Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Menjelang fajar, ketika embun masih menggantung di pucuk bambu dan suara ayam belum sepenuhnya memecah sunyi, halaman sesat adat mulai dipenuhi lelaki bersarung tapis. Mereka berdiri membentuk lingkaran. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Yang terdengar hanya denting Talo Balak, irama yang memanggil ingatan para leluhur.
Seorang lelaki melangkah ke tengah.
Tubuhnya tegak. Pandangannya lurus. Kedua telapak tangannya bergerak perlahan mengikuti tabuhan. Sesekali kakinya menghentak tanah dengan ritme yang terukur. Geraknya lembut, tetapi menyimpan tenaga. Anggun, namun berwibawa. Ia sedang igel—menari.
Namun di Lampung Utara, gerakan itu bukan sekadar tarian.
Ia adalah bahasa adat.
Ia adalah sumpah yang diucapkan tanpa kata.
Ia adalah perjalanan seorang manusia menuju martabatnya.
Di tengah masyarakat adat Lampung Pepadun, khususnya komunitas Abung dan Sungkai, Tari Igel telah hidup jauh sebelum istilah “warisan budaya” dikenal. Ia diwariskan bukan melalui buku atau sekolah tari, melainkan melalui ingatan kolektif keluarga, petuah para penyimbang adat, dan pengalaman langsung dalam setiap Begawi.
Setiap generasi belajar dengan cara menyaksikan.
Setiap gerakan dihafalkan lewat pengulangan.
Setiap makna diwariskan melalui laku hidup.
Karena itu, Tari Igel bukan sekadar kesenian. Ia merupakan institusi budaya yang hidup.
Dalam berbagai kampung adat, tarian ini hadir dengan sejumlah nama. Ada yang menyebutnya Igel Mepadun, Igel Sabai, Tigol, bahkan Nigel. Nama boleh berbeda, tetapi ruhnya tetap sama.
Semuanya berakar pada tradisi masyarakat Lampung Pepadun.
Dalam kajian antropologi, keberagaman penyebutan tersebut memperlihatkan dinamika kebudayaan lokal yang berkembang mengikuti wilayah penyebaran masyarakat adat. Tradisi tidak membeku dalam satu bentuk, tetapi beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Tari Igel kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari prosesi Begawi Adat, terutama dalam Mepadun, Turun Mandei, Cangget Agung, hingga pengambilan gelar adat Suttan.
Di sinilah tarian berubah menjadi ritus.
Bukan hiburan.
Melainkan legitimasi sosial.
Secara historis, masyarakat Lampung mengenal sistem kepemimpinan adat yang dibangun melalui struktur genealogis dan musyawarah. Gelar adat bukan hadiah, melainkan amanah sosial yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Dalam proses itulah Tari Igel memperoleh kedudukannya.
Seorang calon Suttan tidak cukup hanya dinobatkan melalui ucapan adat. Ia harus melewati serangkaian prosesi yang seluruhnya sarat simbol, termasuk menarikan Igel di hadapan para penyimbang.
Gerakan tubuh menjadi pengakuan.
Irama menjadi saksi.
Adat menjadi legitimasi.
Igel Mepadun biasanya dilaksanakan pada malam hingga menjelang subuh. Waktu itu dipilih bukan tanpa alasan. Dalam kosmologi masyarakat Lampung, pergantian malam menuju pagi melambangkan peralihan hidup—dari pribadi biasa menuju pemimpin adat yang memikul tanggung jawab baru.
Calon Suttan berada di tengah lingkaran.
Didampingi Lapan.
Dikelilingi para Suttan senior.
Setiap gerakannya menjadi penanda bahwa ia telah siap menerima kehormatan sekaligus beban menjaga adat.
Berbeda dengan Igel Mepadun, Igel Sabai tumbuh dalam suasana yang lebih komunal.
Ia hadir dalam Turun Mandei maupun Cangget Agung sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan antarkeluarga.
