AMBARAWA (Sumatera Post) – Semangat merawat persatuan dalam keberagaman kembali digaungkan melalui kegiatan “Doa Perdamaian Nusantara”. Acara akbar yang mengusung tema “Merajut Persatuan dalam Keberagaman, Memohon Kedamaian untuk Indonesia” ini digelar pada Sabtu malam, 28 Maret 2026, di kompleks bersejarah Benteng Willem I, Ambarawa.
Dimulai tepat pukul 19.00 WIB, kegiatan ini menjadi ruang refleksi lintas budaya dan keyakinan yang menghadirkan ribuan elemen masyarakat, tokoh agama, pamong budaya se-Kabupaten Semarang, hingga pejabat pemerintah. Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang terus berkembang, acara ini dirancang sebagai momentum strategis untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan nilai-nilai kebhinekaan.
Ketua Panitia, Rengga Dumadi, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar kolektif untuk menghadirkan kedamaian melalui pendekatan spiritual dan budaya. “Kehadiran dan doa tulus dari berbagai elemen masyarakat menjadi pelita harapan bagi masa depan bangsa yang lebih harmonis,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Rangkaian acara dibuka dengan nuansa sakral melalui Kirab Pusaka dan Ubarampe Puja, simbol restu leluhur bagi persatuan anak bangsa. Prosesi ini dilanjutkan dengan penghormatan kepada negara berupa menyanyikan lagu kebangsaan dan pengucapan Pancasila, menegaskan komitmen terhadap nilai dasar negara.
Suasana semakin hidup dengan sederet penampilan seni budaya yang memukau. Tari Wira Pertiwi dari Sanggar Clarinta membuka gerbang rasa, disusul oleh pertunjukan tari sufi yang penuh makna. Puncak visualisasi terjadi pada kolaborasi Tari Rantaya yang melibatkan 30 penari putri dari Sanggar Centhini dan Sarasvati Widiasmara, dengan iringan musik gamelan Ketawang Ibu Pertiwi dari Sanggar Nayanika.
Inti dari perhelatan ini adalah sesi doa lintas agama yang dipimpin oleh para tokoh spiritual dari berbagai keyakinan. Momen khidmat juga tercipta saat Sri Ganasena Murti menyampaikan wedaran atau wejangan spiritual tentang kebajikan. Suasana semakin mendalam ketika Rengga Dumadi membacakan karya sastra epiknya, “Sandyakalaning Nuswantara”, yang dipadukan dengan interpretasi tari dan musik, mengajak hadirin merenungi perjalanan panjang Nusantara.
Sebagai penutup yang penuh harap, ratusan lampion diterbangkan ke langit malam Ambarawa. Cahaya yang melayang tersebut menjadi simbol doa dan ujub (harapan) agar kedamaian segera menyelimuti seluruh penjuru Indonesia.
Pemilihan Benteng Willem I sebagai lokasi kegiatan dinilai sarat makna filosofis. Bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perjalanan panjang bangsa ini bertransformasi dari simbol pertahanan militer masa lalu menjadi simbol persatuan yang melampaui sekat-sekat perbedaan di masa kini.
Panitia mengimbau seluruh peserta untuk mengenakan busana tradisional Nusantara sebagai bentuk penghormatan terhadap keragaman budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta meneguhkan komitmen bersama bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang damai bagi seluruh warganya. (Christian Saputro)




