Siang itu, ruang pamer di Alliance Française Semarang, Kaliwiru, tak hanya dipenuhi lukisan dan percakapan, tetapi juga riuh protokoler. Para tamu berdiri rapi. Kamera-kamera siap siaga. Di tengah kerumunan, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, melangkah didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari. Pameran bertajuk “Liberté d’Inclusion” itu menjadi ruang temu sahabat-sahabat difabel, seniman, dan para pemangku kebijakan.
Namun di sudut ruangan, ada yang bekerja dalam sunyi.
Seorang lelaki dengan papan gambar di tangan berdiri setengah membelakangi kerumunan. Tatapannya tajam, tapi tenang. Jemarinya bergerak cepat, seolah telah hafal arah cahaya dan lekuk wajah yang ia bidik. Dialah Yoyok Barokallah—pemburu ekspresi, penjaga wajah-wajah kota.
Tak banyak yang menyadari apa yang ia lakukan. Di tengah sambutan resmi dan kilatan kamera, pensil Yoyok menari pelan tapi pasti. Garis demi garis lahir, membentuk kontur wajah Sumarno dan Indriyasari. Ia tak meminta mereka berpose. Ia tak menghentikan langkah mereka. Ia hanya menangkap momen—cepat, presisi, nyaris tanpa jeda.
Beberapa menit kemudian, sketsa itu rampung.
Ketika Yoyok, didampingi Direktur AF Semarang, menyerahkan hasil karyanya, suasana mendadak berubah. Kedua pejabat itu terkejut. Bukan hanya karena kemiripan yang nyaris sempurna, tetapi karena ada sesuatu yang lebih dari sekadar rupa: kehangatan, ketulusan, dan barangkali sedikit kerentanan yang jarang tertangkap kamera resmi.
Tepuk tangan pecah. Namun Yoyok hanya tersenyum tipis. Ia telah terbiasa bekerja dalam diam.
Malam hari, beberapa kilometer dari Kaliwiru, Yoyok kembali ke habitatnya yang paling jujur: trotoar depan Gedung Marba, di jantung Kota Lama Semarang. Lampu-lampu kuning memantul di dinding bangunan tua. Angin membawa aroma laut yang samar. Di sana, tanpa panggung dan protokol, ia duduk bersahaja dengan papan gambar di pangkuannya.
Tak ada jarak antara ia dan orang-orang yang ia gambar. Sepasang muda-mudi duduk berhadapan dengannya. Seorang anak kecil tak sabar melihat wajahnya “dipindahkan” ke kertas. Turis mancanegara memperhatikan dengan takjub.
“Sepuluh sampai lima belas menit,” ucap Yoyok pelan setiap kali ditanya.
Namun lima belas menit di tangannya bukan sekadar durasi. Ia adalah peristiwa. Kenangan yang bisa dibingkai. Sudah ribuan orang mengoleksi karya sketsanya—wajah-wajah yang kini tersebar ke berbagai kota dan negara, menjadi pengingat bahwa mereka pernah singgah di Semarang dan disapa oleh seorang seniman jalanan yang membaca jiwa lewat arsiran.
Bagi Yoyok, setiap wajah punya cahaya. “Tugas saya menemukan cahaya itu,” katanya suatu malam, tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
Ia tak sekadar menggambar bentuk. Ia memburu getar di balik senyum, letih di balik mata, atau harap yang tersembunyi di sudut bibir. Mungkin itulah sebabnya sketsanya terasa hidup.
Meski dikenal sebagai pesketsa jalanan, Yoyok tak berhenti di trotoar. Di kawasan Sam Poo Kong, ia memiliki studio kerja. Di sana, dinding-dinding dipenuhi lukisan dan sketsa berbagai ukuran. Jika di Kota Lama ia bekerja dengan ritme cepat, di studio ia menyelam lebih dalam—mengolah detail, memperkaya bayangan, memberi napas lebih panjang pada setiap karya.
Turis yang pernah ia gambar di depan Marba kerap kembali, memesan lukisan lebih besar. Beberapa kolektor mancanegara bahkan mengirimkan foto dari negeri jauh, mempercayakan kenangan mereka pada tangan Yoyok.
Namun sehebat apa pun pesanan dan panggung yang ia singgahi, ia selalu kembali ke jalanan. Kembali ke kursi kecilnya. Kembali pada suara langkah kaki dan tawa yang mengalun di antara bangunan tua.
Ia pernah menggambar seorang ibu bersama anak difabelnya yang memamerkan karya di “Liberté d’Inclusion”. Pernah pula menggambar pasangan lansia yang merayakan ulang tahun pernikahan di Kota Lama. Ada air mata, ada tawa, ada diam yang sarat makna—semuanya terekam dalam hitam putih yang sederhana.
Apa yang terjadi di ruang pamer AF Semarang hari itu hanyalah satu episode dari perjalanan panjangnya. Ketika ia mengejutkan Sekdaprov dengan sketsa cepat, sesungguhnya ia sedang melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan setiap akhir pekan: mengabadikan manusia dalam momen paling jujur mereka.
Di antara sorot lampu galeri dan hiruk pikuk birokrasi, Yoyok menghadirkan sesuatu yang tak bisa diatur protokol: keintiman.
Kota boleh berubah. Kafe-kafe baru tumbuh. Wisatawan datang dan pergi. Pejabat silih berganti. Namun setiap akhir pekan, di bawah cahaya lampu Kota Lama, Yoyok Barokallah tetap duduk dengan pensilnya.
Ia menolak lupa pada wajah-wajah yang singgah.
Ia menjaga agar Semarang tak hanya dikenang lewat gedung-gedung tuanya, tetapi juga lewat garis-garis halus yang menyimpan cerita manusia.
Dan mungkin, di antara ribuan kertas yang telah ia isi, ada satu karya yang paling tak terlihat namun paling bermakna: potret kota itu sendiri—hidup, beragam, dan selalu menemukan cahayanya. (Christina Saputro)




