SEMARANG – Yayasan Roemah Difabel Indonesia (YRDI) bersama Komunitas Sahabat Difabel (KSD) meresmikan Griya Karya Inklusi di Jalan Puspowarno II, Kota Semarang, Jumat (3/7/2026). Fasilitas tersebut menjadi pusat pemberdayaan penyandang disabilitas yang mengintegrasikan pelatihan keterampilan, pengembangan usaha, pemasaran produk, dan galeri karya sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi difabel.
Peresmian dilakukan dalam rangka peringatan 12 tahun perjalanan YRDI dan KSD yang selama ini fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui pelatihan vokasi dan pengembangan kewirausahaan.
Pendiri YRDI, Noviana Dibyantari, mengatakan Griya Karya Inklusi dibangun sebagai ekosistem pemberdayaan agar penyandang disabilitas memiliki akses yang lebih luas terhadap pelatihan, pendampingan, hingga pemasaran hasil karya.
“Kami ingin membuktikan bahwa dengan akses dan pendampingan yang tepat, penyandang disabilitas memiliki potensi yang sama untuk berkarya, bekerja, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Griya Karya Inklusi menghadirkan tiga layanan utama, yakni RD Shop sebagai pusat pemasaran produk UMKM difabel, Akademi Inklusi sebagai tempat pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, serta Galeri Bersinar yang menampilkan karya seni dan kerajinan hasil kreativitas penyandang disabilitas.
Ketua YRDI, Hidayah Ratna atau Ida Modiste, mengatakan peresmian gedung tersebut merupakan tonggak penting setelah lebih dari satu dekade mendampingi penyandang disabilitas.
“Hari ini karya teman-teman difabel akhirnya memiliki rumah sendiri. Kami berharap tempat ini menjadi ruang untuk terus bertumbuh dan menghasilkan karya yang bernilai,” katanya.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaidi, mengapresiasi kehadiran Griya Karya Inklusi sebagai bentuk nyata pemberdayaan penyandang disabilitas.
Menurutnya, paradigma penanganan disabilitas harus bergeser dari pendekatan bantuan sosial menuju pemberdayaan yang mampu menciptakan kemandirian.
“Penyandang disabilitas merupakan bagian dari sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan potensi untuk berkontribusi dalam pembangunan. Karena itu mereka harus memperoleh kesempatan yang setara,” ujarnya.
Peresmian Griya Karya Inklusi mendapat dukungan berbagai pihak, di antaranya PT Pegadaian, Bank Indonesia, Bank Jateng, Mitratel Telkom, Nasmoco, Hotel Tentrem, Techpack Asia, Albea, PT Bintrace Dharma, serta sejumlah perusahaan dan donatur individu. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembangunan fasilitas, pembinaan usaha, hingga penguatan jejaring pemasaran produk difabel.
Selain peresmian gedung, rangkaian kegiatan juga diisi workshop bahasa isyarat bagi guru dan mahasiswa, pameran seni lukis di atas kain, bazar produk UMKM difabel, serta edukasi mengenai pentingnya masyarakat yang inklusif.
Ketua Panitia, Faradela Happy mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi penyandang disabilitas sekaligus memperluas dukungan terhadap gerakan inklusi.
“Kami ingin masyarakat melihat kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas, bukan keterbatasannya. Dengan begitu, semakin banyak ruang yang terbuka bagi mereka untuk berkarya dan mandiri,” ujarnya.
Melalui Griya Karya Inklusi, YRDI menargetkan semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh pelatihan, kesempatan berwirausaha, dan akses pasar sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. (*)




