SEMARANG – Antusiasme publik terhadap film pendek internasional terlihat tinggi dalam gelaran La Fête du Court Métrage – Edisi Indonesia. Memasuki hari kedua, ratusan penonton memadati Gedung Oudetrap untuk mengikuti program nonton bareng, Rabu (1/4/2026) malam.
Ruang pemutaran dipenuhi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, komunitas kreatif, hingga pecinta sinema. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang disatukan oleh ketertarikan terhadap film pendek sebagai medium ekspresi dan refleksi.
Turut hadir di tengah penonton Kepala Dinas Kearsipan Kota Semarang Brambang Suranggono bersama jajaran stafnya. Kehadiran tersebut dinilai sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap perkembangan kegiatan budaya dan perfilman di Kota Semarang.
Salah satu program yang menarik perhatian adalah pemutaran bertajuk A Plural Portrait of Modern Youth. Melalui lima film pendek asal Prancis, penonton diajak memahami dinamika kehidupan generasi muda masa kini, mulai dari isu persahabatan, ambisi, keterbatasan, hingga tekanan keluarga.
Film yang ditampilkan meliputi Fierrot le Pou karya Mathieu Kassovitz, Les Petits Monstres karya Pablo Léridon, La Vérité karya Malou Lévêque, Allez ma fille karya Chloé Jouannet, serta Auxiliaire karya Lucas Bacle. Setiap film menghadirkan pendekatan naratif yang berbeda, namun memiliki benang merah pada pencarian jati diri dan pergulatan emosional anak muda.
Kegiatan ini merupakan bagian dari festival film pendek internasional yang terinspirasi dari Clermont-Ferrand International Short Film Festival. Di Semarang, program ini digelar melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk Alliance Française Semarang, dengan mengusung semangat Liberté, Créativité, Diversité.
Tidak hanya pemutaran film, acara juga dilengkapi dengan sesi diskusi interaktif. Penonton diberi ruang untuk menyampaikan pandangan dan interpretasi terhadap film yang ditayangkan, sekaligus mengaitkannya dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini.
Di tengah dominasi karya internasional, film lokal juga mendapat perhatian. Film pendek Di antara Teman dan Rahasia karya siswa SMK Negeri 4 Semarang menjadi contoh kuat bagaimana tema serupa hadir dalam konteks lokal.
Film tersebut mengangkat kisah persahabatan yang diuji oleh sebuah rahasia. Konflik berkembang dari hal sederhana hingga mengguncang kepercayaan antar tokoh. Dilema antara kejujuran dan menjaga hubungan menjadi inti cerita yang relevan bagi kalangan muda.
Karya tersebut sebelumnya meraih penghargaan Film Pendek Pilihan Juri Kategori Pelajar dalam Lawang Sewu Short Film Festival 2025, sekaligus memperkuat posisi Semarang sebagai salah satu kota yang aktif melahirkan sineas muda.
Tingginya partisipasi penonton di Gedung Oudetrap menunjukkan bahwa film pendek memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Selain sebagai hiburan, film juga menjadi sarana refleksi sosial dan medium dialog yang mempertemukan beragam perspektif.
Festival yang berlangsung hingga 2 April 2026 ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman di Semarang, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya sinema yang berkualitas dan bermakna. (Christian Saputro)




