SEMARANG – Perjalanan artistik perupa Semarang, Yoyok Barokallah, kembali meraih apresiasi internasional. Kali ini, pujian datang dari Pan Han Bang, seorang seniman tea-ink kontemporer asal Taiwan, yang menyatakan kekagumannya terhadap konsistensi dan kedalaman karya Yoyok yang ia amati melalui media sosial.
Pan Han Bang menuturkan bahwa ia telah mengikuti perkembangan karya Yoyok dalam kurun waktu yang cukup lama. Baginya, ketekunan Yoyok dalam bereksplorasi—mulai dari sketsa sederhana hingga penggunaan berbagai media seperti cat air dan akrilik—menunjukkan kematangan artistik yang terbangun selama puluhan tahun.
“Melalui media sosial, saya dapat melihat perjalanan kreatif Yoyok secara utuh. Setiap karya menunjukkan kepekaan luar biasa dalam mengamati kehidupan dan kemampuan menerjemahkan suasana ke dalam warna serta garis,” ungkap Pan Han Bang.
Pan Han Bang menyoroti tiga aspek utama dari karya Yoyok yang membuatnya terkesan. Pertama, lukisan lanskap Yoyok dinilai memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan alam. Sapuan warna pada persawahan, pegunungan, dan langit tidak sekadar merekam bentuk fisik, tetapi berhasil menghadirkan perubahan cahaya dan atmosfer yang hidup. Kedua, tema perkotaan dalam karya Yoyok mampu menangkap dinamika ruang urban yang terus bergerak dengan tajam.
Namun, kesan paling mendalam bagi Pan Han Bang justru hadir pada seri potret biksu karya Yoyok. Ia menilai lukisan-lukisan tersebut melampaui kemiripan wajah; mereka memancarkan ketenangan batin dan keheningan spiritual yang menyentuh penikmat seni.
Bagi Yoyok Barokallah, yang telah menekuni dunia lukis sejak 1987, apresiasi lintas negara ini menjadi bahan bakar baru untuk terus berkarya. Ia memandang media sosial bukan hanya sebagai alat promosi, melainkan jembatan perjumpaan antarseniman yang memungkinkan karya Indonesia dikenal lebih luas di panggung global.
Pengakuan dari Pan Han Bang ini menegaskan bahwa kombinasi antara konsistensi, keberanian bereksperimen, dan kedekatan dengan realitas sehari-hari merupakan kekuatan utama yang membuat karya Yoyok Barokallah mampu menembus batas geografis dan meraih hati publik internasional. (Christian Saputro)




