Semarang — Sejarah pers pergerakan di Kota Semarang kembali disorot melalui kegiatan Heritage Walking Tour: Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang yang digelar Senin (9/2/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pengingat bahwa Semarang pernah menjadi simpul penting pers nasional, termasuk jejak Koran Pesat yang pernah diterbitkan oleh Sayuti Melik dan S.K. Trimurti.
Tur edukatif yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional. Peserta diajak menelusuri kawasan Pecinan hingga Jalan Sidorejo, menyusuri sembilan titik bersejarah yang pernah menjadi pusat penerbitan surat kabar dan percetakan, di antaranya Sorot, Sinar (Soda), Nan Sing, Warna Warta, Soeara Semarang, Makmoer, dan Pesat.
Pemandu tur sekaligus peneliti sejarah pers lokal, Yvonne Sibuea, mengatakan bahwa kegiatan ini berbasis riset yang dilakukan bersama Rumah PoHan dan EIN Institute. Menurutnya, Pecinan Semarang bukan hanya kawasan niaga, tetapi juga ruang lahirnya pers modern yang dikelola secara mandiri dan progresif.
“Di sinilah pers menjadi medium gagasan, identitas, dan perlawanan, jauh sebelum Indonesia merdeka,” ujarnya.
Salah satu sorotan utama dalam tur ini adalah Koran Pesat, media pergerakan yang pernah diterbitkan oleh Sayuti Melik dan S.K. Trimurti di Semarang. Jauh sebelum perannya dikenang dalam peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, keduanya telah lebih dahulu menjadikan pers sebagai medan perjuangan melawan kolonialisme.
Koran Pesat dikenal berani menyuarakan nasionalisme, membangun kesadaran politik rakyat, serta mengkritik ketidakadilan kolonial. Sayuti Melik terlibat dalam kerja redaksional dan teknis penerbitan, sementara S.K. Trimurti tampil sebagai penulis yang vokal dan progresif. Aktivitas pers mereka tak jarang berhadapan dengan sensor, tekanan, hingga ancaman penangkapan dari pemerintah kolonial.
“Jejak Sayuti Melik dan S.K. Trimurti di Semarang menunjukkan bahwa Proklamasi lahir dari proses panjang—dari mesin ketik, ruang redaksi, dan keberanian menulis,” kata Yvonne.
Selain membahas Pesat, tur ini juga mengangkat peran tokoh-tokoh pers lain, termasuk Kwa Wan Hong, pebisnis dan pegiat media yang berkontribusi besar dalam perkembangan pers lokal Semarang.
Mayoritas media yang disinggahi dalam tur ini dikelola oleh warga Tionghoa Peranakan, menegaskan kuatnya peran komunitas tersebut dalam sejarah pers dan pergerakan nasional.
Penggagas kegiatan, Widya Khoirunnisa, menyebut Heritage Walking Tour ini sebagai upaya mendekatkan sejarah kepada publik dengan cara yang lebih partisipatif. “Kami ingin sejarah pers tidak hanya dibaca di buku, tetapi dialami langsung melalui ruang-ruang kota,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan agenda perdana Jelajah Sejarah Semarang #1, hasil kolaborasi Rumah PoHan dengan Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang, EIN Institute, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kranggan, serta Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang. Tur ini terbuka untuk umum, gratis, namun dengan jumlah peserta terbatas.
Melalui kegiatan ini, Semarang kembali ditegaskan sebagai kota yang tak hanya menyimpan bangunan tua, tetapi juga ingatan tentang pers, gagasan, dan tokoh-tokoh yang ikut merajut jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
(Christian Saputro)




