Mozaik Perang Kembang, Kecamuk Perang Batin di Panggung Kehidupan

Semarang – Perupa Gunawan Effendi menaya pameran tunggal bertajuk : “Mozaik Perang Kembang”. Gelaran pameran tunggalnya yang menaya karya mix media dan instalasi ini ditaja di Sanggar Greget, Pamularsih, Semarang, dari 2 – 4 Desember 2022.

Pameran tunggal Gunawan yang juga dikenal aktir seni pertunjukan ini dibuka dengan Perfoming art yang menarik. Atmasosfer Sanggar Greget yang artistik mendukung olahan kreativitas dari seniman Gunawan. Effendi. Begitu masuk ruang Sanggar Greget di sebelah kanan nampak dua karya instalasi Gunawan bertajuk : “Irama Rupa” dan “Transparan” disusun berjajar .

Irama Rupa Instalasi Karya Gunawan Effekti ( Christian Saputro)

Kemudian 5 karya lukisan Gunawan berukuran lumayan besar masing-masing bertajuk: “Rhukiyah”, “Buto”, “Cinta”, “Perang Buto”, dan “Perang Kembang” ditaja menyebar keliling ruangan dan juga terpajang sebuah kanvas kosong. Di sekitar lukisan ditata berbagai “ubo rampe” sesajen yang melengkapi. Yang menarik khusus lukisannya bertajuk : “Perang Kembang” dipajang khusus di atas panggung yang juga di kanan kiri panggungnya ada perangkat gamelan. Panggung ini menyiratkan sebuah pagelaran wayang.

“Perang Kembang” sendiri kalau merujuk pada jagad pewayangan merupakan salah satu bagian yang penting dan menarik di mata penikmat pertunjukan. Setidaknya kalau dalam pakeliran tradisi Yogyakarta, setidaknya ada tujuh kali adegan perangan dengan beragam karakteristik.

Dose FIB UGM Jurusan Sastra Nusantara Wisma Nugraha Christianto Rich, M.Hum., menyebutkan perang dalam pagelaran wayang kulit bisa ditafsirkan sebagai lukisan perjalanan emosi karena konflik individu yang berkembang ke pelibatan kelompok atau negara.

Begitu helat pembukaan akan dimulai para undangan duduk lesehan menghadap ke panggung. Seremoni tak berlarut-larut seperti pada acara pembukaan pameran seperti biasanya. Dengan rebat cekap Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Adhitia Armitrianto menyampaikan apresiasi dengan gelaran pameran “Mozaik Perang Kembang” yang ditaja pelukis Gunawan Efffendi .

“Pameran ini merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan Mas Gun . Perang Kembang ini sejatinya merupakan perang batin Mas Gun yang diejawantahkan ke dalam pameran seni rupa ini. Mudah-mudahan kita semua dan juga negara kita aman dari hal-hal buruk yang tidak kita inginkan, ” ujar Adit panggilan karib Ketua Dekase.

Perang Kembang, Perang Batin

Begitu Adit selesai ngudar wacana lampu dipadamkan. Para penabubuh gamelan disisi kanan bangun dan menari. Tarian menggambarkan adegan perang kembang.

Sementara di sisi kanan niyaga menabuh gamelan mengiri adegan perang kembang yang sedang berlangsung. Demikian juga lukisan bertajuk : “Perang Kembang” di atas panggung berubah menjadi media pakeliran wayang.

Disebaliknya dalang juga memainkan wayang mengusung lakon kisah “Perang Kembang”. Selama adegan “Perang Kembang” Gunawan terus bergerak melukisi kanvas kosong. Begtu adegan “Perang Kembang” rampung usai jugalah Gunawan melukis.

Dalam gelaran dialog sesusai pembukaan pameran Gunawan menggelar konsep kekaryaannya. Menurut dia gelaran ini sudah terkonsep sejak dari beberapa tahun lalu.Tetapi kesandung berbagai aral rintangan. Kemudian obsesi ini dikancah lagi bersama Mas Konde dan Mas Yoyok, kemudian diejawantahkan dalam pameran “Mozaik Perang Kembang”

Pertentangan antar keinginan, berpadu sampai pada sebuah harapan bahwa manusia harus bisanmemenangkan nafsu-nafsu yang melingkupinya.

“Sejatinya “Mozaik Perang Kembang” ini merupakan perang batin saya. Persoalan-persoalan yang berkelindan dalam kehidupan keseharian saya. Perang batin antara kebaikan dan kebatilan.Setiap orang berpotensi untuk menjadi buto,” ujar pembina Dekase ini.

Perupa akelahiran Brebes 10 Agustus 1958 ini menambahkan, tokoh Buto Cakil dalam perang kembang tidak selamanya yang dipandang secara kasat mata (syariat itu keburukan. “Tokoh Cakil saya ambil karena sejatinya dia bukan tokoh buruk rupa. Cakil tokoh yang bertanggungjawab atas wilayahnya. Berani berkorban membela wilayah yang dia kuasai,” ujar Gunawan mengudar pandangannya.

Dalam pagelaran wayang tampilnya “Gara-gara” yang kemudian dirangkai Perang Kembang juga menyiratkan pesan bahwa dalam alur kehidupan, susah senang silih berganti. Lumrah pada sebuah perjalanan perjuangan mencapai keluhuran cita-cita, tiap manusia diuji gangguan dari luar (gara-gara) maupun dari pribadi berupa nafsu-nafsu (Perang Kembang).

Sebelum gelaran pameran tunggal :“Mozaik Perang Kembang” ini Gunawan membukukan pameran bersama antar lain; Sesajen (TBRS) Healing (Front Hotel), Rezim (Serikat Dagang Kopi), Traumatofobia (TBRS), Rekam Rekrut (TBRS), Leyeng (TBRS), One Heart For Second Hope (Nestologi), Exodus Project (TBJT Surakarta), KOTA (Kota Lama), Etalase Dunia Rupa (Dahara Gallery) Soul On Pa Expert (Galeri Joglo), Art For Democration ( Galeri PKJT), Kaki Langit Biru (Museum RonggoWarsito) dan Semarang Koerong Boeka (Hotel Dibya Puri) (Christian Saputro)


Posted

in

by

Tags: