SEMARANG – Sebelum kelas dimulai, Alliance Française de Semarang (AF Semarang) telah menggelorakan semangat. Bukan sekadar untuk belajar tata bahasa yang kaku, melainkan untuk menyambut tamu-tamu internasional dari Prancis yang akan segera memadati Kota Lumpia. Harapan itu bukan lagi angan-angan; pada Jumat sore, 24 Juli 2026, harapan tersebut menjelma menjadi kenyataan di sebuah ruang kelas yang hangat di Jalan Dr. Wahidin No. 54, Kaliwiru.
Di sana, Trial Class Bahasa Prancis berlangsung meriah. Belasan peserta dari beragam latar belakang—mulai dari sastrawan, budayawan, eksekutif perusahaan, hingga mahasiswa—duduk berdampingan. Mereka tidak datang sebagai murid yang takut salah, melainkan sebagai tuan rumah yang ingin menyiapkan diri sebaik mungkin.
Program ini merupakan bagian dari strategi AF Semarang dalam membekali masyarakat menjelang berbagai agenda internasional. Tujuannya jelas: membuka ruang perjumpaan budaya. Selama sekitar satu setengah jam, peserta diajak menyelami kosakata praktis, frasa percakapan sehari-hari (French for Survival), dasar-dasar pengucapan, hingga seluk-beluk budaya Prancis. Suasananya cair, penuh tawa, dan jauh dari kesan akademis yang mengintimidasi.
Direktur Alliance Française de Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, menjelaskan bahwa kelas pengenalan ini dirancang agar masyarakat memiliki “bekal sederhana” namun bermakna.
“Melalui kelas singkat ini, peserta mempelajari kosakata dan frasa praktis untuk percakapan sehari-hari, dasar-dasar pengucapan bahasa Prancis, serta pengenalan budaya Prancis. Bekal sederhana ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat ketika berinteraksi dengan tamu-tamu dari Prancis,” ujar Kiki.
Bagi banyak orang, bahasa Prancis sering dianggap sebagai bahasa yang sulit, penuh dengan aturan gramatikal yang rumit dan pengucapan yang membingungkan. Namun, Kiki mematahkan stigma itu. Menurutnya, kunci utamanya adalah pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan.
“Belajar bahasa Prancis itu mudah jika dimulai dengan cara yang tepat. Kami mengajarkan dari percakapan sehari-hari yang sederhana, sehingga peserta tidak perlu takut. Yang terpenting adalah berani mencoba dan terus berlatih,” katanya sambil tersenyum melihat antusiasme peserta.
Dan memang, keberanian itulah yang terlihat jelas di ruangan tersebut. Kelas perdana ini diikuti oleh nama-nama yang tidak asing di dunia budaya dan profesional Semarang. Hadir di antaranya sastrawan Triyanto Triwikromo, budayawan Gunoto Saparie, Ucik Fuadhiyah, Wahyudi dari PT KAI, Dinda Surya dari Praktik Psikologi Dinda Surya, Meliana dari PT Muncul Mekar, Felicia Lovely dari Tristar Culinary, Al Barra Damar dari SMA Sultan Agung 1 Semarang, Aulia Senandung Kinanthi dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), Agnetha Ekoputranto, serta Christian, seorang jurnalis.
Sejak awal kegiatan, suasana kelas berlangsung akrab layaknya sebuah arisan intelektual. Para peserta aktif mengikuti latihan pengucapan, memperkenalkan diri dalam bahasa Prancis, serta mempraktikkan berbagai ungkapan sederhana. Tawa dan canda beberapa kali pecah ketika peserta mencoba melafalkan kata-kata seperti “bonjour” atau “merci” dengan aksen yang masih kental Jawa atau Indonesia. Kegagalan kecil dalam pengucapan justru menjadi bahan lelucon yang mempererat keakraban.
Menurut Kiki, kemampuan menyapa, memperkenalkan diri, atau memahami ungkapan sederhana akan menjadi nilai tambah yang signifikan.
“Komunikasi akan terasa lebih hangat ketika kita berusaha menyapa dalam bahasa mereka. Itu bukan sekadar kemampuan berbahasa, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya tamu yang datang,” tuturnya.
Usai sesi pembelajaran yang padat, peserta diajak menikmati crêpe, kuliner khas Prancis yang manis dan lembut. Momen bersantap bersama ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempererat ikatan antarpeserta sebelum kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang ceria.
Melalui Trial Class Bahasa Prancis ini, Alliance Française de Semarang kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga kursus, tetapi sebagai pusat pembelajaran bahasa dan kebudayaan yang aktif membangun jembatan kerja sama internasional di Kota Semarang. Program ini diharapkan menjadi awal lahirnya masyarakat yang lebih siap, lebih terbuka, dan lebih ramah dalam menyambut berbagai kegiatan internasional.
Pada akhirnya, bahasa adalah pintu. Dan melalui kelas singkat ini, AF Semarang telah membantu warga Semarang membuka pintu tersebut sedikit lebih lebar, memastikan bahwa ketika tamu dari Prancis tiba, mereka tidak hanya disambut dengan senyum, tetapi juga dengan sapaan dalam bahasa mereka sendiri. Sebuah gestur kecil, namun dampaknya bagi diplomasi budaya bisa sangat besar. (Christian Saputro)




