SEMARANG — Siang itu, Gedung Rasa Dharma di kawasan Pecinan Semarang, Minggu 15 Februari 2026 tak hanya dipenuhi manusia, tetapi juga kenangan. Kursi-kursi tertata rapi, baskom-baskom berisi air bersih berjejer, handuk dilipat dengan saksama. Namun yang paling terasa justru sesuatu yang tak kasatmata: getar batin yang menggantung di udara.
Satu per satu anak berlutut di hadapan orang tuanya. Tangan-tangan yang dulu digenggam kini menggenggam kaki renta yang mulai keriput. Air dituangkan perlahan, menyentuh kulit yang telah lama berjalan mengarungi kehidupan. Dan ketika air itu mengalir, tangis pun pecah—lirih, lalu deras.
Tradisi “Bhakti Basuh Kaki Orang Tua” yang digelar oleh Boen Hian Tong kembali menjadi bagian dari perayaan Imlek tahun ini. Namun lebih dari sekadar agenda budaya, ia menjelma ruang perenungan di tengah zaman yang serba cepat. Di era ketika percakapan sering kalah oleh notifikasi dan tatap muka tergeser layar, ritual ini menghadirkan jeda. Hening. Tatap mata tanpa perantara.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menyebut prosesi ini sebagai simbol bakti yang konkret. Anak diajak berlutut, meminta maaf, berdoa, dan membasuh kaki orang tuanya. “Perjuangan orang tua sering kali tak terucap, tetapi nyata dalam setiap langkah kehidupan,” ujarnya.
Prosesi dipandu Ulin dan diawali doa oleh Wenshi Indriati Hadi Sumarto. Setelah tata cara diperagakan, para peserta mengambil posisi. Suasana berubah khidmat. Alunan biola mengalun pelan, seperti menuntun ingatan pulang ke masa kecil.
Puisi “Basuh Kaki” karya Harjanto Halim dibacakan. Larik-lariknya sederhana, tetapi menghunjam:
Sepasang kakimu telah lama berjalan…
Entah berapa sering engkau terbangun di malam buta…
Tak sekalipun engkau mengeluh…
Ijinkan aku membasuh lelahmu…
Kata-kata itu seperti membuka pintu kenangan yang lama terkunci. Tentang ibu yang terjaga saat anak demam. Tentang ayah yang pulang larut dengan tubuh lelah. Tentang kaki yang mengantar ke sekolah, ke wisuda, hingga ke pelaminan.
Ari, salah satu peserta, tak kuasa menahan tangis. Ia mengaku baru benar-benar menyadari besarnya pengorbanan sang ibu. “Kita diingatkan bahwa seorang ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kita,” ucapnya terbata.
Setelah membasuh kaki, anak melakukan gui atau sungkem, memohon restu dan ampun. Secangkir teh hangat disuguhkan sebagai simbol penghormatan. Pelukan pun terjadi—bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang merangkum rindu, penyesalan, dan cinta yang lama tak terucap.
Ketua Panitia Agung Kurniawan menilai tradisi ini menjadi momentum membangun kembali kedekatan keluarga. Di tengah kesibukan dan distraksi digital, prosesi sederhana itu mengingatkan bahwa fondasi relasi tetaplah hormat, empati, dan kasih sayang.
Menariknya, kegiatan ini tak hanya diikuti lintas etnis dan agama, tetapi juga menghadirkan 18 sahabat difabel dari Komunitas Kinasih Keluarga Inklusi dan HASBI. Di ruangan itu, tak ada sekat latar belakang maupun kondisi fisik. Semua berlutut dalam posisi yang sama: anak di hadapan orang tua.
Founder Komunitas Kinasih Keluarga Inklusi, Hertinawati, mengapresiasi langkah Boen Hian Tong yang membuka ruang partisipasi setara. Menurutnya, keterlibatan sahabat difabel bukan sekadar simbolis, melainkan pernyataan bahwa nilai kemanusiaan melampaui batas apa pun.
Di sudut lain ruangan, Linggayani Soentoro membasuh kaki ibunya dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Ia bersyukur masih diberi kesempatan memohon doa secara langsung. Lebih dari itu, ia mengajak anak-anaknya melakukan hal serupa kepada dirinya dan sang suami.
Baginya, bakti tak cukup diajarkan lewat nasihat. Ia harus dicontohkan. “Ketika satu generasi memberi teladan dan generasi berikutnya belajar merendahkan hati, di situlah keluarga menjadi sekolah pertama tentang cinta,” tuturnya.
Harjanto Halim mengingatkan, banyak tradisi Imlek yang perlahan bergeser menjadi seremonial belaka. Ia berharap ritual basuh kaki tidak berhenti pada momentum perayaan, tetapi hidup dalam keseharian—di Hari Ibu, saat Idul Fitri, Natal, atau bahkan di ulang tahun orang tua.
Sebab waktu tak pernah menunggu. Sepasang kaki yang hari ini dibasuh, esok mungkin tak lagi mampu berjalan.
Di balik kelancaran acara, panitia bekerja senyap. Lita dan Liliana Mutia menyambut tamu dengan senyum hangat, Fitrika mengabadikan setiap momen, sementara Wardiono, Sasa, Liliana Dirgo, dan tim perlengkapan memastikan setiap baskom, handuk, dan kursi tertata rapi. Detail-detail kecil itu memungkinkan lahirnya momen besar.
Acara ditutup dengan doa bersama dan makan siang dalam suasana kekeluargaan. Tawa kembali terdengar, tetapi mata banyak yang masih sembap.
Ritual itu mungkin selesai dalam hitungan jam. Namun bagi mereka yang berlutut dan membasuh, sesuatu telah berubah. Ada hati yang lebih ringan. Ada relasi yang diperbarui. Ada kesadaran bahwa di tengah dunia yang terus berlari, kasih orang tua tetap menjadi rumah yang tak tergantikan.
Membasuh kaki orang tua bukan sekadar membasuh debu perjalanan. Ia adalah cara menyentuh akar kasih—akar yang selama ini menopang kehidupan, tanpa pernah meminta balasan. (Christian Saputro)




