Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis – Pemerhati Lingkungan
Pagi itu, laut Tambak Rejo tidak benar-benar biru.
Airnya kecokelatan. Sampah plastik tersangkut di akar-akar bakau yang tersisa. Bau lumpur bercampur asin laut menguar pelan ketika ratusan orang mulai berjalan menyusuri pesisir Kampung Nelayan Tambak Rejo, Semarang Utara, Sabtu, 24 Mei 2026.
Mereka datang dengan sepatu penuh lumpur, topi sederhana, dan tangan yang siap kotor.
Sebagian adalah mahasiswa. Sebagian lagi aktivis lingkungan, rotarian, warga
kampung, hingga pejabat pemerintah. Ada yang membawa karung sampah. Ada yang memanggul bibit mangrove setinggi lutut. Di kejauhan, deretan rumah pesisir berdiri rapuh menghadapi abrasi yang datang sedikit demi sedikit setiap tahun.
Di tempat itulah Gerakan “Jogo Pesisir” dimulai.
Sebuah gerakan kecil yang percaya bahwa harapan kadang harus ditanam pelan-pelan di atas lumpur.
Rotary Club of Semarang Bimasena melalui inisiatif “Jogo Pesisir”, bersama program “SCU Care” dari BEM Soegijapranata Catholic University, Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan, serta WALHI Jawa Tengah, menggelar aksi bersih pesisir dan penanaman 3.000 bibit mangrove sebagai langkah awal pemulihan lingkungan kawasan Tambak Rejo.
Sekitar 120 relawan turun langsung ke pesisir.
Mereka membungkuk memunguti sampah yang terbawa ombak: botol plastik, sandal rusak, styrofoam, potongan kayu, hingga jaring nelayan yang koyak. Di bawah matahari yang mulai meninggi, lumpur hitam menelan kaki mereka hingga mata kaki.
Tetapi tidak ada yang benar-benar mengeluh.
Barangkali karena mereka tahu, pesisir ini terlalu lama dibiarkan menghadapi nasibnya sendiri.
Abrasi datang perlahan seperti penyakit kronis. Sedikit demi sedikit garis pantai mundur. Mangrove berkurang. Sampah terus berdatangan dari laut maupun daratan. Di beberapa titik, ombak bahkan nyaris menyentuh rumah-rumah warga.
“Kita sering bicara soal lingkungan, tapi lupa bahwa ada masyarakat kecil di pesisir yang hidup berdampingan langsung dengan krisis itu setiap hari,” kata Ketua BEM SCU, Ivan Oktavian.
Suara Ivan nyaris tenggelam oleh angin laut. Tetapi pesannya terasa jelas: menjaga lingkungan tidak bisa hanya berhenti sebagai slogan seminar atau unggahan media sosial.
Karena itu, pagi itu mereka memilih bekerja dengan tangan sendiri.
Satu demi satu bibit mangrove mulai ditanam di hamparan lumpur pesisir. Relawan membentuk barisan panjang. Ada yang menusukkan bambu penyangga. Ada yang menanam akar muda ke tanah basah. Ada pula yang jatuh tergelincir dan tertawa bersama.
Pemandangan itu terlihat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang diperjuangkan: ruang hidup.
Koordinator proyek Jogo Pesisir, Rotarian Mellisa Kristanti, menyebut gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa menjaga pesisir bukan pekerjaan sehari dua hari.
“Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?” ujarnya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi seperti menggantung lama di udara pesisir Tambak Rejo.
Menurut Mellisa, gerakan ini dimulai sejak Januari 2026 melalui diskusi bersama warga, akademisi, komunitas, dan organisasi lingkungan. Mereka menyadari bahwa menanam mangrove bukan sekadar menanam pohon.
“Mangrove itu tentang menjaga ekosistem, menjaga ruang hidup, dan menjaga masa depan masyarakat pesisir,” katanya.
Karena itu target mereka tidak berhenti pada 3.000 bibit.
Gerakan “Jogo Pesisir” menargetkan total 10 ribu mangrove ditanam secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak: mahasiswa, komunitas, pemerintah, aktivis lingkungan, hingga warga kampung sendiri.
Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, yang hadir pagi itu, melihat persoalan pesisir bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga kesehatan dan masa depan generasi.
“Kebersihan lingkungan memengaruhi kesehatan dan kecerdasan masyarakat,” katanya.
Ia menyinggung tingginya persoalan stunting di wilayah pesisir yang tidak hanya berkaitan dengan konsumsi makanan, tetapi juga kondisi lingkungan yang buruk.
Karena itu, bagi Siwi, gerakan menanam mangrove bukan sekadar penghijauan.
Ia adalah investasi sosial.
Di sisi lain, Presiden Rotary Club of Semarang Bimasena, Linggayani Soentoro, mengingatkan bahwa semangat utama gerakan ini adalah Service Above Self—melayani sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Dan pagi itu, di bawah matahari pesisir yang menyengat, slogan itu terasa hidup.
Mahasiswa-mahasiswa muda yang kemarin mungkin sibuk di ruang kelas kini berdiri di tengah lumpur. Tangan mereka kotor. Wajah mereka berkeringat. Tetapi mata mereka menyimpan semangat yang sulit dipalsukan.
Beberapa warga pesisir memandangi kegiatan itu dari depan rumah. Anak-anak kecil berlarian di tepi pantai sambil membawa bibit mangrove kecil di tangan mereka.
Mungkin mereka belum benar-benar memahami istilah “krisis iklim”.
Tetapi mereka tahu laut semakin dekat ke rumah.
Mereka tahu banjir rob datang lebih sering.
Dan mereka tahu pohon-pohon mangrove itu mungkin akan menjadi benteng pertama yang melindungi kampung mereka di masa depan.
Menjelang siang, ribuan bibit mangrove mulai berdiri di atas lumpur Tambak Rejo. Kecil. Rapuh. Diterpa angin laut.
Tetapi setiap pohon muda itu membawa satu hal yang mulai langka di banyak kota pesisir: harapan.
Harapan bahwa laut tidak selalu harus datang sebagai ancaman.
Harapan bahwa manusia masih bisa memperbaiki apa yang pernah dirusaknya.
Dan harapan bahwa dari lumpur hitam pesisir Semarang, masa depan yang lebih hijau masih mungkin tumbuh. (*)




