Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro – penikmat Seni Rupa
Aula Gedung Budaya Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tidak lagi sekadar ruang beton berdinding putih pada Selasa pagi, 14 Juli 2026. Ia bertransformasi menjadi ekosistem hidup yang bernapas melalui warna, tekstur, dan suara. Ratusan karya seni—mulai dari lukisan cat air yang polos, patung kontemporer, instalasi interaktif, hingga video art—memadati setiap sudut ruangan. Namun, yang lebih mencuri perhatian bukanlah hanya benda-benda diam tersebut, melainkan jiwa-jiwa yang menciptakannya: mahasiswa calon guru, seniman profesional, siswa sekolah dasar, dan para penyandang disabilitas.
Mereka bertemu dalam satu atap, di bawah payung tema “Ekspresi Riang Gembira”, dalam ajang Education Art Festival (EAF) ke-5. Ini bukan sekadar pameran akhir semester. Ini adalah deklarasi bahwa seni bukan milik segelintir elit, melainkan hak asasi setiap manusia untuk berekspresi, termasuk mereka yang sering kali termarjinalkan.
Seni sebagai Laboratorium Empati
Di salah satu sudut aula, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tampak berjongkok, berdiskusi hangat dengan seorang siswa SD Islam Bilingual Annisa Semarang tentang cara mencampur warna biru dan kuning untuk menciptakan nuansa “senang”. Di sudut lain, karya-karya grafis digital mahasiswa PGSD Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) berdampingan harmonis dengan lukisan tangan teman-teman dari Yayasan Rumah Difabel.
Tidak ada sekat. Tidak ada hierarki. Yang ada adalah dialog visual yang setara.
Aulia Astadewi, Ketua Panitia EAF #5, menyebut fenomena ini sebagai inti dari festival tersebut. “Education Art Festival bukan sekadar pameran karya seni rupa. Ia adalah ruang belajar, ruang kolaborasi, dan ruang bertumbuh,” ujarnya.
Bagi mahasiswa calon guru, proses ini jauh lebih penting daripada hasil akhir karya. Mereka tidak hanya belajar menciptakan estetika, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam merancang, mengurasi, menata ruang, mempublikasikan, hingga menyelenggarakan pameran secara profesional. Sebuah simulasi dunia nyata sebelum mereka benar-benar terjun ke kelas-kelas sekolah.
Tema “Ekspresi Riang Gembira” dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah simbol perlawanan terhadap kekakuan. Dalam dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada target kurikulum dan angka, EAF hadir untuk mengingatkan bahwa kegembiraan adalah bahan bakar utama kreativitas. “Kami berharap setiap karya yang dipamerkan mampu menginspirasi masyarakat sekaligus menjadi bekal penting bagi mahasiswa kependidikan dalam membangun pembelajaran seni yang kreatif di sekolah,” tambah Aulia.
Melampaui Kompetensi Pedagogik
Dr. Siti Fitriana, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan UPGRIS Bidang Akademik, melihat geliat ini sebagai bukti konsistensi kampus dalam merawat budaya berkesenian. Baginya, kemampuan berkesenian bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan pokok bagi seorang pendidik abad ke-21.
“Mahasiswa PGSD memiliki profil lulusan sebagai pendidik sekaligus pengembang media pembelajaran. Seni rupa menjadi salah satu sarana paling efektif untuk melatih kreativitas tersebut,” tegasnya saat melakukan pengguntingan pita pembukaan, didampingi oleh para ketua program studi dan kurator pameran, Singgih Adi Prasetyo dan Rofian.
Siti menekankan bahwa sekolah-sekolah masa kini tidak lagi membutuhkan guru yang hanya bisa mentransfer ilmu. Mereka membutuhkan guru yang adaptif, inovatif, dan mampu menyentuh sisi emosional siswa melalui pendekatan seni. Pengalaman mengelola EAF, mulai dari kurasi hingga publikasi, menjadi modal berharga agar kelak para lulusan ini dapat menciptakan iklim belajar yang hidup dan inspiratif di mana pun mereka bertugas.
Prestasi Program Studi PGSD UPGRIS yang telah meraih akreditasi internasional, menurut Siti, harus diimbangi dengan kualitas lulusan yang semakin holistik. “Sekolah saat ini membutuhkan guru-guru yang kreatif. Dan kreativitas itu lahir dari keberanian berekspresi,” katanya.
Inklusivitas dalam Setiap Goresan
Salah satu kekuatan terbesar EAF #5 tahun ini adalah inclusivity-nya. Kehadiran Yayasan Rumah Difabel bersama para seniman undangan mempertegas tesis bahwa seni adalah medium yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang kondisi fisik atau latar belakang sosial.
Singgih Adi Prasetyo, Dosen Pendidikan Seni Rupa sekaligus kurator pameran, menjelaskan bahwa setiap karya yang terpajang adalah hasil eksplorasi panjang. Mahasiswa didorong untuk mengolah pengalaman pribadi, gagasan, imajinasi, dan keberanian bereksperimen dengan berbagai media.
“EAF bukan sekadar pameran hasil perkuliahan, tetapi menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa, seniman, anak-anak, dan masyarakat dalam satu ekosistem apresiasi seni,” papar Singgih.
Ia mencontohkan bagaimana interaksi antara mahasiswa dengan teman-teman difabel atau anak-anak SD membuka wawasan baru tentang perspektif. Seni mengajarkan mereka untuk melihat dunia bukan dari kacamata norma baku, melainkan dari kacamata kemungkinan. Bagi calon guru, ini adalah latihan empati tingkat tinggi. Mereka belajar bahwa setiap siswa memiliki “bahasa” unik untuk memahami dunia, dan tugas guru adalah menerjemahkan bahasa tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna.
Dialog Lintas Generasi
Selama dua hari penyelenggaraan (14–15 Juli 2026), Aula Gedung Budaya UPGRIS berubah menjadi ruang dialog kreatif. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk merasakan. Ada decak kagum saat melihat detail instalasi mahasiswa BK. Ada tawa riang saat melihat kelucuan ilustrasi siswa SD. Ada hening penuh hormat saat menyusuri karya-karya teman-teman difabel yang sarat makna perjuangan.
Lebih dari sekadar memamerkan karya, EAF #5 menegaskan peran strategis pendidikan seni dalam mencetak calon guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan spiritual. Mereka adalah generasi pendidik yang percaya bahwa kebahagiaan adalah hak setiap murid, dan seni adalah salah satu jalan termudah untuk mencapainya.
Ketika pengunjung meninggalkan aula dengan membawa pulang kenangan akan warna-warna cerah dan wajah-wajah ramah, tersisa satu pesan kuat: bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membiarkan setiap individu tumbuh dengan riang gembira, bebas, dan diterima apa adanya. Dan di sinilah, di tengah hiruk-pikuk kreasi, calon-calon guru Indonesia sedang belajar menjadi penjaga kegembiraan itu. (*)




