SEMARANG — Malam itu, Pecinan seperti menyala dari dalam dirinya sendiri. Lampion-lampion merah menggantung di sepanjang Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur, berayun pelan ditiup angin, seakan menjadi aksara cahaya yang menulis satu kalimat sederhana: kita berbeda, tetapi kita bersama.
Pasar Imlek Semawis 2026 kembali hadir sebagai denyut yang tak pernah benar-benar padam. Ribuan orang tumpah ruah. Wajah-wajah dengan latar belakang etnis dan agama yang beragam menyatu dalam lorong yang sama. Anak-anak berlari di antara stan UMKM, aroma lumpia dan cakwe berbaur dengan gudeg dan manisan. Musik dan tarian lintas budaya mengalun, menolak untuk dibatasi oleh sekat identitas.
Di tengah keramaian itu, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka tiba bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sekitar pukul 20.38 WIB. Kehadirannya menciptakan riak yang segera menjelma gelombang. Warga mengangkat gawai, memanggil namanya, ingin memastikan bahwa pemimpin negeri benar-benar berjalan di antara mereka—di lorong yang sama, di bawah lampion yang sama.
Gibran menyusuri pasar sepanjang kurang lebih 230 meter. Ia berhenti di sebuah lapak lumpia khas Semarang, menanyakan daya tahan makanan itu. “Bisa tahan sampai dua hari, Pak,” jawab si penjual. Beberapa porsi dibeli. Jus alpukat, cakwe, gudeg, hingga arum manis berbentuk Hello Kitty ikut masuk dalam belanjaannya. Tak lama, lapak-lapak yang disinggahi mendadak ramai. Ekonomi rakyat bergerak bukan lewat seminar, melainkan lewat percakapan dan langkah kaki.
Namun Semawis bukan sekadar transaksi. Ia adalah cerita panjang tentang perjumpaan.
Harjanto Halim dari Kopi Semawis menyebut pasar ini berawal dari kebiasaan warga Tionghoa berbelanja hingga larut malam menjelang Imlek. Dahulu hanya satu malam, kini menjadi tiga hari penuh perayaan inklusif.
“Pasar Imlek Semawis bukan sekadar perayaan budaya Tionghoa. Ini adalah ruang bersama, tempat kita belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan,” ujarnya.
Di panggung budaya, figur Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im berdampingan dengan karakter wayang Jawa. Mitologi Tiongkok bersalaman dengan kisah Nusantara. Sajian kuliner muslim Tionghoa dari Xinjiang memperkaya rasa, menegaskan bahwa tradisi selalu berlapis dan terus menemukan bentuk barunya.
Panitia bahkan mengimbau pengunjung mengenakan kebaya. Sebagian mengikuti, berjalan di bawah lampion dengan kain dan renda Nusantara. Simbol kecil, tetapi bermakna besar—bahwa kebudayaan tak perlu bersaing untuk diakui.
Bagi Harjanto, Pecinan adalah miniatur Indonesia. “Di Pecinan ini tidak ada sekat. Siapa pun bisa berdagang, siapa pun bisa berkembang. Selama rasanya enak dan harganya masuk akal, pembeli akan datang. Itu Indonesia yang sesungguhnya,” katanya.
Ia menambahkan, denyut ekonomi rakyat terasa nyata di Semawis. “Kalau UMKM bergerak, rakyat tersenyum. Semawis ini panggung kecil, tetapi dampaknya besar.
Pedagang kecil bisa merasakan langsung denyut ekonomi yang hidup.”
Di sela kunjungan, rombongan Wakil Presiden juga melihat kelenteng-kelenteng tua di kawasan itu, termasuk Klenteng Sam Poo Kong, yang berdiri sebagai penanda sejarah panjang komunitas Tionghoa di Kota Atlas. Dari dindingnya, sejarah seperti berbisik tentang pelayaran, perdagangan, dan percampuran yang melahirkan harmoni.
Harjanto mengingatkan, tradisi adalah warisan yang harus dirawat. “Memulai tradisi itu sulit. Butuh keberanian dan kepercayaan. Tapi yang lebih sulit adalah merawatnya agar tetap relevan dan dicintai lintas generasi.”
Baginya, Imlek di Semarang telah melampaui batas identitas. “Imlek di Semarang sudah menjadi milik bersama. Ini bukan lagi soal etnis, tapi soal kebersamaan.” ujar CEO PT Marimas Putra Kencana menandaskan.
Dan malam itu, di bawah gemerlap lampion, kalimat itu terasa nyata. Orang-orang berjalan tanpa bertanya siapa berasal dari mana. Toleransi tidak dikhotbahkan—ia dijalani. Ekonomi rakyat tidak digembar-gemborkan—ia bergerak.
Pasar Imlek Semawis 2026 bukan hanya pesta. Ia adalah cermin kecil Indonesia, tempat cahaya lampion menjelma bahasa kebersamaan, dan Semarang menuliskan ulang makna harmoni di ruang publiknya.
(Christian Saputro)




