SEMARANG – Semangat inklusi yang dibangun Yayasan Roemah Difabel Indonesia (YRDI) tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Sehari setelah Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) diresmikan oleh Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaidi, rangkaian syukuran dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi Syukur, pemberkatan gedung, serta pengajian yang digelar pada Sabtu (4/7/2026).
Dua kegiatan keagamaan tersebut menjadi simbol bahwa gerakan inklusi dibangun di atas semangat persaudaraan, penghormatan terhadap keberagaman, dan kolaborasi lintas iman dalam mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas.
Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Yesius Suyitno, SJ, dan dihadiri pengurus YRDI, penyandang disabilitas, relawan, mitra, serta para undangan. Dalam homilinya, Romo Yesius menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan sehingga masyarakat memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang yang adil bagi siapa pun tanpa memandang kondisi fisik.
Menurutnya, Griya Karya Inklusi bukan sekadar bangunan baru, melainkan rumah harapan yang memungkinkan penyandang disabilitas mengembangkan potensi, memperoleh keterampilan, dan hidup lebih mandiri.
“Yang dibangun bukan hanya gedung, tetapi harapan. Tempat ini diharapkan menjadi ruang yang menghadirkan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bertumbuh, berkarya, dan menjalani hidup secara lebih mandiri,” ujar Romo Yesius.
Rangkaian misa diakhiri dengan pemberkatan seluruh fasilitas Griya Karya Inklusi melalui doa dan percikan air suci sebagai simbol penyerahan karya pelayanan kepada Tuhan agar menjadi tempat yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Dalam kesempatan tersebut, Founder YRDI, Noviana Dibyantari, memaparkan perjalanan 12 tahun Roemah D dalam mendampingi penyandang disabilitas. Berawal dari komunitas kecil yang lahir dari kepedulian terhadap minimnya akses pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan bagi penyandang disabilitas, YRDI kini berkembang menjadi lembaga yang menghadirkan berbagai program pemberdayaan.
“Selama 12 tahun kami belajar bahwa penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi kesempatan. Ketika diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan, mereka mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan menjadi bagian penting dalam pembangunan,” kata Noviana.
Ia menjelaskan, Griya Karya Inklusi menjadi pusat berbagai program strategis, mulai dari Akademi Inklusi Bersinar (AKIB) sebagai pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi, RD Shop sebagai sarana pemasaran produk karya penyandang disabilitas, hingga galeri yang menampilkan hasil kreativitas peserta binaan.
Pada hari yang sama, rangkaian syukur juga dilanjutkan dengan pengajian yang menghadirkan Ustadz Ari Nugroho. Kegiatan tersebut diikuti keluarga besar YRDI, penyandang disabilitas, relawan, mitra, dan masyarakat sekitar sebagai ungkapan syukur atas berdirinya Griya Karya Inklusi.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Ari Nugroho mengajak seluruh peserta menjadikan rasa syukur sebagai kekuatan untuk terus berbagi manfaat kepada sesama. Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap penyandang disabilitas merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang harus terus dirawat.
“Setiap manusia memiliki kelebihan dan kesempatan untuk berkarya. Tugas kita adalah membuka jalan agar mereka dapat tumbuh, mandiri, dan memberi manfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Pengajian diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an beserta terjemahannya, dilanjutkan tausiyah, dialog interaktif, dan doa bersama. Suasana penuh kehangatan mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi gerakan inklusi yang dibangun YRDI.
Griya Karya Inklusi merupakan pusat pemberdayaan yang dikembangkan YRDI untuk memperluas akses pelatihan, kewirausahaan, dan pemasaran produk penyandang disabilitas. Pengembangannya mendapat dukungan dari berbagai mitra, antara lain Bank Jateng, Nasmoco, Albéa, Techpack Asia, Hotel Tentrem, serta sejumlah perusahaan dan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan penyandang disabilitas.
Melalui rangkaian doa lintas iman tersebut, YRDI ingin menegaskan bahwa membangun masyarakat inklusif merupakan tanggung jawab bersama. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam satu tujuan, yakni membuka kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas agar dapat belajar, berkarya, mandiri, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Peresmian Griya Karya Inklusi bukan hanya menandai berdirinya sebuah gedung baru, tetapi juga lahirnya sebuah gerakan yang menghubungkan kepedulian sosial, pemberdayaan ekonomi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari rumah inilah YRDI berharap semakin banyak penyandang disabilitas mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah batas untuk berkarya dan menginspirasi. (Christian Saputro)




