Bandung, 14 Februari 2026 — Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa naskah kuno Nusantara tidak boleh lagi dipandang sekadar peninggalan sejarah. Lebih dari itu, manuskrip-manuskrip tersebut merupakan “model dari masa lalu” sekaligus “modal pembangunan hari ini dan masa depan”.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Naskah Kuno sebagai Kajian Interdisipliner Rumah Naskah Nusantara di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, belum lama ini.
Menurut Aminudin, para pendiri bangsa telah menggali khazanah keindonesiaan dari peninggalan leluhur. Karena itu, naskah Nusantara harus dilihat sebagai sumber inspirasi dan solusi bagi tantangan kebangsaan kontemporer.
“Dengan cara pandang ini, naskah kuno yang sebelumnya diabaikan atau dibiarkan rusak oleh waktu, justru menjadi potensi besar dalam membangun Indonesia yang bermartabat,” ujarnya.
Ia mencontohkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang terinspirasi dari karya Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma pada masa Majapahit. Selain itu, prinsip tritangtu yang bersumber dari Sang Hyang Siksa Kandang Karesian menjadi pedoman moral kepemimpinan Sunda. Pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf Makassar juga disebutnya telah menginspirasi dunia dalam isu keadilan dan kesetaraan.
Perluasan Lintas Ilmu dan Generasi
Aminudin menilai dunia pernaskahan yang selama ini identik dengan filologi perlu diperluas secara lintas disiplin, lintas generasi, dan lintas pemangku kepentingan.
“Fenomena ketahanan pangan, ekologi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga persoalan sosial harus dipandang secara multiperspektif. Naskah tidak lagi sekadar ajimat, tetapi sumber alternatif solusi yang relevan dan aktual,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pelibatan generasi muda. Menurutnya, pelestarian manuskrip tidak bisa hanya bertumpu pada akademisi senior.
Komunitas Rumah Naskah Nusantara di Ciamis disebut sebagai contoh nyata keterlibatan anak muda dalam merawat dan menghidupkan kembali khazanah pernaskahan.
Ingatan Kolektif Bangsa
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurrahman, menegaskan bahwa manuskrip menyimpan ingatan kolektif bangsa.
“Merawat manuskrip tidak cukup hanya di permukaan. Perlu pengarusutamaan agar masyarakat luas memahami pengetahuan dan kearifan di dalamnya,” katanya.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara negara, komunitas, perguruan tinggi, hingga pemilik naskah. Menurutnya, pelestarian manuskrip bukan tugas satu dua orang, melainkan gerakan bersama.
Seminar tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara Gunari Putra Erisman, Ketua Manassa Komisariat Jawa Barat Rahmat Sopian, serta sejumlah akademisi dan filolog dari berbagai perguruan tinggi.
Dengan semangat kolaborasi lintas batas, Perpusnas berharap naskah kuno Nusantara tidak hanya diselamatkan secara fisik, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai sumber gagasan dan inspirasi pembangunan bangsa. (Christian Saputro)




