SEMARANG – Puluhan aparatur dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Semarang mengikuti Workshop Tari Dug Dug Der II di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jumat (17/7/2026). Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian seni tradisi sekaligus rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo.
Workshop dibuka oleh Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Kota Semarang, Hanry Sugihastomo, yang menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen pemerintah dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya lokal.
Setelah membuka kegiatan, Hanry juga meninjau Pameran Foto Linimasa Delapan Dekade Ngesti Pandowo, yang menampilkan perjalanan sejarah salah satu kelompok wayang orang legendaris di Indonesia.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapat pelatihan langsung dari instruktur TIRANG Community. Mereka mempelajari teknik dasar, pola gerak, hingga filosofi Tari Dug Dug Der yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, ikon budaya masyarakat Semarang menjelang Ramadan.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Tidak hanya mempraktikkan gerak tari, mereka juga diajak memahami nilai-nilai kebersamaan, keberagaman, dan semangat gotong royong yang terkandung dalam tarian khas Kota Semarang tersebut.
Menurut panitia, workshop ini dirancang sebagai media edukasi budaya bagi aparatur pemerintah agar mampu menjadi duta pelestarian budaya di lingkungan kerja maupun masyarakat.
Kegiatan Workshop Tari Dug Dug Der berlangsung selama tiga hari, 17–19 Juli 2026, di TBRS Semarang dan terbuka untuk masyarakat umum dengan mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menghidupkan Budaya”.
Selain workshop, rangkaian HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni dari sanggar-sanggar di Kota Semarang. Pada hari pertama tampil antara lain Klub Merby dengan “Sebuah Cerita tentang Indonesia”, Millennial Uri-uri Budaya membawakan Tari Mutiara Nusantara, Sanggar Omah Biyung dengan Tari Truthuk, serta Sanggar Kusuma Wiratama yang menampilkan Tari Wirataya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Disbudpar Kota Semarang bersama Wayang Orang Ngesti Pandowo berharap seni tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus hidup, dipelajari, dan dikembangkan oleh generasi muda serta seluruh lapisan masyarakat.
Dengan menggabungkan edukasi, pertunjukan seni, dan pameran sejarah, peringatan HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo menjadi momentum memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang terus merawat identitas budaya sekaligus mendorong seni tradisi tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (Christian Saputro)




