Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Nama Boen Hian Tong jarang dicetak besar di halaman depan surat kabar Hindia Belanda. Ia lebih sering muncul di sudut-sudut halaman—tersembunyi di kolom berita kota, pengumuman kematian, atau catatan singkat mengenai arak-arakan jenazah. Namun, justru dari baris-baris kecil itulah, jejak sejarah sebuah komunitas kota dapat dibaca dengan paling jernih.
Sejak akhir abad ke-19, Boen Hian Tong tercatat berulang kali dalam arsip pers kolonial di Semarang. Rumah duka ini bukan sekadar tempat persemayaman terakhir, melainkan sebuah institusi sosial yang mengatur ritme hidup dan mati masyarakat Tionghoa di kota pelabuhan yang terus bergerak dinamis.
Kematian sebagai Berita Kota
Dalam koran-koran berbahasa Belanda seperti De Locomotief dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, nama Boen Hian Tong kerap disebut dalam rubrik stadsnieuws (berita kota) atau gemeentenieuws (berita gemeente). Penyebutannya cenderung ringkas dan administratif: mencatat siapa yang wafat, kapan prosesi berlangsung, jalur iring-iringan, serta imbauan terkait ketertiban lalu lintas.
Gaya penulisan ini mencerminkan cara pandang pers kolonial terhadap kematian: ia dilihat semata-mata sebagai peristiwa tata kota. Arak-arakan jenazah diperlakukan setara dengan pasar malam atau kunjungan pejabat—sesuatu yang perlu dicatat dan diatur agar tidak mengganggu “orde en rust” (ketertiban dan ketenangan).
Namun, di balik bahasa yang dingin dan birokratis itu, Boen Hian Tong tampil sebagai lembaga yang mapan. Panjangnya iring-iringan, banyaknya pelayat, dan durasi prosesi kerap menjadi indikator status sosial almarhum—sekaligus penanda kuatnya struktur komunitas Tionghoa di Semarang saat itu.
Ruang Solidaritas dalam Pers Melayu-Tionghoa
Nada yang berbeda muncul ketika menelusuri surat kabar Melayu-Tionghoa seperti Sin Po, Perniagaan, dan Warna Warta. Di sini, Boen Hian Tong tidak hanya hadir sebagai alamat pemakaman, tetapi sebagai ruang solidaritas.
Berita kematian sering kali disertai dengan kisah hidup almarhum, jasa-jasa sosialnya, serta ucapan belasungkawa dari berbagai perkumpulan. Rumah duka menjadi titik temu lintas marga, dialek, dan latar belakang ekonomi—tempat di mana komunitas mengikat ulang rasa kebersamaan.
Dalam arsip-arsip ini, Boen Hian Tong tampak sebagai jantung sosial yang berdenyut pelan namun pasti. Ia tidak berbicara tentang politik secara eksplisit, tetapi justru merawat kohesi sosial pada masa ketika identitas Tionghoa kerap diposisikan secara ambigu dalam struktur kolonial.
Negosiasi Ritual dan Tata Kota
Kehadiran Boen Hian Tong dalam berita juga kerap bersinggungan dengan urusan perizinan. Arak-arakan jenazah, bunyi musik ritual, dan penggunaan dupa tidak selalu sejalan dengan regulasi kota kolonial yang menekankan kebersihan, higiene, dan keteraturan modern.
Namun, konflik terbuka jarang sekali tercatat. Alih-alih konfrontasi, arsip menunjukkan adanya “negosiasi sunyi” antara pengurus rumah duka dan otoritas kota. Ritual tetap berlangsung, sementara pers mencatatnya sebagai peristiwa yang “telah diatur” dan “berjalan tertib”.
Di sinilah Boen Hian Tong berfungsi sebagai penengah: menjaga tradisi tetap hidup tanpa memicu gesekan terbuka dengan kekuasaan kolonial. Sebuah strategi diplomasi budaya yang halus namun efektif.
Menjelang Zaman Guncang
Memasuki dekade 1930-an hingga awal 1940-an, nuansa pemberitaan mulai berubah. Krisis ekonomi dunia (Great Depression), wabah penyakit, dan bayang-bayang Perang Dunia II membuat berita kematian terasa lebih sering dan lebih muram. Meski tetap ditulis secara singkat, kematian pada periode ini tidak lagi terasa sebagai rutinitas biasa.
Boen Hian Tong dalam arsip periode ini hadir sebagai tempat perlindungan simbolik—ruang di mana komunitas merawat duka kolektif di tengah ketidakpastian zaman. Ia menjadi saksi bisu pergolakan sejarah, jauh sebelum kata “kemerdekaan” benar-benar menjadi kenyataan politik.
Arsip Sunyi yang Bertahan
Jika dibaca sepintas, penyebutan Boen Hian Tong dalam koran-koran pra-kemerdekaan mungkin tampak remeh. Namun, ketika fragmen-fragmen tersebut dirangkai, mereka membentuk narasi panjang tentang kota, komunitas, dan cara manusia menghadapi kefanaan.
Rumah duka ini tidak pernah menjadi tokoh utama dalam sejarah besar, tetapi ia selalu ada—menyertai perubahan Semarang dari kota kolonial menuju kota bangsa. Dari kolom-kolom kecil koran tua, Boen Hian Tong muncul sebagai arsip hidup, tempat sejarah urban bersemayam dalam sunyi.
Mungkin di situlah letak maknanya: sejarah tidak selalu berteriak. Kadang, ia hanya berbisik, dari halaman-halaman kuning yang mencatat siapa yang berpulang, dan siapa yang masih bertahan hidup.
Semarang 25 April 2026