Di sana, tarian menjadi ruang bertemunya berbagai marga.
Orang-orang datang bukan hanya menyaksikan, tetapi ikut merawat hubungan sosial.
Dalam perspektif antropologi budaya, Tari Igel menjalankan fungsi integratif. Ia memperkuat solidaritas sosial, menegaskan identitas kolektif masyarakat Pepadun, sekaligus menjadi media transmisi nilai dari generasi tua kepada generasi muda.
Melalui tari, adat terus berbicara.
Penelitian mengenai Tari Igel beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tarian ini juga merupakan representasi maskulinitas masyarakat Lampung.
Kajian yang dipublikasikan dalam Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan (AJPP) pada 2025 menyebutkan bahwa Tari Igel merepresentasikan konsep kejantanan yang tidak identik dengan agresivitas, melainkan keberanian yang disertai pengendalian diri, kehormatan, tanggung jawab, serta kemampuan menjaga martabat keluarga dan masyarakat.
Karena itu gerakan Tari Igel tidak pernah meledak-ledak.
Tidak pula mempertontonkan kekuatan secara berlebihan.
Yang tampak justru keseimbangan.
Lembut tetapi kokoh.
Tenang tetapi berwibawa.
Dalam falsafah Lampung, seorang pemimpin bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri.
Igel menghadirkan filosofi itu ke dalam bahasa tubuh.
Kajian Institut Seni Indonesia Yogyakarta mengenai tradisi Cangget juga menunjukkan bahwa Igel merupakan pasangan yang tak terpisahkan dari berbagai upacara adat Lampung. Bila Cangget lebih banyak menghadirkan perempuan sebagai simbol keindahan dan kesuburan, maka Igel tampil sebagai representasi kepemimpinan laki-laki dalam struktur adat.
Keduanya saling melengkapi.
Seperti bumi dan langit.
Seperti adat dan kehidupan.
Di tengah modernisasi, Tari Igel menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Ruang-ruang adat semakin menyempit.
Generasi muda semakin akrab dengan budaya digital.
Namun justru di Lampung Utara, Igel terus bertahan.
Ia diajarkan dalam sanggar.
Diperagakan dalam festival budaya.
Ditampilkan pada berbagai Begawi.
Dan tetap menjadi syarat yang dihormati dalam prosesi adat.
Pelestarian ini bukan semata menjaga sebuah tarian.
Yang dipertahankan sesungguhnya adalah cara masyarakat Lampung memahami kehormatan, kepemimpinan, serta hubungan manusia dengan leluhur.
Kini, ketika Tari Igel diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Kabupaten Lampung Utara, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan bukan hanya pengakuan administratif.
Melainkan pengakuan bahwa di ujung utara Provinsi Lampung masih hidup sebuah peradaban yang menjadikan tubuh manusia sebagai kitab adat.
Bahwa setiap langkah kaki masih mengingatkan manusia kepada asal-usulnya.
Bahwa setiap ayunan tangan masih membawa pesan para leluhur.
Dan selama denting Talo Balak masih bergema di halaman sesat adat, selama itu pula Tari Igel akan terus menari.
Bukan sekadar untuk dipertontonkan.
Melainkan untuk menjaga martabat sebuah masyarakat.
Sebab di Lampung Utara, seseorang boleh berhenti menari.
Tetapi adat tak pernah berhenti bergerak.
Di Kotabumi, ingatan tentang Tari Igel masih tersimpan kuat dalam benak Nani Rahayu, pendiri Sanggar Cangget Budaya, Lampung Utara. Perempuan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan itu memilih mengabdikan masa pensiunnya untuk merawat kesenian tradisi dan benda cagar budaya.
Baginya, Tari Igel bukan sekadar rangkaian gerak yang indah dipandang mata.
“Igel adalah bagian dari kehidupan masyarakat adat Lampung Pepadun. Ia tidak pernah lahir sebagai tari pertunjukan. Sejak awal, ia adalah tari adat yang hidup bersama Begawi,” tuturnya.
