SEMARANG – Angin malam di Kota Lama Semarang selalu membawa aroma sejarah yang khas. Di sana, di antara bangunan kolonial yang diterangi lampu temaram, dentingan gamelan tidak lagi terkurung di dalam gedung pertunjukan yang megah. Ia mengalir bebas di trotoar, menyapa pejalan kaki, turis, dan anak muda yang lewat.
Di situlah, di Theater Oudetrapp, setiap Jumat pada minggu kedua bulan, sebuah keajaiban kecil terjadi. Para seniman dari Wayang Orang Ngesti Pandowo—sebuah nama legendaris yang telah berdiri puluhan tahun—turun dari “tahta” tradisi mereka untuk bermain di jalanan. Mereka melakukannya bukan karena pilihan, melainkan karena kebutuhan untuk bertahan hidup.
“Wayang On The Street lahir dari keterbatasan, tetapi tumbuh dari ketekunan,” kata Krisna Piyastika, Ketua Tim Kreatif Wayang on the Street. Kalimat itu sederhana, namun menyimpan beban sejarah panjang.
Pandemi COVID-19 hampir meremukkan tulang punggung kesenian ini. Selama tiga tahun, puluhan penari, dalang, dan pengrawit kehilangan penghasilan. Penonton menyusut drastis, sering kali kalah jumlah oleh para pemain di atas panggung. Tradisi yang pernah menjadi primadona hiburan Jawa sejak abad ke-18 itu terancam punah, tertelan oleh deru budaya populer digital.
Namun, alih-alih menyerah, komunitas seni Kota Lama Semarang justru melakukan hal yang tak lazim: mereka membawa wayang keluar. Mereka mendobrak tembok eksklusivitas gedung pertunjukan dan menghadirkan seni ini langsung ke hadapan publik. Hasilnya mengejutkan. Generasi muda, yang sebelumnya acuh tak acuh, mulai berhenti, menonton, dan akhirnya jatuh cinta kembali pada keindahan gerak dan cerita pewayangan.
Keberhasilan lokal inilah yang kemudian membuka pintu selebar-lebarnya menuju benua Eropa.
Pada 13–20 Mei 2026, jejak langkah itu tidak lagi berakhir di aspal Kota Lama. Ia melintasi samudra, mendarat di Rijswijk dan Nijmegen, Belanda. Melalui program Wayang On The Street: Festival Kota Lama Goes to The Netherlands, Ngesti Pandowo tidak hanya tampil; mereka bercerita.
Selama sepekan sebelum puncak acara, publik Belanda dimanjakan dengan ragam lakon seperti Sang Srikandi, Sang Bima, Petruk Dadi Ratu, dan Sang Gatotkaca. Bukan hanya wayang, tarian klasik Jawa juga disajikan dalam parade budaya dan workshop interaktif di Pasar Indonesia De Broodfabriek. Suasana riuh rendah penonton Belanda yang penasaran bercampur dengan khusyuknya alunan gamelan menciptakan harmoni budaya yang unik.
“Indonesia memiliki energi budaya yang sangat kuat,” ujar Jeldert de Boer, Direktur De Broodfabriek sekaligus pengelola Pasar Indonesia. Baginya, kehadiran wayang di ruang publik Eropa bukan sekadar eksotisisme, melainkan pertemuan dua jiwa yang saling belajar. “Kami merasa terhormat dapat menjadi ruang pertemuan budaya Indonesia dan masyarakat Belanda.”
Bagi Arnaud Kokosky Defochaux, Direktur Artistik Pasar Indonesia, konsep “on the street” adalah kunci relevansi. “Wayang bukan hanya warisan masa lalu, tetapi bahasa budaya yang masih hidup,” katanya. Ia ingin membuktikan bahwa tradisi bisa cair, terbuka, dan dinikmati siapa saja, tanpa sekat kelas atau jarak geografis.
Puncak dari perjalanan panjang ini terjadi pada 20 Mei 2026 di Theater De Klif, Nijmegen. Lakon Dewa Ruci dipentaskan dalam format kolaboratif bersama Danskollektief Monk From The Netherlands. Di atas panggung itu, estetika Timur bertemu dengan kontemporer Eropa. Tidak ada lagi jarak antara “kita” dan “mereka”. Yang ada hanyalah dialog seni yang universal.
Sebanyak 15 seniman dan budayawan Indonesia, termasuk jajaran inti Ngesti Pandowo, menjadi duta diam-diam dalam misi ini. Mereka membawa serta semangat regenerasi dan kebanggaan identitas.
Kini, ketika gong terakhir ditabuh di Belanda, gaungnya seolah kembali memantul ke Semarang. Dari jalanan kota tua yang sunyi, wayang orang telah membuktikan bahwa tradisi bukanlah fosil yang harus dikurungi di museum. Ia adalah makhluk hidup yang bernapas, bergerak, dan mampu menempuh jarak ribuan kilometer—selama ada tangan-tangan yang mau menjaganya dengan kreativitas dan keberanian.
Ini bukan sekadar ekspor budaya. Ini adalah bukti bahwa dari trotoar sederhana, mimpi bisa terbang set inggi langit Eropa. (Christian Saputro)




