RIJSWIJK, BELANDA — Indonesia kembali menunjukkan kekuatan budaya di panggung internasional melalui gelaran Pasar Indonesia 2026 yang berlangsung meriah di De Broodfabriek, Rijswijk, Belanda. Festival budaya terbesar diaspora Indonesia di Negeri Kincir Angin itu digelar dalam dua rangkaian, 14–17 Mei dan 22–25 Mei 2026.
Ribuan pengunjung dari berbagai kota di Belanda dan Eropa memadati arena festival untuk menikmati kekayaan seni, kuliner, musik, hingga produk UMKM Indonesia. Lebih dari 40 pelaku usaha dan komunitas budaya dari Indonesia turut ambil bagian dalam ajang yang menjadi etalase budaya Nusantara tersebut.
Pembukaan festival dilakukan oleh Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, bersama sejumlah seniman dan komunitas budaya Indonesia.
Direktur Pasar Indonesia, Arnaud Kokosky Deforchaux, mengatakan Pasar Indonesia bukan sekadar hiburan tahunan, tetapi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di Eropa.
“Pasar Indonesia menjadi ruang untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang ramah, kaya budaya, dan kreatif kepada masyarakat internasional,” ujar Arnaud.
Menurutnya, festival tahun ini mengusung semangat kolaborasi lintas budaya dan generasi. Tradisi Indonesia ditampilkan dengan pendekatan modern agar lebih dekat dengan generasi muda diaspora maupun publik Eropa.
Salah satu penampilan yang paling menarik perhatian ialah kolaborasi Wayang on The Street bersama Festival Kota Lama Semarang. Mereka menghadirkan parade budaya, gamelan, tembang Jawa, hingga pertunjukan wayang orang dengan lakon Sang Srikandi, Sang Bima, Petruk Dadi Ratu, dan Sang Gatot Kaca.
Tidak hanya seni Jawa dan Bali, festival ini juga diramaikan musik dangdut, keroncong, Indo-rock, serta workshop budaya seperti tari Lenso, pencak silat, hingga tari Lengger Banyumasan yang dibawakan penari internasional Rianto.
Dari dunia fesyen, karya Joko SSP dari Solo dan Apip’s Batik milik Afif Syakur dari Yogyakarta turut memukau pengunjung melalui peragaan busana berbasis tekstil tradisional Indonesia.
Selain menjadi ajang budaya, Pasar Indonesia juga membuka peluang promosi produk UMKM Indonesia ke pasar Eropa. Stan kuliner dan kerajinan Nusantara tampak dipadati pengunjung yang ingin menikmati cita rasa sekaligus membeli produk khas Indonesia.
Arnaud menilai festival ini telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya Indonesia terbesar di Belanda yang mampu mempererat hubungan masyarakat kedua negara.
“Budaya adalah bahasa universal. Lewat Pasar Indonesia, kami ingin membangun kedekatan emosional antara Indonesia dan Belanda,” katanya.
Melalui Pasar Indonesia 2026, Indonesia tidak hanya hadir sebagai negara dengan kekayaan tradisi, tetapi juga sebagai bangsa kreatif yang mampu menjadikan budaya sebagai jembatan persahabatan dunia. (Christian Saputro)/




