SEMARANG – Di sebuah sudut Jalan Puspowarno II No. 2, Semarang, suasana pagi Jumat (3/7/2026) terasa berbeda. Bukan hanya karena teriknya matahari Juli, melainkan karena riuh rendah kreativitas yang memadati ruang terbuka RD Pusowarno. Puluhan tangan, baik dari penyandang disabilitas maupun relawan, sibuk menorehkan warna-warni cat di atas lembaran kain putih. Ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang; ini adalah manifestasi nyata dari inklusi yang diterjemahkan ke dalam karya bernilai ekonomi.
Kegiatan “Melukis Bersama di Kain” ini merupakan rangkaian pra-event yang strategis menjelang peresmian Griya Karya Inklusi dan Akademi Inklusi Bersinar (AKIB). Digelar mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, acara ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan penghubung yang efektif antara masyarakat umum dan komunitas difabel.
Noviana Dibyantari, Founder Yayasan Roemah Difabel Indonesia (YRDI), menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mendobrak stigma pasif yang sering melekat pada penyandang disabilitas. “Kami ingin menunjukkan bahwa difabel adalah kreator, bukan hanya penerima manfaat. Melalui kuas dan kain, mereka menuangkan imajinasi yang kemudian akan bertransformasi menjadi produk fashion bernilai jual,” ujar Noviana di sela-sela kegiatan.
Apa yang dilukis hari ini tidak akan berakhir sebagai pajangan dinding semata. Yayasan telah menyiapkan ekosistem produksi lanjutan di mana hasil lukisan tersebut akan diolah menjadi produk kreatif inklusif seperti tas, kemeja, celana, hingga outer. Proses transformasi dari kanvas mentah menjadi produk fashion ini melibatkan pelatihan menjahit dan desain yang diberikan oleh AKIB, memastikan bahwa setiap tahapan produksi memberdayakan para sahabat difabel secara berkelanjutan.
Untuk menjamin kualitas artistik yang mumpuni, YRDI menggandeng perupa ternama asal Semarang, Giovanni Susanto, sebagai mentor utama. Dalam pemaparannya, Giovanni menegaskan bahwa melukis di atas media kain memerlukan teknik khusus yang berbeda dengan kanvas konvensional. Ia membimbing peserta untuk memahami karakter serat kain agar warna dapat menyerap sempurna tanpa merusak tekstur bahan.
“Seni inklusif bukan soal menurunkan standar estetika demi belas kasihan, melainkan tentang memberikan akses teknik yang setara,” jelas Giovanni sembari mendemonstrasikan cara memegang kuas bagi peserta dengan keterbatasan motorik halus. “Ketika difabel menguasai medium ini, karya mereka tidak lagi dipandang sebagai ‘kerajinan tangan’, tetapi sebagai seni rupa kontemporer yang layak dihargai tinggi.”
Kolaborasi lintas sektor menjadi tulang punggung keberhasilan inisiatif ini. Kegiatan yang diselenggarakan oleh YRDI, Griya Karya Inklusi, dan AKIB ini mendapat dukungan masif dari berbagai pihak. Bank Jateng, ALBEA, TECHPACK ASIA, NASMOCO, dan PT Bintraco Dharma Tbk turut hadir memberikan dukungan material maupun moral. Kehadiran perwakilan dari sektor perbankan, otomotif, hingga manufaktur tekstil menegaskan bahwa pemberdayaan difabel adalah tanggung jawab bersama yang melampaui batas-batas sektoral.
Faradela Happy, Ketua Panitia Peresmian Griya Karya Inklusi, menjelaskan bahwa peluncuran gedung baru harus didahului dengan “isi” yang bermakna. “Gedung bisa dibangun dalam hitungan bulan, tapi semangat inklusivitas harus ditumbuhkan lewat interaksi langsung. Melukis bersama adalah cara kami mengajak masyarakat untuk melihat kemampuan difabel dengan mata yang berbeda,” jelasnya.
Suasana kegembiraan tampak jelas saat peserta saling berbagi cerita dan teknik melukis. Tidak ada sekat antara instruktur dan peserta; yang ada hanyalah pertukaran energi kreatif. Beberapa peserta difabel bahkan mampu menyelesaikan motif kompleks dengan presisi tinggi, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak berbanding lurus dengan keterbatasan kreativitas.
Produk-produk hasil olahan kain lukis ini nantinya akan dipasarkan melalui RD Shop, etalase permanen bagi karya-karya difabel. Setiap pembelian yang dilakukan konsumen bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan bentuk apresiasi terhadap martabat dan kemandirian ekonomi para pembuatnya.
Melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini, YRDI mengirimkan pesan kuat: inklusi bukanlah slogan yang terpampang di spanduk, melainkan praktik harian yang hidup dalam goresan kuas, jahitan mesin, dan senyum kebanggaan saat karya mereka diakui dunia luar. Griya Karya Inklusi dan AKIB yang akan segera diresmikan kelak akan menjadi rumah permanen bagi semangat semacam ini, tempat di mana setiap tangan berhak berkarya dan setiap karya berhak dihargai.
(Christian Saputro)




