Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro,Jurnalis
Sore itu, cahaya matahari jatuh lembut di pelataran Lapangan Banteng. Lampion-lampion merah bergoyang pelan ditiup angin Februari. Di kejauhan, tabuhan tambur barongsai terdengar seperti detak jantung yang dipercepat—berpadu dengan riuh suara warga yang memadati lapangan. Jakarta seakan berhenti sejenak, memberi ruang bagi satu perayaan yang tak lagi sekadar milik satu etnis: Imlek Nusantara.
Parade Harmoni Imlek Nusantara 2026 dimulai dari atas Terowongan Silaturahmi, penghubung dua rumah ibadah besar: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Pilihan lokasi itu bukan kebetulan. Ia adalah simbol yang sengaja ditegaskan—bahwa perayaan ini berdiri di atas fondasi perjumpaan, bukan perbedaan.
Di titik itulah Menteri Agama sekaligus Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, membuka acara. Ia berdiri berdampingan dengan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Tiga sosok dari latar berbeda, dalam satu panggung, menyampaikan pesan yang sama: harmoni bukan sekadar wacana, melainkan kerja bersama yang harus terus dirawat.
Parade bergerak perlahan. Barisan polisi satwa tampil membuka jalan, disambut tepuk tangan anak-anak yang berdiri di sisi rute. Ondel-ondel Betawi menyusul, menari di antara naga liong yang meliuk-liuk lincah. Di belakangnya, tarian dari berbagai daerah—Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku—berbaur dalam satu arak-arakan. Merah lampion bertemu warna-warni kain tradisional. Tak ada yang lebih dominan; semua saling melengkapi.
Barongsai menjadi magnet utama. Setiap lompatan disambut sorak-sorai. Gerakan atraktifnya memantulkan semangat baru: bahwa kebudayaan Tionghoa tak lagi berdiri di ruang tertutup, melainkan di tengah lapangan kota, di hadapan siapa saja. Anak-anak merekam dengan gawai, orang tua tersenyum, sebagian mengangguk pelan seakan menyadari bahwa yang mereka saksikan lebih dari sekadar pertunjukan.
Momentum ini terasa kian bermakna karena hadir di bulan Ramadan. Sebagian warga datang setelah berbuka puasa, sebagian lagi menunggu azan magrib sambil menikmati parade. Di ruang yang sama, orang-orang dengan latar iman berbeda berdiri berdampingan tanpa canggung. Terowongan Silaturahmi tak hanya menjadi infrastruktur fisik, melainkan metafora tentang jembatan batin yang sedang dibangun.
Sejarah mencatat, Imlek pernah mengalami masa redup di ruang publik Indonesia. Ada masa ketika identitas Tionghoa dibatasi, dirayakan diam-diam, bahkan disembunyikan. Reformasi membuka kembali pintu itu. Sejak saat itu, Imlek perlahan kembali ke panggung terbuka—dan hari ini, ia berdiri di jantung ibu kota.
Di sudut lapangan, bazar UMKM menyuguhkan kue keranjang berdampingan dengan sate dan pempek. Anak-anak berfoto di depan instalasi shio, sementara orang dewasa berbincang tentang makna kebhinekaan. Perayaan ini bergerak melampaui seremoni. Ia menyentuh ekonomi kecil, percakapan lintas iman, hingga kesadaran bahwa Indonesia dibangun oleh banyak tangan dari beragam asal-usul.
Penutupan sementara arus lalu lintas di sekitar Katedral dan Istiqlal menjadi tanda bahwa kota memberi ruang bagi perayaan ini. Aparat berjaga, memastikan keamanan. Namun yang lebih terasa adalah ketertiban warga—kesediaan untuk berbagi ruang dan waktu.
Imlek Nusantara 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pernyataan kultural. Bahwa merah tak lagi dipandang asing. Bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan fondasi. Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap memanas, parade ini seperti jeda yang menenangkan: mengingatkan bahwa Indonesia lahir dari persilangan sejarah, budaya, dan keyakinan.
Ketika senja turun dan lampion mulai menyala lebih terang, warga belum beranjak. Mereka tak sekadar menyaksikan pertunjukan; mereka menyaksikan kemungkinan. Kemungkinan bahwa ruang publik bisa menjadi ruang bersama. Kemungkinan bahwa perayaan satu komunitas bisa menjadi kegembiraan semua orang.
Imlek Nusantara, pada akhirnya, adalah tentang keberanian membuka diri. Tentang sejarah yang tak lagi disimpan dalam sunyi, tetapi dirayakan dalam terang. Tentang merah yang kini menyapa ibu kota, bukan sebagai warna yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari pelangi Indonesia. (*)




