Oleh Udo Z Karzi
TIBA-TIBA saya ingat Sapardi Djoko Damono (1940—2020). Suatu kali, lewat kolom komentar Facebook-nya, saya dengan agak nekat menyampaikan keinginan untuk bertemu muka. Saya pikir, itu cuma angin lalu—komentar tenggelam di antara ratusan lainnya. Tapi saya keliru.
Sapardi menjawab pendek, tenang, sekaligus menampar: “Ya, sudah benarlah begitu. Buat apa bersua muka. Kita bertemu saja lewat puisi atau karya.”
Kalimat itu dulu terasa dingin.
Sekarang, setelah dua kabar duka datang hampir beriringan, saya mengerti: memang tidak semua pertemuan butuh tubuh. Ada yang cukup lewat kata, dan justru lebih abadi di sana.
Begitulah saya mengenal Iyut Fitra—atau Kuyut, begitu ia biasa disapa. Kami tak pernah bersua secara fisik. Tak pernah berjabat tangan. Tapi entah sejak kapan ia sudah akrab di layar, di pesan singkat, di kiriman buku, dan tentu saja—di puisi-puisinya.
Ia lahir di Payakumbuh, 16 Februari 1968, dengan nama asli Zulfitra. Sesama “Zul”, mungkin itu juga yang membuat saya merasa ada ikatan kecil yang tak perlu dijelaskan. Ia menulis di berbagai media nasional, bahkan menjangkau Malaysia dan Brunei. Dunia puisinya luas, tapi tetap terasa dekat—seperti suara dari bukit yang tidak meninggi, hanya memanggil pelan.
Karya-karyanya berderet panjang: Musim Retak (2006), Dongeng-dongeng Tua (2009), Beri Aku Malam (2012), hingga Maek (2025). Di antaranya, Mencari Jalan Mendaki (2018) diganjar penghargaan buku puisi terbaik dari Perpustakaan Nasional RI pada 2019 dan Lelaki dan Tangkai Sapu (2017) mendapat pengakuan dari Badan Bahasa pada 2020. Ia juga menerima Anugerah Payakumbuh Award 2022 sebagai Tokoh Seni dan Budaya. Bahkan puisinya “Orang-orang Bukit Tui” digubah oleh Ananda Sukarlan menjadi tembang puitik—sebuah bentuk penghormatan yang tidak main-main.
Tapi, di balik semua capaian itu, hubungan kami justru sangat sederhana: ia menawarkan batu akik, saya menolak; ia menawarkan buku puisi, saya tak pernah kuasa menolak. Begitu saja. Ia juga beberapa kali meminta saya membacakan puisinya dalam bentuk video. Permintaan kecil, tapi entah kenapa terasa berat. Mungkin karena saya terlalu sadar diri: suara tak cukup bagus, ekspresi kaku, dan kamera selalu membuat saya merasa menjadi orang lain.
Saya menunda. Lalu menunda lagi.
Sampai akhirnya saya berkata iya. Tapi seperti banyak “iya” yang datang terlambat, janji itu tak pernah sempat menjadi nyata. Video itu tak pernah dibuat. Puisinya tetap saya baca—tapi diam-diam, dalam hati. Dan kini, setelah kabar datang bahwa ia berpulang pada Senin, 27 April 2026, di RSUP M. Djamil Padang, yang tersisa hanya perasaan ganjil: betapa sesuatu yang sederhana bisa berubah menjadi penyesalan yang tak sederhana.
Kalau dengan Iyut saya “bertemu” tanpa pernah bertatap muka, maka dengan Uki Bayu Sedjati—atau Umianto Basuki—saya justru pernah bersua, tetapi tak benar-benar mengenalnya sedalam yang saya kira.
Pertemuan itu terjadi dalam Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) XII tahun 2019 di Anyer, Banten. Saya datang dari Lampung bersama Christian Heru Cahyo Saputro dan Edy Samudra Kertagama. Sebuah kesempatan langka bagi “tukang tulis” yang lebih sering berkutat di belakang meja.
Di sana, di antara obrolan santai dan suasana laut yang asin, saya sempat berbincang dengan Uki. Tidak lama, tidak mendalam, tetapi cukup untuk meninggalkan kesan: ia orang yang hangat tanpa berisik, nyentrik tanpa dibuat-buat.
Ketika kabar duka itu datang—Rabu dini hari, 22 April 2026, di RS Fatmawati, Jakarta—saya bahkan sempat bertanya memastikan: “Ini yang kita temui di Anyer itu, ya?”
“Iya, anak Bulungan,” jawab Christian Heru.
Jawaban itu sederhana. Tapi, seperti mengunci sebuah kenangan kecil yang hampir lepas.
Uki Bayu Sedjati adalah sosok yang hidup dalam pergerakan sastra, bukan sekadar dalam teks. Sejak era 1980-an, ia aktif di Komunitas Bulungan—salah satu simpul penting kehidupan sastra urban. Ia menulis puisi, cerpen, esai; menjadi dosen, wartawan; dan lebih penting lagi, menjadi penggerak komunitas.
Bukunya Wartawan Kerah Hitam mencerminkan sisi lain dari dirinya: tajam, reflektif, dan dekat dengan realitas sosial. Tapi mungkin kontribusi terbesarnya bukan pada buku tunggal, melainkan pada energi yang ia tularkan. Ia hadir di berbagai daerah, mengasuh komunitas, memotivasi anak muda untuk tetap berkarya—dan, seperti sering ia tekankan, bere-kreasi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia bukan tipe yang mencari panggung. Justru karena itu, ia menjadi semacam panggung bagi orang lain.
Dua penyair. Dua cara pertemuan. Dua jenis kehilangan.
Dari Iyut, saya belajar bahwa kedekatan tidak selalu membutuhkan perjumpaan fisik. Bahwa seseorang bisa hadir lewat puisi, pesan singkat, atau kiriman buku yang diam-diam mengubah cara kita melihat dunia. Tapi juga, dari Iyut, saya belajar bahwa menunda hal kecil bisa menjadi luka yang besar.
Dari Uki, saya belajar bahwa pertemuan singkat pun bisa berarti—asal kita memberi ruang untuk mengingatnya. Bahwa kehadiran seseorang dalam komunitas, dalam percakapan, dalam dorongan kecil kepada orang lain, bisa jauh lebih panjang usianya daripada karya yang tercetak.
Keduanya kini telah pergi. Tapi seperti kata Sapardi, mungkin memang tak perlu terlalu bersedih karena tak sempat bersua lebih lama. Sebab pada akhirnya, kita tetap bisa bertemu—lewat karya, lewat ingatan, lewat kalimat-kalimat yang mereka tinggalkan.
Dan di situlah mereka barangkali masih hidup:
tidak dalam tubuh, tapi dalam kata. []
___________
Udo Z Karzi, tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.