Menurut Nani, masyarakat sering memahami Tari Igel hanya sebagai tarian laki-laki. Padahal, maknanya jauh lebih dalam daripada itu. Di dalam setiap gerakan tersimpan tata nilai masyarakat Lampung tentang penghormatan kepada leluhur, penghargaan terhadap kedudukan adat, sekaligus kesiapan seseorang memikul tanggung jawab sosial.
“Igel mengajarkan bagaimana seorang laki-laki harus bersikap. Gerakannya lembut, tetapi tegas. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh berlebihan. Semua ada aturannya. Karena yang dinilai bukan hanya indahnya gerak, tetapi juga kepribadian orang yang menari.”
Nani menjelaskan, dalam tradisi Pepadun dikenal dua bentuk utama Tari Igel, yakni Igel Mepadun dan Igel Sabai.
Igel Mepadun menjadi bagian penting dalam prosesi pengambilan gelar adat. Tarian ini dilakukan oleh calon Suttan yang didampingi Lapan dan dikelilingi para penyimbang adat sebagai bentuk pengesahan atas kedudukan adat yang baru disandang.
Sementara Igel Sabai hadir dalam rangkaian Turun Mandei maupun Cangget Agung, menjadi ruang perjumpaan masyarakat adat dalam suasana sukacita sekaligus penghormatan terhadap tatanan adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Menurut Nani, setiap gerakan dalam Tari Igel memiliki ukuran, etika, dan filosofi. Tidak ada gerakan yang dilakukan secara sembarangan. Bahkan arah pandangan, posisi telapak tangan, hingga langkah kaki memiliki makna tentang keseimbangan, kewibawaan, dan penghormatan.
“Itulah sebabnya Tari Igel tidak bisa dilepaskan dari adat. Kalau dipindahkan begitu saja ke panggung tanpa memahami konteksnya, yang terlihat mungkin hanya gerak tari. Padahal ruhnya ada pada upacara adat itu sendiri.”
Sebagai pelaku budaya, ia menyaksikan perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Banyak generasi muda Lampung mengenal berbagai tarian modern, tetapi mulai asing dengan tari yang menjadi identitas masyarakatnya sendiri.
Karena itu Sanggar Cangget Budaya yang dipimpinnya tidak hanya mengajarkan teknik menari, melainkan juga sejarah, filosofi, dan tata adat yang melahirkan Tari Igel.
“Bagi kami, melestarikan Tari Igel bukan sekadar menjaga koreografi. Yang jauh lebih penting adalah menjaga pengetahuan adat yang ada di balik setiap gerakannya. Kalau hanya geraknya yang diwariskan, sementara maknanya hilang, maka Tari Igel akan kehilangan jiwanya.”
Harapan itu kini menemukan momentumnya ketika Tari Igel diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Kabupaten Lampung Utara. Menurut Nani, pengakuan tersebut bukan sekadar pencatatan administratif, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap pengetahuan lokal yang telah bertahan selama berabad-abad.
“Tari Igel adalah identitas masyarakat Lampung Utara. Ia mengajarkan kehormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Saya berharap generasi muda tidak hanya bangga menarikan Igel, tetapi juga memahami nilai-nilai yang diwariskan para leluhur melalui tarian ini.”
Di tangan orang-orang seperti Nani Rahayu, Tari Igel tidak sekadar bertahan sebagai peninggalan masa lalu. Ia terus dihidupkan, diajarkan, dan diwariskan sebagai penanda bahwa kebudayaan hanya akan tetap hidup apabila masih ada manusia yang setia merawatnya.
Dan selama itu pula, setiap denting Talo Balak akan terus memanggil anak-anak Lampung untuk kembali mengingat asal-usulnya—bahwa martabat, sebagaimana diajarkan Tari Igel, selalu dimulai dari penghormatan kepada adat dan leluhur. ( Christian Saputro)




