Palembang – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Sumatera Selatan sepanjang 2026 masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Laporan yang masuk menunjukkan mayoritas pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sumsel Muhammad Zaki Aslam mengatakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami peningkatan sepanjang tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Dialog Palembang Menyapa, Jumat, 8 Mei 2026.
Menurut Zaki, hingga saat ini terdapat 49 kasus yang tercatat dalam penanganan perlindungan perempuan dan anak.
“Pada tahun 2026 ini kasus yang masuk sudah mencapai 49 kasus dan mengalami peningkatan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan daerah dengan angka kasus tertinggi di antaranya Muara Enim, Ogan Komering Ilir, dan Lahat. Seluruh laporan tersebut tercatat melalui sistem SIMFONI PPA.
Advertisement
Zaki menuturkan sebagian besar kasus kekerasan seksual terhadap anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat korban. Pelaku disebut berasal dari lingkungan keluarga maupun lingkungan pendidikan.
“Laporan yang masuk di SIMFONI PPA kebanyakan dilakukan oleh orang terdekat, baik keluarga maupun lingkungan sekolah,” katanya. Pemerintah daerah bersama kabupaten dan kota disebut terus memperkuat program perlindungan anak.
Salah satu program yang dijalankan yakni Ruang Bersama Indonesia yang dibentuk hingga tingkat desa. Program tersebut diharapkan menjadi ruang aman bagi masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan.
Advertisement
Selain itu, pemerintah juga melibatkan relawan SAPA yang tersebar di sejumlah desa untuk membantu penanganan awal kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Masyarakat juga dapat melapor melalui layanan SAPA 129 untuk ditindaklanjuti pemerintah daerah terkait.
Dalam kesempatan yang sama, Psikolog Sumsel Asiawatie Sulasti menjelaskan tanda awal anak korban kekerasan seksual umumnya terlihat dari perubahan perilaku. Anak cenderung menjadi tertutup, takut, dan kehilangan rasa percaya diri.
“Biasanya anak menjadi kurang percaya diri, ada rasa takut, dan lebih menutup diri. Orang tua harus peka melihat perubahan perilaku anak,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya dukungan emosional keluarga dalam proses pemulihan psikologis anak korban.




