“Tok Panjang” Jamuan Makan Untuk Merawat Keberagaman

Plt Walikota Semarang Hevearita G Rahayu bersama Kapoltabes mengaduk-aduk nasi ulama bunga telang simbol kebhinekaan dalam jamuan Imlek Tok Panjang. ( Christian Saputro)

Semarang – Kaum Tionghoa Semarang punya tradii sendiri dalam merawat toleransi dan keberagaman salah satunya lewat jamuan makan bersama. Tradisi “Tok Panjang” yang diinisiasi Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) sekaligus peresmian pembukaan Pasar Imlek Semawis (PIS) yang mengusung tema: “Hanebu Sauyun” digelar di Gang Warung, Kranggan, Semarang, Jumat (20/01/2023).

Gelaran acara ini selain dihadiri Plt Walikota Hj Hevearita G Rahayu, Forkompida, Kadisbudpar Wing Poespo Joedho, tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Bersama menyanyikan lagu “Indonesia Lusaka” mengawali gelaran Tok Panjang. (Christian Saputro)

Plt Walikota Semarang Hj Hevearita G Rahayu dalam sambutannya sangat mengapresiasi warga pecinan Semarang yang telah menggelar beberapa rangkaian acara menyambut imlek. Gelaran acra menunjukan adanya kebersamaan, keberagaman dan toleransi anatar warga Semarang. Sebelumnya ada doa bersama dan slametan “ketuk pintu” di Klenteng Tay Kak Sie yang diselenggarakan dengan cara adat Jawa dan didoakan secara agama Islam.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

“Ada acara Ji Kau Me di Pasar Gang Baru yang merupakan tradisi belanja dua hari sebelum hari raya Imlek . Tadi saya sempat belanja dan membagi-bagikan terong susu yang melambangkan kemakmuran,” ujar Mbak Ita.

Mbak Ita berharap Ketua Kopi Semawis Harjanto Halim yang telah mandegani keberhasilan Pasar Semawis untuk mengembangkan Pasar Gang Baru.

“Kalau siang tetap berfungsi untuk pasar kebutuhan keseharian, sedangkan kalau malam hari untuk kulineran, pasar pakaian dan Pernik-pernik lainnya. Kalau ditata tak kalah seperti yang ada di Malaysia dan Singapura, bisa menjadi destinasi yang menarik,” ujar Mbak Ita.

Pada kesempatan itu, mbak Ita juga mengucapkan selamat hari raya Imlek kepada warga Semarang yang merayakan agar mendapat keberkahan kesehatan dan rejeki di tahun kelinci air ini

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), mengatakan merasa sangat bersyukur bisa menggelar acara Pasar Imlek Semawis setealh absen selama 2 tahun karena pandemi Covid -19.

“Pada tahun ini Pasar Imlek Semawis dikembalikan ruhnya kembali dengan gelaran acara Ji Kau Meh. Ini atas pemintaan warga RT dan RW setempat. Ji Kau Meh sebuah tradisi belanja kebutuhan dua hari menjelang Imlek,” terang Harjanto.

Lebih lanjut dipaparkan, sedangkan jamuan Tuk Panjang ini merupakan sebuah tradisi khas Kota Semarang dalam menyambut tahun baru Imlek 2574. “Kali ini sajian menu utamanya Nasi Ulam Bunga Telang yang mempunyai makna fiilosofi tentang persatuan dan keberagaman di Kota Semarang, diwujudkan dalam sebuah menu kuliner. Mencampur nasi bunga telang dengan semua kondimen yang ada diaduk-aduk bersama baru dinikmati,” ujar Harjanto

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Menurut Harjanto ruh dari perayaan Imlek itu sendiri adalah rasa bersyukur dan berkumpul. Makan bersama di Tok Panjang mencerminkan ruh perayaan Imlek. “Untuk itu, semoga keberlimpahan, kesehatan, umur panjang serta keharmonisan selalu mewarnai kehidupan kita memasuki tahun kelinci air,” kata Harjanto Halim yang juga merepukan Ketua Perkumpulan Rasa Dharma.

Sementara itu, Ketua Harian Porinti Yoga Pangemanan menyampaikan, sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Semarang yang telah mendukung sehungga rangkaian perayaan Imlek di Kota Semarang berjalan dengan lancar dan kondusif.

“Semua itu berkat kerjasama yang baik dan dukungan Pemkot Semarang di bawah pimpinan Plt Walikota Semarang Ibu Hevearita G Rahayu,” ujar Yoga Pangemanan. (Christian Saputro)