Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, Penyuka Sejarah anggota Pan Sumatera Heritge tinggal di Semarang.
Semarang, kota dengan denyut tua yang tak pernah sepenuhnya padam, kembali menyalakan apinya. Kamis (9/10/2025), di tengah udara yang mulai lembab oleh awal musim penghujan, ruang pameran Ketika Api Menyala di Semarang resmi dibuka.
Bukan sekadar pameran arsip, tetapi sebuah perjalanan lintas waktu, sebuah panggilan untuk menatap kembali bara yang menyala delapan puluh tahun lalu—saat rakyat dan tentara muda Republik berdiri bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan di bawah gemuruh peluru dan nyala semangat yang tak kunjung padam.
Pameran ini digagas oleh Rumah PoHan, dikuratori oleh Kesit Widjanarko dan Mozes Christian Budiono. Keduanya, dengan semangat yang sama berkobar seperti delapan dekade silam, berupaya memantik kembali kesadaran kolektif warga kota akan makna
Pertempuran Lima Hari di Semarang. “Ini bukan sekadar fragmen sejarah lokal,” ujar Mozes dalam kuratotialnya. “Ini adalah simpul besar dari sejarah bangsa, tempat di mana darah, tekad, dan cinta tanah air menyatu dalam satu letupan yang melahirkan arah baru bagi republik muda.”
Michael, anggota DPRD Kota Semarang dari Komisi D, yang hadir untuk membuka acara, menegaskan makna edukatif pameran ini. “Generasi muda perlu diingatkan bahwa kemerdekaan ini bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian luar biasa para pendahulu. Melalui pameran semacam ini, kita menjaga semangat itu tetap hidup,” ujarnya di hadapan para hadirin, di antara gemuruh tepuk tangan dan kilau lampu yang memantul di kaca-kaca arsip tua.
Namun, yang menjadikan pameran ini berbeda adalah niat di baliknya. Ia bukan hanya ruang dokumentasi, melainkan ruang perjumpaan. Yvonne Sibuea, Ketua Pelaksana pameran, menekankan bahwa acara ini dirancang agar sejarah tak lagi menjadi milik segelintir akademisi, tapi bisa dihirup oleh masyarakat sipil, seniman, jurnalis, pelajar—semua yang ingin mengingat.
“Kami mencoba menghadirkan sesuatu yang belum pernah disajikan sebelumnya,” ujarnya. “Termasuk kisah seorang bapak, pendiri Toko Buku Merbabu, yang di masa perjuangan menyembunyikan koran-koran berisi kabar pertempuran. Arsip-arsip itu kini bisa kita baca kembali—dengan hati yang bergetar.” ujar Yvonne mewakili RumahPohan.
Kepala Dinas Arsip Kota Semarang, FX Bambang Suranggono, yang hadir mewakili Wali Kota, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan 80 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang. “Arsip bukan sekadar catatan masa lalu,” ujarnya lirih. “Ia adalah saksi bisu tentang siapa kita. Setiap lembar koran di pameran ini adalah denyut nadi bangsa yang baru belajar berdiri.”
Dalam pameran ini, pengunjung diajak menelusuri lembar-lembar surat kabar tahun 1945 yang memuat kabar perang, seruan rakyat, dan catatan para wartawan muda yang kala itu menulis di bawah bayang senjata. Di antara kertas menguning itu, waktu seakan membeku. Setiap kata adalah napas, setiap berita adalah doa agar Republik bertahan.
Dr. Mukhamad Shokeh dari Universitas Negeri Semarang menambahkan dalam sambutannya bahwa pameran ini membuka ruang komunikasi lintas generasi. “Kita tidak sedang sekadar mengingat peristiwa, tapi belajar bagaimana setiap generasi memaknainya kembali. Sejarah bukan beku, ia cair, hidup dalam ingatan dan interpretasi baru yang terus tumbuh.”
Selain arsip dan dokumen, pameran ini juga menampilkan karya seni visual, pertunjukan musik, dan film pendek bertema perjuangan. Anak-anak sekolah terlihat berkeliling, memandangi foto-foto hitam putih yang terpajang dengan kagum—beberapa di antaranya mungkin untuk pertama kalinya mengenal kata “Pertempuran Lima Hari”. Di sinilah, mungkin, sejarah kembali menemukan jalannya: dari lembaran usang menuju hati yang muda.
Pameran ini akan berlangsung hingga 17 Oktober 2025. Dan ketika lampu-lampu galeri mulai diredupkan di malam penutupan nanti, semoga bara kecil dari Ketika Api Menyala di Semarang terus menyala di dada setiap pengunjung—menjadi pengingat bahwa sejarah bukanlah masa lalu, melainkan api yang terus menuntun kita pulang.(*)




