Tangerang Selatan — Gemerlap busana anak-anak memenuhi ballroom Sapphire Sky Hotel BSD, Sabtu (2/5/2026). Namun lebih dari sekadar peragaan busana, ajang Little Kartini Fashion Contest 2026 menjelma menjadi ruang tumbuh bagi keberanian, kreativitas, dan harapan masa depan generasi muda.
Sebanyak 78 peserta anak-anak dari berbagai daerah, khususnya Banten dan Jakarta, ambil bagian dalam kompetisi yang terbagi dalam dua kategori usia, yakni 4–6 tahun dan 7–10 tahun. Sejak pagi hingga siang hari, satu per satu peserta tampil percaya diri di atas catwalk, mengenakan beragam kostum yang sarat nilai budaya dan imajinasi.
General Manager Sapphire Sky Hotel BSD, Yohanes Parwoto, menegaskan bahwa ajang ini tidak semata soal menang atau kalah.
“Harapan kami, anak-anak dapat menampilkan talenta yang berguna bagi masa depan mereka. Tema Pesona Kartini sangat relevan dengan semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi,” ujarnya.
Antusiasme peserta bahkan melampaui target awal panitia yang hanya menyiapkan kuota 60–70 anak. Hingga menjelang hari pelaksanaan, jumlah pendaftar mencapai 80 peserta, meski dua di antaranya batal hadir karena sakit. Hal ini menunjukkan tingginya minat orang tua dalam mendorong anak-anak mereka mengembangkan bakat sejak dini.
Ajang yang telah memasuki penyelenggaraan ke-6 ini juga menghadirkan dewan juri dari kalangan profesional dan figur muda inspiratif, seperti Muhammad Farhan, Regina Nastalia, serta Azzahra Fhadill. Kehadiran mereka memberikan penilaian sekaligus motivasi bagi para peserta untuk tampil maksimal.
“Setiap event seperti ini tidak hanya menjadi wadah pengembangan talenta, tetapi juga bagian dari promosi pariwisata. Yang utama adalah membangun sportivitas dan kepercayaan diri anak-anak,” tambah Yohanes.
Di balik gemerlap panggung, kisah-kisah inspiratif juga hadir dari para orang tua. Vera, salah satu wali peserta, mengaku mengetahui ajang ini melalui media sosial dan langsung tertarik mengikutsertakan putranya, Christoff Aiden Nicholas. Ini merupakan pengalaman pertama Christoff mengikuti kompetisi serupa di luar sekolah.
Menariknya, Christoff tampil dengan kostum tradisional Dayak Kalimantan Tengah. Vera mengaku memiliki ikatan darah dengan daerah tersebut, sehingga memilih busana yang merepresentasikan identitas budaya keluarganya. “Saya juga membuat sendiri aksesoris seperti tameng dan pisau dari kardus, lalu dicat dengan motif khas Dayak,” ujarnya.
Bagi Vera, ajang ini bukan hanya tentang kompetisi, melainkan proses belajar bagi anak untuk berani tampil dan menghargai budaya. Pengalaman sebelumnya di ajang fashion show sekolah turut menjadi pendorong kepercayaan diri sang anak.
Dengan tema yang terus berganti setiap tahun, Little Kartini Fashion Contest berhasil menjaga daya tariknya. Dari semangat Hari Kartini hingga perayaan kemerdekaan di bulan Agustus, setiap gelaran menjadi panggung kecil bagi lahirnya mimpi-mimpi besar.
Di tengah langkah-langkah kecil di atas catwalk itu, tersimpan pesan besar: bahwa masa depan bangsa sedang dipersiapkan—dengan keberanian, kreativitas, dan semangat yang ditanamkan sejak dini.(Christian Saputro/SL)




