Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Cahaya matahari Rabu siang itu (1/4/2026) membakar aspal kawasan Pekapuran, Semarang. Panasnya menusuk tulang, memaksa siapa saja yang melintas untuk mempercepat langkah atau sekadar berteduh di bawah naungan pohon yang rindang. Namun, di halaman Yayasan Mitra Setia (Xin Yu), panas itu seolah tak mampu menghanguskan semangat ratusan manusia yang antre dengan rapi. Mereka bukan sedang menunggu pembagian sembako yang biasanya riuh dan penuh desakan, melainkan bersiap menerima sepiring nasi hangat dan ubo rampe dari “Kantin Kebajikan”.
Suasana hening, tertib, dan penuh khidmat. Di tangan mereka tergenggam kupon kecil, sebuah tiket sederhana menuju keberkahan hari itu. Ketika giliran tiba, mereka menerima porsi makan dengan kedua tangan, mengucapkan terima kasih dalam bisikan yang nyaris tak terdengar, lalu mencari tempat duduk. Ada yang memilih kursi plastik yang disusun seadanya, ada pula yang dengan lapang dada menggelar alas duduk di atas tanah yang keras. Lesehan menjadi pilihan, menyatukan mereka dalam kesetaraan yang nyata; di sini, di atas debu jalanan, tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain.
Wajah-wajah itu, yang mungkin seharian dibayangi kecemasan akan isi perut, kini berbinar. Sendok demi sendok nasi disuapkan, dikunyah perlahan, dinikmati bukan sekadar sebagai pengganjal lapar, melainkan sebagai manifestasi rasa syukur yang tak terucap. Gemanya mungkin tak terdengar oleh telinga manusia, namun rasanya menembus langit siang itu, membelah awan panas, dan sampai ke arasy. Dalam dua jam saja, ratusan porsi yang disiapkan ludes tak bersisa. Para penyelenggara, yang sejak pagi berkutat di dapur, tersenyum semringah. Kelelahan mereka luruh, digantikan oleh kepuasan batin yang tak ternilai harganya.
Di antara kerumunan yang mulai散去 (bubar) itu, terlihat sosok-sosok yang tak kenal lelah. Ada Agung Kurniawan, inisiator dan founder Kantin Kebajikan, yang matanya teliti menyapu area. Bersamanya, Kokoh Iskandar, Ketua Harian Yayasan Mitra Setia, dan sekretarisnya, Mega Anggraini Irawan, sibuk memantau ketertiban. Mereka bukan bos yang memerintah, melainkan pelayan yang memastikan setiap piring tersaji dengan layak.
Ini bukan kejadian sekali waktu. Ini adalah ritme yang telah berjalan selama satu dekade. Tanggal 2 Maret 2026 lalu menjadi penanda sepuluh tahun perjalanan Kantin Kebajikan ini. Bermula pada 2016, ketika Kokoh Iskandar dan rekan-rekannya hanya ingin mencari kegiatan sosial yang “lebih mengena”. Saat itu, bantuan sembako atau uang tunai dirasa kurang menyentuh akar masalah. Mereka ingin dampak yang langsung terasa: makanan siap santap yang bisa segera menghilangkan lapar.
“Kami hanya ingin ada kegiatan sosial yang lebih tepat sasaran,” kenang Kokoh, matanya menerawang mengingat masa lalu. Niat sederhana itu ternyata tumbuh menjadi gerakan sosial yang dinanti. Animo penerima manfaat meningkat, namun yang lebih menyentuh hati adalah membludaknya dukungan dari para donatur dan relawan. Orang-orang baik berdatangan, terdorong oleh keinginan tulus untuk berbagi, tanpa perlu diminta.
Mega Anggraini Irawan, Sekretaris sekaligus Manager Operasional yayasan, adalah sosok yang paling akrab dengan debu dapur dan keriuhan lapangan. Baginya, Kantin Kebajikan bukan sekadar tempat membagi makan gratis. “Ini juga ruang pendidikan,” tegas Mega. Di sinilah budaya antre ditanamkan, etika saling menunggu dipupuk, dan tanggung jawab untuk menghargai makanan diajarkan. Imbauan “ambil secukupnya, habiskan apa yang diambil” bukan sekadar slogan. Buktinya, sisa makanan yang terbuang sangat minim, hampir nihil. Sebuah pencapaian luar biasa di tengah budaya membuang makanan yang masih sering terjadi di tempat lain.
