Kanoko Takaya Taja Pameran Tunggal “Kune Kune” di Semarang Gallery

Pembukaan Pamela Kune Kune, Kanoko Takaya bersama kurator Iqnatia Nilu dan Direktur Semarang Gallery Denis Leví Dharmawan, di Semarang Gallery, Kota Lama, Semarang, Santuario (3/12/2022)

Semarang – Semarang Gallery dipenghujung tahun ini menggelar helat pameran tunggal Kanoko Takaya. Perupa asal Kyoto, Jepang yang kini berbasis di Bali ini menaja pameran tseni kontemporer bertajuk : Kune Kune di Semarang Gallery, Jalan Sri Gunting, Semarang.

Pameran yang dibuka Direktur Semarang Gallery Denis Levi Dharmawan , Sabtu (3/12/2022) akan berlangsung hingga 3 Februari 2023 mendatang. Levi dalam pengantarnya ketika membuka pameran mengatakan, pameran Kune Kune atau Lika Liku ini pameran ini menjadi penting mengingat karya-karya Kanoko Takaya mewakili tatapan seniman luar dalam melihat kebudayaan lokal. Selain itu Kanoko juga mewakili seniman muda yang dalam perjalanan karir selama delapan tahun di Indonesia telah menjelajahi ranah seni kontemporer dengan serius.

Karya rupa Kanoko dalam gelaran.paneran Kune Kune di Semarang Gallery , Kota Lama, yang berlangsung hingga 3 February 2023 (Christian Heru)

“Pada pamerannya kali ini, Kanoko Takaya membawa karya-karya lama dan baru sebagai kelanjutan dari karya-karya sebelumnya yang merupakan satu rentetan perjalanan kekaryaannya selama bermukim di Indonesia,” terang Levi.

Sementara, kurator pameran Ignatia Nilu, dalam catatan kuratorialnya memaparkan penyajian karya-karya pada pameran ini mencakup dua periode kekaryaan Kanoko Takaya, yakni karya awal yang disebut sebagai Indonesian Series dan karya terkininya sebagai Inner Series dan Movement Series.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Lebih lanjut, Nilu menjelaskan, Indonesian Series merupakan karya awal Kanoko sebagai gaikokujin (orang negara asing) dalam menatap hubungan personal dengan situasi di Indonesia.

“Karya-karya Indonesia Series ini sebagaiungkapan personal dari seniman dalam menyatakan keterhubungan antara emosional dengan visual-visual tradisional yang ditemuinya di Indonesia,” terang Nilu.

Sedangkan untuk karya-karya terbarunya, Kanoko menggabungkan material tekstil, kanvas, dacron,resin, benang dan berbagai material menjadi bentuk dan tekstur yangmencitrakan anatomi tubuh. Anatomi tubuh yang selalu bergelombang, meliuk,dinamis.

“Karya-karya tersebut terdiri dari puluhan karya lukisan di atas kertas, kanvas, patung, instalasi dan ragam karya yang dikerjakan denganmenggabungkan berbagai material, ” papar Nilu.

Secara kekaryaan, imbuh, Nilu, Inner Series dan Movement Series menampilkan nuansa yangberbeda dengan serial sebelumnya. Karya terbaru Kanoko lebih menampilkan lekukan dalam dimensi dan sensasi yang berbeda dengan menampilkandeformasi dari proses tersebut.

“Bentuk garis tersaji dalam bentuk kontur karya yang mengingatkan kita dengan relief, atau lekukan tubuh. warna yang tumpangtindih namun mengingatkan kita dengan ingatan kanak-kanak, warna kulit dan kesederhanaan kita dengan tubuh kita. Postur-postur disajikan dalam komposisi yang lebih minimalis namun tetap ekspresif,” tandas Nilu..

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Kanoko Takaya sebagai seniman pencipta karya-karya mengatakan pada awal proses kekaryaanya tidak bertendensi untuk menggambarkan tubuh, garis yang torehkan menuntunnya secara natural untuk menyatakan bentuk dan citraan tubuh.

“Saya baru sadar bahwa saya memiliki ketertarikan dengan beberapa detail tertentu dalam anatomi tubuh, wajah, ekspesi, dan ini tanpa sadar yang hadir dalam karya saya. setelah sebelumnya saya tertarik dengan ekspresi topeng, batik, tidak hanya di Indonesia tapi juga di Jepang,” imbuh Kanoko.

“Karya-karya terbaru ini merupakan kelanjutan dari karya-karya sebelumnya. Ini merupakan perjalanan kekaryaan saya di Indonesia,” Kanoko dalam pembukaan pameran, Sabtu, di Semarang (3/12/2022)

Ekpresi Lika Liku Tubuh Kanoko

Ada catatan penting dari Ignatia Nilu dalam kuarotialnya yang menegaskan dalam Serial karya terbaru Kanoko —Inner Series dan Movement Series yang menyajikan pose atas tubuh dan transformasinya dalam lekukan garis yang dinamis; terus bergerak.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Garis hadir menjadi bentuk, tekstur, warna dan sensasi. seperti halnya tajuk-tajuk karya yang dipilihnya. Hadir menjadi definisi atas sensasi inderawi yang berkembang dalam lika-liku “Kune Kune” tubuh yang bergerak, postur yang tidak terduga, gestur yang menyajikan ekspresi emosi yang sederhana, hangat namun dinamis. “Selayaknya metafora atas penggambaran tubuh di antara berbagai situasi serta perubahan sosial bahkan tantangan ekologi yang terus menerus di hari-hari ini —Tubuh baru yang senantiasa dinamis dalam perubahan,” ujar Nilu.

Nilu menambahkan karya-karya yang tersaji dalam Kune Kune merupakan ekspresi yang menghadirkan nuansa jenaka, lugu dan bahkan naif. Hal ini juga turut terefleksi dalam tutur judul karya-karya Kanoko yang menggunakan kata untuk mengungkapkan keadaan dan gerakan melalui suara sederhana yang menirukanbunyi-bunyi sumber dari visualnya dalam bentuk diksi bahasa atau disebutonomatopoeia. Seperti dalam karya Kanoko yang bertajuk Ulu-Ulu atau Kankan. (Christian Saputro)