SEMARANG — Denting piano elektronik memenuhi ruang showroom Suryaputra Musik pada Jumat sore (22/5/2026). Di hadapan puluhan musisi, pengarah musik gereja, komunitas kreatif, hingga pencinta keyboard profesional, Andi Bayou berdiri tegak di balik perangkat Nord Stage 4. Jemarinya menari di atas tuts, memainkan lapisan-lapisan bunyi yang mengalir sinematik, seolah membangun sebuah dunia baru dari ketiadaan.
Nada demi nada bergerak seperti percakapan intim antara teknologi dan emosi.
Melalui acara bertajuk “Alchemy of Sound: From Preset to Composition”, Suryaputra Musik menghadirkan pengalaman eksklusif yang tidak sekadar menjadi demonstrasi alat musik modern. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang berbagi perjalanan kreatif seorang musisi yang telah puluhan tahun hidup dan bernapas di industri musik Indonesia.
Acara yang digelar di showroom Suryaputra Musik, Jalan Gajahmada Nomor 162 Semarang, berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi instrumen, tetapi juga diajak menyelami proses kreatif di balik penciptaan musik modern—mulai dari pengolahan preset, desain suara (sound design), teknik layering, hingga membangun atmosfer musikal yang sinematik dan menyentuh jiwa.
Dalam sesi tersebut, Andi Bayou menjelaskan filosofi dasarnya: teknologi bukan pengganti musikalitas, melainkan medium baru untuk memperluas kemungkinan artistik.
“Nord itu berbeda karena ia bermain di kelas premium. Ia seperti flagship dalam dunia instrumen. Namun, kecanggihan alat tidak berarti apa-apa jika tidak diisi dengan rasa,” ujar Andi di hadapan para peserta yang menyimak dengan seksama.
Ia menguraikan bagaimana sistem tiga engine pada Nord Stage 4—yang mencakup organ, piano, dan synthesizer—membuat instrumen tersebut mampu menghadirkan fleksibilitas suara yang kompleks dan emosional dalam satu perangkat tunggal. Bagi Andi, perkembangan instrumen digital saat ini telah melampaui fungsi konvensional keyboard sebagai alat pengiring semata. Instrumen modern kini telah menjadi kanvas eksplorasi bunyi dan identitas musikal.
“Teknologi harus membantu musisi menemukan karakter unik mereka, bukan menggantikan rasa kemanusiaan di balik setiap nada,” tegasnya.
Nostalgia dan Akar Jawa
Selain membahas aspek teknis musik, acara tersebut berubah menjadi ruang nostalgia dan reuni bagi para musisi Semarang yang pernah terhubung dalam perjalanan karier Andi Bayou.
Dalam suasana santai, Andi mengenang kedekatannya dengan Semarang sejak pertama kali dipercaya menjadi produser Dream Band Semarang pada 2006. Momen itu menjadi titik balik hubungannya dengan kota ini.
“Saya tinggal sebulan penuh di Semarang waktu itu. Baru kemudian saya tahu, ternyata keluarga ayah saya juga berasal dari sini. Ada ikatan darah yang selama ini tak kusadari,” ujarnya, disambut tepuk tangan hangat peserta.
Kisah itu kian mendalam ketika Andi menceritakan perjalanan spiritualnya menelusuri makam leluhur keluarga besar di Kaliwungu, Kendal. Bagi seorang musisi yang kerap berkarya di ranah internasional, momen itu membuka kembali hubungan emosional dengan akar sejarah Jawa dan Semarang.
Cerita itu mengalir bersamaan dengan pengenalan karya-karya personalnya, seperti “Sunrise at Borobudur”, sebuah komposisi bernuansa spiritual yang lahir dari refleksi perjalanan hidup dan kedekatan dengan budaya Jawa.
“Sebelumnya, saya jarang membuat lagu dengan sentuhan budaya Jawa secara eksplisit. Tapi setelah pulang ke akar, saya seperti mendapat pencerahan. Musik menjadi media doa,” katanya.
Semarang: Kota Lahirnya Musisi Besar
Di sela acara, Andi juga mengenang kolaborasinya bersama sejumlah musisi Semarang yang pernah terlibat dalam produksi musik nasional, termasuk proyek-proyek besar bersama Glenn Fredly dan berbagai artis papan atas lainnya.
Nama-nama seperti Bintang Hanggoro Putra, Addie MS (yang memiliki keterkaitan erat dengan jaringan musisi Jawa Tengah), hingga para session player lokal disebut sebagai bagian dari jejaring musisi Semarang yang memiliki kontribusi besar, namun sering kali luput dari sorotan utama.
“Semarang itu tidak kalah dengan Jogja atau Jakarta dalam melahirkan musisi-musisi besar Indonesia. Kualitas musisinya sangat mumpuni, teknikalnya tinggi, dan rasanya dalam,” puji Andi.
Sementara itu, Owner Suryaputra Musik, Hendro Susanto, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme komunitas musik Semarang yang hadir.
“Kami sungguh tertarik melihat respons peserta. Setelah melihat langsung kualitas dan kemampuan Bapak-Ibu semua, kami yakin bahwa Semarang memiliki ekosistem musik yang sangat kuat. Terima kasih atas kepercayaan kepada Suryaputra Musik,” katanya.
Hendro mengungkapkan, Suryaputra Musik pada tahun sebelumnya berhasil meraih penghargaan penjualan terbaik untuk instrumen high-end, capaian yang menurutnya tidak lepas dari dukungan pelanggan setia, komunitas gereja, dan para musisi profesional yang terus tumbuh bersama mereka.
Dalam acara itu, Suryaputra Musik juga menghadirkan berbagai lini instrumen Nord dengan penawaran khusus, mulai dari seri Grand, Stage Compact, hingga Wave 2 yang banyak digunakan musisi profesional internasional.
Kolaborasi antara Andi Bayou dan Suryaputra Musik sekaligus memperlihatkan tumbuhnya ekosistem musik kreatif di Semarang yang semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi musik global, tanpa kehilangan jati diri lokalnya.
Di tengah industri musik yang bergerak cepat dan serba digital, acara semacam ini menjadi ruang penting bagi musisi muda untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring lintas generasi.
Dan sore itu, di tengah lapisan suara sintetis, denting piano elektrik, serta kisah-kisah perjalanan seorang musisi yang pulang ke akarnya, Semarang kembali menunjukkan dirinya sebagai kota yang tidak pernah benar-benar jauh dari musik. Ia adalah kota yang terus berdenting, menunggu untuk didengarkan. (Christian Saputro)




