SEMARANG – Aroma kopi yang menggugah selera di Klarisan Coffe & Eatery, yang terletak di Jalan Kyai Saleh No. 10, Mugassari, Semarang, segera berpadu dengan keheningan kontemplatif warna biru. Mulai 10 hingga 20 April 2026, ruang publik yang biasanya riuh oleh obrolan pelanggan itu bertransformasi menjadi galeri seni inklusif bertajuk “Blue: Seni Rupa, Inklusi, dan Harmoni dalam Perbedaan”.
Pameran ini bukan sekadar etalase karya biasa. Digelar oleh Roemah Difabel Semarang berkolaborasi dengan Klarisan Coffe & Eatery, acara ini menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia (2 April). Di sini, 30 hingga 40 kanvas dari para seniman difabel, khususnya mereka yang berada dalam spektrum autisme, berbicara tanpa suara, mengundang pengunjung untuk menyelami dunia mereka.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya estetis, tetapi juga edukatif dan inklusif,” ujar Faradela Hoata, Ketua Panitia, saat ditemui di lokasi, Rabu (1/4/2026). Menurutnya, seni rupa adalah jembatan paling efektif untuk mendekatkan isu neurodiversitas kepada publik. “Masyarakat perlu memahami bahwa keberagaman cara berpikir dan berekspresi adalah sebuah kekayaan, bukan kekurangan,” tambahnya.
Warna biru dipilih sebagai benang merah pameran ini. Ia bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol ketenangan, refleksi, dan solidaritas global terhadap autisme. Dalam balutan warna tersebut, pengunjung akan disuguhi beragam gaya lukisan, mulai dari aliran naif yang polos dan jujur, abstrak yang penuh interpretasi liar, hingga ekspresionis yang memuntahkan emosi secara langsung.
Bagi Noviana Dibyantari, Founder Roemah Difabel, pameran ini adalah ruang penting bagi seniman difabel untuk menyuarakan dunia internal mereka. “Seni adalah bahasa yang melampaui kata-kata. Bagi teman-teman dalam spektrum autisme, karya visual sering kali menjadi satu-satunya cara utama untuk bercerita tentang bagaimana mereka melihat dunia,” jelasnya.
Proses kreatif para seniman difabel ini tidak lepas dari bimbingan Giovanni Susanto, yang bertindak sebagai mentor. Giovanni mendampingi para seniman dalam mengembangkan teknik dan menemukan gaya khas masing-masing. “Setiap seniman memiliki keunikan tersendiri. Tugas saya adalah membantu mereka mengekspresikan visi mereka tanpa menghilangkan identitas pribadi,” ujar Giovanni.
Delapan seniman difabel yang memamerkan karya mereka dalam pameran ini adalah Willi, Danang, Sheva, Nike, Rafi, Steven, Ara, dan Dika. Masing-masing menampilkan karya dengan karakter berbeda, mencerminkan pengalaman personal dan cara pandang unik mereka terhadap dunia.
Noviana menekankan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menghapus sekat. Bukan hanya memajang karya di dinding, pameran ini membuka ruang interaksi setara antara seniman dan masyarakat. “Kami ingin pengunjung bisa melihat langsung potensi dan keunikan ekspresi mereka, berdialog, dan memahami bahwa di balik keterbatasan tertentu, tersimpan kreativitas yang luar biasa,” katanya.
Kolaborasi dengan sektor swasta juga menjadi sorotan. Melly Pangestu, Owner Klarisan Coffe & Eatery, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah konkret menciptakan ruang publik yang ramah bagi semua kalangan di kawasan Mugassari. “Kafe seharusnya menjadi rumah bagi semua orang. Kami ingin memberikan ruang bagi sahabat difabel untuk berekspresi dan unjuk kebolehan. Harapannya, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana dan kopi, tetapi juga membawa pulang pemahaman baru tentang inklusi,” tuturnya.
Pameran ini dikuratori oleh Christian Heru Cahyo Saputro, yang dengan cermat merancang tata letak karya menyatu dengan atmosfer santai kafe. Pendekatan ini sengaja diambil agar apresiasi seni terasa lebih akrab dan tidak mengintimidasi. Pengunjung dapat menikmati goresan kuas sambil menyesap kopi, menciptakan dialog sosial yang organik di tengah kenyamanan Jalan Kyai Saleh.
Selain pameran statis, rangkaian acara diperkaya dengan berbagai kegiatan pendukung. Saat pembukaan, akan ada sesi live painting di mana pengunjung bisa menyaksikan proses kreatif para seniman secara langsung. Diskusi santai bertema “Ngopi Bareng Seniman” juga dijadwalkan untuk memfasilitasi pertukaran pikiran. Tak ketinggalan, workshop melukis inklusif akan digelar setiap akhir pekan, mengundang masyarakat umum untuk belajar berkarya bersama tanpa sekat.
Aspek pemberdayaan ekonomi juga menjadi inti dari pameran ini. Seluruh karya yang dipamerkan tersedia untuk dibeli oleh publik. Hasil penjualan akan dikembalikan sepenuhnya untuk mendukung kesejahteraan dan pengembangan kreativitas para seniman difabel. Dengan skema ini, pameran “Blue” tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi budaya, tetapi juga sebagai instrumen nyata untuk kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Melalui pameran ini, Roemah Difabel dan mitranya berharap dapat menanamkan kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah batas pemisah, melainkan sumber harmoni yang memperkaya kehidupan bersama. Sebagaimana warna biru yang mendominasi ruangan, diharapkan kedamaian dan pemahaman baru turut meresap dalam hati setiap pengunjung yang melangkah keluar dari Klarisan.
Pameran dibuka untuk umum secara gratis setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB. Masyarakat diundang untuk datang ke Jalan Kyai Saleh No. 10, Mugassari, melihat, dan merasakan langsung bagaimana goresan kuas delapan seniman difabel—Willi, Danang, Sheva, Nike, Rafi, Steven, Ara, dan Dika—mampu menceritakan kisah kemanusiaan yang mendalam, membuktikan bahwa seni memang milik semua orang, tanpa terkecuali. (Christian Saputro)




