Surabaya – Suasana di kompleks Balai Pemuda Surabaya mendadak riuh. Namun, bukan oleh teriakan demonstran, melainkan oleh deretan kanvas yang “bersuara”. Sebanyak 38 pelukis yang tergabung dalam Komunitas Aksi Seniman Surabaya (ASSU) menggelar pameran bertajuk perlawanan sebagai respons atas terbitnya surat perintah pengosongan gedung pada April 2026 yang dinilai sepihak.
Bagi para seniman, Balai Pemuda bukan sekadar bangunan warisan kolonial, melainkan ruang hidup dan rumah kreatif yang telah mereka tempati sejak era 1970-an. Tempat ini menjadi saksi perjalanan panjang praktik seni rupa di Kota Pahlawan.
“Kami tidak ingin melawan dengan cara arogan. Kami menunjukkan bahwa seniman juga punya kontribusi nyata bagi pembangunan Surabaya,” ujar salah satu seniman senior yang telah berkarya sejak 1977. Ia menilai, kebijakan pengosongan tersebut terasa janggal karena muncul dari level birokrasi bawah tanpa kejelasan restu dari pimpinan kota.
Kegelisahan itu kemudian diterjemahkan ke dalam karya-karya simbolik yang kuat. Lukisan berjudul “Zikir Kain Kafan” karya Ari Wartono menjadi salah satu yang menyedot perhatian. Karya tersebut merepresentasikan doa sekaligus perlindungan bagi komunitas seniman yang terancam terusir.
Di sisi lain, lukisan “Wisanggeni Melawan” menghadirkan metafora dari Wisanggeni, sosok yang dikenal berani menggugat para dewa demi kebenaran. Simbol ini menjadi cermin sikap para seniman yang memilih menyuarakan kritik melalui estetika, bukan konfrontasi.
Meski sempat memanas, konflik ini perlahan menemukan titik terang melalui jalur negosiasi. Dispensasi sementara diberikan, sehingga aktivitas berkesenian di Balai Pemuda tetap berjalan.
Melalui pameran ini, para seniman menyampaikan pesan bahwa kehadiran mereka bukanlah penghambat pembangunan kota. Sebaliknya, mereka adalah bagian penting dari denyut pariwisata dan kebudayaan Surabaya. Kota yang maju, menurut mereka, adalah kota yang mampu merawat sejarah sekaligus memberi ruang bagi ekspresi kreatif.
Aksi ini menjadi penegasan bahwa perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk demonstrasi jalanan. Di tangan para seniman Balai Pemuda, perlawanan menjelma dalam garis, warna, dan simbol—sebuah bahasa sunyi yang justru lantang menyuarakan keadilan. (Della/Ch Saputro)




