JOMBANG — Tak jauh dari museum, di bawah rindangnya pohon tua, sebuah panggung sederhana berdiri kokoh. Di sana, setiap sore, alunan tambur (gendang potehi) terus bergema, mengiringi pertunjukan wayang yang tak kenal lelah. Entah ada penonton yang memadati ruang, atau hanya kesunyian yang menyapa, potehi tetap dimainkan. Bagi para dalang dan penjaga tradisi ini, pertunjukan itu sejatinya dipersembahkan untuk para dewa; sebuah ritual penghormatan yang melampaui hitungan jumlah manusia yang hadir.
Suara ritmis tambur itulah yang sering kali menjadi pembuka sebelum pengunjung menyelami lebih dalam ke dalam Museum Potehi Gudo. Di tengah gemuruh takbir yang berkumandang dari menara masjid di Kota Santri, Jombang, bangunan tua ini bernapas pelan. Ia tidak berteriak tentang kemegahan, melainkan berbisik tentang pertemuan dua budaya besar. Ini adalah ruang di mana waktu seolah melipat diri, mempertemukan arus budaya Tionghoa dan Jawa dalam pelukan harmonis selama lebih dari satu abad.
Melangkah melewati ambang pintu kayu jati yang termakan usia, pengunjung seolah menyusup ke dalam rahim sejarah. Udara di dalamnya berbau khas: perpaduan debu kertas lama, aroma hio yang tersisa, dan wangi kayu kamper yang menyelimuti ratusan wayang potehi. Mereka bukan sekadar boneka; dengan mata tajam dan pakaian sutra yang memudar, wayang-wayang itu menunggu untuk dihidupkan kembali.
Meski secara historis lekat dengan nama “Fun He An” (Balai Kebajikan dan Kedamaian), kini identitasnya kian kuat sebagai Museum Potehi Gudo. Di sini, kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok atau Si Giam Cu E telah diterjemahkan ke dalam rasa Jawa, dibalut gamelan, dan dijiwai filosofi lokal tentang harmoni. Keunikan wayang potehi terletak pada kepalanya yang berongga, memungkinkan dalang menggerakkan mulut dan alis tokoh dengan jari, menciptakan ilusi kehidupan yang memukau. Tokoh strategis seperti Zhuge Liang hingga gagahnya Guan Gong berdiri berdampingan dengan nilai kearifan lokal pesantren sekitar.
Namun, di balik keheningan artefak ini, terdapat denyut nadi kehidupan yang dijaga oleh tangan-tangan peduli. Napas baru bagi museum ini datang pada akhir September 2024, ketika Harjanto Halim, CEO PT Marimas Putera Kencana sekaligus Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong Semarang, hadir membawa harapan. Dalam rangka ulang tahun ke-29 perusahaannya, Harjanto menyerahkan bantuan CSR sebesar Rp100 juta khusus untuk pengembangan fisik museum.
Bagi Toni Harsono, pengelola yang mendedikasikan hidupnya untuk Potehi, dana tersebut adalah oksigen untuk merawat koleksi rapuh dan memperkuat struktur bangunan. Langkah ini melengkapi dedikasi Harjanto pada Agustus 2020, ketika ia menyumbangkan mobil pentas keliling agar wayang potehi bisa “berjalan” menyapa anak-anak di desa terpencil, tidak hanya terpaku di dalam museum.
“Wayang Potehi bukan sekadar warisan leluhur etnis Tionghoa, melainkan milik bersama bangsa Indonesia,” demikian semangat yang diusung Harjanto. Baginya, museum adalah rumah penyimpan memori, sedangkan panggung keliling adalah napasnya yang harus tetap hidup di masyarakat. Visi holistik ini memastikan pelestarian budaya tetap relevan dan aktif bergerak.
Kembali ke panggung sederhana di bawah pohon itu, di mana suara tambur terus bertalu. Di situlah letak sihir Potehi yang sesungguhnya: jembatan imajinasi yang meruntuhkan tembok perbedaan. Saat dalang memainkan wayang, dunia luar lenyap. Suara yang berubah dari berat menggelegar hingga cempreng lucu membawa siapa saja yang mendengar—baik manusia maupun yang gaib—terbang ke negeri khayalan.
Kini, dengan suntikan dana dari Marimas dan dukungan para filantropis, Museum Potehi Gudo menghadapi tantangan zaman dengan postur lebih tegak. Di tengah gempuran hiburan digital, museum ini menawarkan ketenangan dan renungan tentang keindahan perbedaan yang dirajut menjadi mahakarya kebudayaan. Setiap retakan kayu dan jahitan sutra wayang adalah cerita ketahanan melintasi masa kolonial dan gejolak politik, dirawat oleh cinta yang melampaui batas identitas.
Matahari sore menembus celah jendela, menciptakan garis cahaya yang menari di atas debu, bersanding dengan bayangan panggung luar yang mulai disinari lampu temaram. Di sana, Museum Potehi Gudo terus berdiri sebagai rumah bagi memori kolektif. Ia adalah testament abadi bahwa di Jombang dan Indonesia, keberagaman bukanlah beban, melainkan sayap yang memungkinkan bangsa ini terbang tinggi. Mengunjunginya adalah ziarah kepada harapan; bahwa di dunia yang semakin terpecah, kita masih bisa kembali ke tempat ini, mendengar gemuruh tambur, melihat wayang-wayang tersenyum, dan mengingat bahwa kita semua dimainkan oleh dalang yang sama dalam panggung besar bernama kemanusiaan. Berkat uluran tangan penjaga budaya seperti Harjanto Halim, panggung itu akan tetap kokoh untuk waktu yang lama. Christian Saputro)