Ada filosofi mendalam di balik frekuensi kegiatan ini. Kantin Kebajikan hanya beroperasi setiap Rabu siang. Bukan karena keterbatasan dana atau SDM, melainkan sebuah keputusan sadar untuk tidak menumbuhkan ketergantungan. “Kami tidak ingin orang jadi bergantung untuk makan gratis dari hari ke hari,” ujar Mega. Di tengah kebutuhan yang mendesak, mereka justru memilih menahan diri. Sebuah paradoks yang indah, yang meletakkan batas tipis antara bantuan kemanusiaan dan pemberdayaan kemandirian. Mereka memberi ikan, tapi juga mengajarkan cara untuk tidak selalu menunggu nelayan datang.
Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa adalah ketiadaan kotak donasi di lokasi. Tidak ada ajakan berderma yang dipamerkan, tidak ada spanduk besar yang memamerkan nama penyumbang. Semua pendanaan mengalir secara organik dari jejaring donatur tetap, pengurus yayasan, dan alumni sekolah Xin Zhong. Kantin Kebajikan hanya berperan sebagai vendor penyedia masakan, sementara pengelolaan dana dilakukan secara mandiri dan transparan oleh yayasan. Model ini menciptakan stabilitas yang memungkinkan kegiatan berlangsung konsisten selama sepuluh tahun tanpa perlu gembar-gembor mencari sumbangan dadakan. Kebaikan di sini bekerja dalam sunyi, jauh dari sorotan kamera.
Di balik layar, para relawan yang melayani bukanlah anak-anak muda yang penuh energi meledak-ledak. Mayoritas dari mereka adalah para senior, rambut mereka telah memutih dimakan usia, langkah mereka mungkin tak lagi secepat dulu. Namun, semangat mereka menyendok nasi, menyusun piring, dan menenangkan antrean tak pernah padam. Di wajah-wajah renta itu terpancar kegembiraan autentik, kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk bermanfaat bagi sesama. Mereka adalah bukti bahwa giving never gets old; bahwa menua bukan berarti berhenti memberi, melainkan semakin bijak dalam berbagi.
Sepuluh tahun, ratusan ribu porsi nasi telah tersaji. Di balik angka statistik itu, tersimpan ribuan kisah kecil yang tak tercatat oleh kamera maupun media. Kisah seorang buruh harian yang datang dengan kepala tertunduk canggung, lalu pulang dengan senyum merekah di wajah. Kisah seorang ibu tunggal yang membawa pulang cerita kepada anaknya bahwa hari ini ia tak perlu pusing memikirkan makan siang. Kisah-kisah sederhana yang menjadi mozaik kemanusiaan yang utuh, yang menjahit kembali kain sosial yang mungkin sempat robek oleh himpitan ekonomi.
Yayasan Mitra Setia sendiri telah berdiri sejak era 1949-an, bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, melewati berbagai dinamika pergantian kepengurusan. Kokoh Iskandar, yang baru dua periode memimpin, melihat satu benang merah yang tak pernah putus: keinginan untuk berbagi. Selain Kantin Kebajikan, yayasan juga rutin menggelar donor darah dan berbagai kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Di tengah kota Semarang yang terus bergerak cepat, di mana gedung-gedung tinggi bermunculan dan kehidupan serba instan, Kantin Kebajikan memilih langkah yang konstan dan tenang. Ia tidak gaduh, tidak mencari sorot lampu kamera, tidak mengejar viralitas. Ia hadir seminggu sekali, setia menanak nasi, memasak sayur, dan menyajikan lauk dengan cinta.
“Kami berharap ini terus berjalan,” kata Kokoh pelan, suaranya lirih namun penuh keyakinan. “Selama masih ada yang membutuhkan dan masih ada rezeki yang bisa dibagikan, kami ingin tetap ada.”
Sepuluh tahun telah berlalu. Namun, sesungguhnya yang mereka masak di dapur itu bukan sekadar beras dan bumbu dapur. Mereka sedang menanak harapan. Perlahan, sabar, dan berulang-ulang, mereka memasak agar kemanusiaan tetap hangat, setidaknya setiap Rabu siang di kawasan Pekapuran. Di sana, di antara uap nasi yang mengepul dan senyum para penerima manfaat, terkandung doa agar esok hari akan lebih baik bagi semua. Sebuah narasi sastrawi tentang kebaikan yang tak pernah habis, mengalir seperti sungai yang menghidupi segala kehidupan di sekitarnya, membuktikan bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada dapur-dapur kecil yang terus mengepulkan asap kebaikan. (*)




