Semarang — Program pendidikan nilai dan kebudayaan SEMAi Anak Semarang Damai (ASD) #5 dipastikan siap digelar setelah masa pendaftaran resmi ditutup. Kegiatan yang diinisiasi EIN Institute bekerja sama dengan Pelita ini akan berlangsung pada Minggu, 11 Januari 2026, pukul 08.00–13.00 WIB.
Mengangkat tema “Belajar Sejarah dan Nilai Luhur Penghayat Sapta Darma”, SEMAi ASD #5 akan dilaksanakan di Sanggar Candi Busana, kawasan Desa Wisata Kreatif Perdamaian Srumbung Gunung, Poncoruso, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai merepresentasikan ruang belajar yang dekat dengan nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal.
Program ini menyasar anak-anak usia 10–13 tahun atau setara kelas 4 SD hingga 1 SMP. Melalui pendekatan edukatif dan dialogis, peserta diajak mengenal sejarah lokal serta nilai-nilai luhur penghayat Sapta Darma sebagai bagian dari kekayaan spiritual Nusantara. Selain itu, kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi anak untuk belajar menghargai perbedaan dan menumbuhkan sikap damai sejak dini.
Ketua Pelaksana SEMAi Anak Semarang Damai #5, Ellen Kristi dari EIN Institute, mengatakan SEMAi merupakan singkatan dari “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”, sebuah ikhtiar berkelanjutan untuk memperkuat karakter anak di tengah masyarakat yang majemuk.
“SEMAi bukan sekadar kegiatan edukasi, tetapi upaya menanamkan kesadaran bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman. Anak-anak perlu dikenalkan pada nilai-nilai luhur, termasuk dari penghayat Sapta Darma, agar tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, berempati, dan saling menghormati,” ujar Ellen.
Kegiatan ini bersifat gratis dan mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya MariMas, JUMBO, serta jejaring Anak Semarang Damai. Tingginya minat masyarakat terlihat dari cepatnya kuota peserta terpenuhi sebelum batas akhir pendaftaran.
Melalui SEMAi Anak Semarang Damai #5, penyelenggara berharap ruang-ruang belajar alternatif berbasis budaya dan nilai luhur lokal semakin berkembang, sekaligus berkontribusi dalam membangun generasi muda yang toleran, berakar pada kearifan lokal, dan berdaya di tengah keberagaman.(Christian Saputro)




