JOMBANG — Pagi merambat pelan di Tebuireng ketika puluhan peziarah dari rombongan “Ceng Beng Gus Dur 2026” menjejakkan kaki di kawasan terminal, Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Dari titik itulah, sebuah perjalanan batin dimulai—bukan sekadar langkah menuju makam, melainkan napak tilas nilai yang pernah ditanamkan Abdurrahman Wahid kepada bangsa ini.
Di bawah komando Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, rombongan bersiap. Sinci—papan arwah Gus Dur—ditandu perlahan. Tabuhan tambur mengalun, bukan sekadar ritme, tetapi penanda bahwa sebuah penghormatan sedang diarak dengan kesungguhan.
Di barisan paling depan, pasukan “Sapu Jagad” bergerak senyap namun bermakna. Mereka menyapu jalan, membersihkan sisa-sisa kotoran yang tercecer. Sebuah gestur sederhana, tapi sarat simbol: ziarah tak cukup hanya dengan langkah kaki, ia dimulai dari hati yang dibersihkan.
Kirab bergerak menuju prasasti, lalu berhenti dalam hening yang khidmat. Doa lintas iman dipanjatkan. Tak ada sekat, tak ada suara yang lebih tinggi dari yang lain. Semua larut dalam satu kesadaran—bahwa di hadapan nilai kemanusiaan, perbedaan adalah anugerah, bukan batas.
Langkah kemudian berlanjut menuju kompleks makam di Pesantren Tebuireng. Di sana, rombongan diterima hangat oleh pengelola, Gus Riza dan Ibu Emma. Satu per satu peserta memasuki area makam dengan tertib, membawa doa, kenangan, dan harapan.
Di pusara Gus Dur, waktu seolah melambat. Doa kembali dipanjatkan, bunga ditaburkan—bukan sekadar ritual, melainkan bahasa sunyi untuk menyampaikan rasa hormat. Di sampingnya, bersemayam pula Hasyim Asy’ari, ulama besar yang meletakkan fondasi keislaman Nusantara. Ziarah pun menjadi pertemuan lintas generasi, antara warisan dan masa kini.
“Gus Dur adalah sosok yang melampaui sekat identitas,” ujar Harjanto Halim. “Beliau memberi ruang hidup yang setara bagi semua, termasuk kami, etnis Tionghoa. Ia bukan hanya berbicara tentang pluralisme, tetapi menghidupinya.”
Ingatan itu tidak berhenti pada kata. Di Semarang, di altar utama Boen Hian Tong, nama Gus Dur diabadikan dalam sinci dengan aksara Hanzi: Yin Hua Zhi Fu, Fu Ruo Guo Zhi—sebuah penegasan bahwa ia adalah “Bapak bagi Tionghoa Indonesia,” sosok yang kebajikannya menaungi negeri.
Bagi komunitas Tionghoa, penghormatan ini bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan atas keberanian Gus Dur membuka kembali ruang budaya yang sempat terpinggirkan—termasuk mengakui Konghucu dan mengembalikan perayaan Imlek ke ruang publik.
Ziarah ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini. Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, langkah-langkah kecil di Tebuireng pagi itu menjadi pengingat: bahwa Indonesia pernah—dan harus terus—dibangun di atas keberanian untuk merawat keberagaman.
Kirab usai. Doa mereda. Namun nilai yang ditinggalkan tetap tinggal—diam, tapi hidup—di hati setiap peziarah yang pulang dengan kesadaran baru: bahwa kemanusiaan adalah rumah bersama.
(Oleh: Christian Saputro)




