SEMARANG – Jumat (27/3)malam lalu, angin yang berhembus di atas permukaan Waduk Jatibarang seolah membawa pesan dari masa lalu. Di Plaza Kandri, Gunungpati, ribuan pasang mata tertuju pada sebuah panggung raksasa yang tidak dibangun di atas tanah, melainkan menyatu dengan alam. Di sanalah, Kota Semarang membuktikan bahwa legenda bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan napas kebudayaan yang masih berdenyut kuat.
Pagelaran kolosal bertajuk “Mahakarya Legenda Goa Kreo” sukses mengubah heningnya malam menjadi sebuah simfoni sejarah yang memukau. Mengangkat kisah abadi perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari kayu jati untuk Masjid Agung Demak, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan sebuah deklarasi budaya bahwa Semarang tetap setia merawat akar spiritualitasnya di tengah deru modernisasi.
Sinergi Seni dan Alam yang Membius
Acara dibuka sejak pukul 17.30 WIB dengan alunan karawitan dan campursari yang menggugah jiwa, menciptakan atmosfer sakral sebelum pagelaran utama dimulai pukul 19.15 WIB. Di bawah arahan sutradara Budi Lee, sebanyak 119 seniman—terdiri dari penari, aktor, dan musisi lintas generasi—menghidupkan kembali interaksi harmonis antara manusia dan alam yang sempat terlupakan.
Koreografi apik karya Paminto Krisna menghadirkan gerakan dinamis para “kera sakti” penjaga hutan, sementara komposisi musik orkestra tradisional garapan Githung Swara menciptakan atmosfer magis yang seolah mengangkut penonton kembali ke abad ke-15. Tata cahaya yang dimainkan di atas latar belakang air waduk menciptakan ilusi optik yang dramatis, menjadikan setiap adegan terasa hidup, nyata, dan relevan.
“Ini adalah bukti bahwa tradisi mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya,” ujar Indriyasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, yang mewakili Wali Kota Semarang dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa kisah Goa Kreo mengandung nilai luhur tentang gotong royong, keteguhan hati, dan toleransi yang sangat dibutuhkan masyarakat modern.
“Para pemain malam ini adalah penjaga ingatan kolektif kita. Mereka memastikan api semangat Sunan Kalijaga tidak pernah padam,” tambahnya di tengah gemuruh tepuk tangan penonton.
Lebih Dari Sekadar Pertunjukan: Sebuah Strategi Budaya
Di balik kemegahan artistiknya, gelaran ini menyimpan strategi besar Pemerintah Kota Semarang dalam peta pariwisata nasional. Indriyasari secara tegas menyatakan komitmen kota ini untuk menjadikan sektor ekonomi kreatif dan budaya sebagai lokomotif pertumbuhan baru.
“Kami tidak hanya menjual pemandangan, kami menjual cerita,” ungkapnya. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Kota Lama dan kini merambah ke Gunungpati, Pemkot berharap efek berganda (multiplier effect) dapat langsung dirasakan oleh pelaku UMKM dan warga sekitar. “Malam ini adalah investasi bagi masa depan ekonomi warga. Ketika budaya hidup, ekonomi pun ikut bernapas,” jelasnya.
Pesona yang Mengikat Hati
Bagi penonton seperti Rina (34), seorang ibu rumah tangga yang hadir bersama keluarganya, pertunjukan ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan. “Saya tumbuh dengan mendengar cerita ini dari nenek, tapi melihatnya hidup di atas air dengan kualitas sekelas ini membuat saya bangga menjadi orang Semarang,” katanya sambil tersenyum.
Acara yang berakhir tepat pukul 20.45 WIB ini meninggalkan jejak mendalam. Ia mengingatkan semua pihak bahwa di era digital yang serba cepat, manusia tetap membutuhkan jangkar berupa cerita-cerita luhur yang mengajarkan keseimbangan antara ambisi dan kerendahan hati.
Sebagai pembuka rangkaian festival budaya tahunan, “Mahakarya Legenda Goa Kreo” telah menetapkan standar baru. Ia membuktikan bahwa ketika seni, sejarah, dan alam dipadukan dengan cerdas, hasilnya bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah mahakarya yang akan dikenang sepanjang masa. Semarang, sekali lagi, berhasil membuat legendarinya berbicara, kali ini dengan suara yang lebih lantang dan memesona.
KOTAK INFO
* Acara: Mahakarya Legenda Goa Kreo
* Tanggal: Jumat, 27 Maret 2026
* Waktu: 17.30 – 20.45 WIB
* Lokasi: Plaza Kandri, Waduk Jatibarang, Gunungpati, Semarang
* Tim Kreatif:
* Sutradara: Budi Lee
* Penata Tari: Paminto Krisna
* Penata Musik: Githung Swara
* Peserta: 119 Seniman dan Tim Produksi (Christian Saputro)




