasikan bahwa kameranya masih melayang di suatu tempat di atas sana, namun buta secara visual. Ia harus mengandalkan insting dan perasaan terhadap tarikan angin, sebuah kepercayaan buta pada alam yang mencekam sekaligus magis.
Momen kedua terjadi di Natuna. Saat itu, Wahyu sedang asyik menerbangkan layang-layang untuk mengabadikan kawasan strategis. Tiba-tiba, sekelompok tentara mendekat dengan wajah serius. Mereka memerintahkan Wahyu segera menurunkan layang-layangnya karena dianggap terlalu dekat dengan pangkalan Angkatan Udara dan berpotensi mengganggu keamanan. Masalahnya, angin saat itu sedang kencang. Menurunkan layang-layang Rokaku berukuran dua meter dengan daya angkat besar bukanlah perkara instan; butuh teknik dan waktu agar tidak jatuh menghantam sesuatu atau melukai orang. Dalam tekanan sorotan senjata dan perintah tegas, Wahyu harus tetap tenang, mengendalikan tali dengan presisi, sambil menjelaskan situasi dengan hati-hati. Itu adalah pelajaran tentang diplomasi di tengah angin kencang: tetap teguh pada prosedur keselamatan meski keadaan mendesak.
Kesalahan kecil dalam KAP memang bisa berharga mahal. Tarikan tali Rokaku sangat kuat. Tanpa sarung tangan, karabiner, dan perlengkapan keselamatan yang memadai, tali dapat melukai tangan, bahkan berisiko memutus jari. Di langit, romantisme selalu berjalan berdampingan dengan bahaya. Wahyu pernah mengalami kehilangan angin secara tiba-tiba. Layangan kehilangan daya angkat. Kamera yang tergantung di bawahnya jatuh ke sungai. Beruntung semuanya masih bisa diselamatkan. Namun pengalaman itu menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki kata terakhir.
Yang paling mendebarkan justru bukan badai. Melainkan beberapa menit sebelum badai datang. Ironisnya, di banyak tempat justru angin terbaik muncul sesaat sebelum hujan turun. Artinya, waktu memotret sangat sempit. Layangan harus segera diterbangkan ketika angin mulai menguat. Kamera harus bekerja cepat. Lalu semuanya harus segera diturunkan sebelum hujan pertama jatuh, apalagi jika awan mulai mengandung petir. “Rasanya seperti berlomba dengan badai,” kenangnya. Adrenalin memuncak bukan karena mengejar gambar, tetapi karena menghitung detik.
Kala itu kamera digital belum lazim. Wahyu masih menggunakan film 35 milimeter. Tidak ada monitor. Tidak ada live view. Tidak ada jaminan hasil. Setiap gulung film hanya menyediakan 36 kesempatan. Tiga puluh enam kali menekan tombol. Tiga puluh enam kemungkinan berhasil atau gagal. Sudut pengambilan gambar ditentukan oleh insting. Arah kamera hanya berdasarkan perasaan. Bahkan mekanisme pelepas rana masih manual, menggunakan tuas yang menekan tombol shutter. Ketika film habis, seluruh layangan harus diturunkan hanya untuk mengganti gulungan baru. Karena itulah setiap hasil pencucian film selalu menghadirkan kejutan. Ada kegembiraan ketika bingkai tepat sasaran. Ada pula kekecewaan ketika objek justru meleset beberapa meter. Tetapi justru ketidakpastian itulah yang membuat setiap foto terasa hidup.
Peralatan pun dibuat sendiri. Rig atau dudukan kamera dirancang secara mandiri agar mampu berputar 360 derajat dan menunduk hingga 90 derajat. Tidak ada komponen canggih. Tidak ada suku cadang siap pakai. Kadang-kadang, karet gelang menjadi solusi paling efektif. “Yang penting berfungsi,” ujarnya sambil tertawa. Di tangan para pegiat KAP generasi awal, kreativitas sering kali lebih penting daripada kemewahan teknologi.
Setelah era KAP, pengalaman itu justru membuka pintu yang lebih tinggi. Antara 2004 hingga 2008, berkat ketajaman mata dan kepekaan terhadap angin yang ditempa di lapangan, Wahyu banyak dipercaya memotret dari helikopter untuk berbagai kebutuhan pemetaan dan dokumentasi industri. Di dalam kokpit, ia menyadari bahwa pelajaran terbesar ternyata sudah dipelajari ketika masih memegang tali layangan. Ia telah terbiasa menghitung sudut matahari, membaca arah cahaya, memperkirakan ketinggian ideal, menentukan jarak pemotretan, bahkan menghitung koordinat yang harus diberikan kepada pilot sebelum helikopter lepas landas. Sebab menyewa helikopter bukan perkara murah. Setiap menit penerbangan berarti biaya. Setiap putaran baling-baling harus menghasilkan gambar terbaik. Dan semua kemampuan itu, tanpa disadari, telah ditempa oleh seutas tali layangan yang dahulu ia genggam di bawah langit.
Hari ini, drone membuat fotografi udara menjadi pekerjaan yang jauh lebih mudah. Namun bagi Wahyu Jatmiko, teknologi hanyalah alat. Yang paling penting tetaplah mata yang mampu membaca lanskap, kesabaran menunggu cahaya, keberanian mengambil keputusan, dan kerendahan hati untuk menghormati alam. Sebab langit tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan. Ia hanya bisa dipahami. Dan mungkin, di situlah letak keindahan Kite Aerial Photography: bukan semata-mata tentang memotret bumi dari udara, melainkan tentang belajar bahwa untuk mencapai langit, manusia tetap harus bersahabat dengan angin. (*)




