SEMARANG — Festival GULA menawarkan pendekatan berbeda dalam merawat kebudayaan. Tidak sekadar perhelatan seni, kegiatan ini menjadi ruang riset hidup berbasis praktik artistik yang mempertemukan identitas masyarakat gunung, pesisir, dan kota dalam satu ruang publik inklusif.
Festival yang digagas AECI Satya Nirmana Foundation ini mengusung konsep arts-based research, yakni menjadikan proses kreatif sebagai metode untuk membaca dinamika sosial dan budaya. Seni, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai alat untuk memetakan identitas serta memahami perubahan zaman.
Ketua AECI Satya Nirmana Foundation, Singgih Adhi Prasetyo, mengatakan festival ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang berkelanjutan. “Kami ingin mendampingi masyarakat agar tetap tangguh menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri. Festival ini adalah laboratorium tata kelola konservasi budaya yang relevan dan berdampak,” ujarnya.
Ketua Pelaksana Ari Eko Budiyanto menambahkan, Festival GULA dirancang dengan pola kolaborasi yang saling terhubung. “Setiap elemen menjadi simpul yang saling memberi umpan balik sehingga menghasilkan dampak publik yang berlapis,” katanya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan program residensi seniman yang menghadirkan Sisilia Hangin dan Rahma Jamil Setyo Tuhu. Keduanya melakukan eksplorasi berbasis konteks lokal melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Kegiatan ini diperkuat riset partisipatif oleh Anisa Puput Rahmawati dan Re Karunia Kukuh Pertiwi yang menggali narasi lokal sebagai dasar penyusunan program festival.
Pengalaman lintas budaya menjadi sorotan utama. Sisilia Hangin merasakan langsung perbedaan geografis dan kultural saat menjalani residensi di Dusun Thekelan, Kabupaten Semarang. Sementara itu, Re Karunia mencatat perbedaan karakter masyarakat pesisir yang lugas dan masyarakat pegunungan yang cenderung tenang dan kolektif.
Perspektif generasi muda juga mengemuka melalui Anisa dan Rahma yang melihat Semarang sebagai ruang temu strategis antara budaya gunung dan pesisir, sekaligus sebagai poros integrasi identitas yang terus berkembang.
Seluruh proses tersebut akan dipresentasikan dalam pameran arsip di TAN Art Space pada 11–14 Mei 2026, dengan pembukaan pada 11 Mei pukul 15.00 WIB. Pameran ini dikuratori Muhammad Rahman Athian, yang menjembatani hasil riset, karya, dan interaksi publik.
Selain karya visual, pameran juga menghadirkan arsip fisik dan digital agar hasil penelitian dapat diakses luas oleh masyarakat. Pendekatan multimedia ini diharapkan memperpanjang manfaat pengetahuan budaya di luar kegiatan festival.
Didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana dan LPDP, Festival GULA menjadi contoh kolaborasi antara seni, riset, dan teknologi dalam memperkuat ekosistem kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. (Christian Saputro)




