LAMPUNG, Sumatera Post — Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) akan mementaskan karya danceteater bertajuk “40” pada Selasa malam (28/4/2026). Pertunjukan ini menjadi salah satu karya Penciptaan Karya Kreatif Inovatif (PKKI) pilihan Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesiana.
Koreografer pertunjukan, Dian Anggraini, mengatakan karya tersebut menghadirkan pendekatan artistik yang inovatif melalui kolaborasi gerak tubuh dan teknologi hologram. Selama 50 menit, penonton akan diajak menyelami eksplorasi tubuh pada level bawah panggung dengan metode psikoterapeutik yang menitikberatkan pada kinestetik, eksperimentasi, serta dekonstruksi gerak dan suara tubuh para pemain.
“Penggunaan teknologi hologram bukan sekadar efek digital, tetapi menjadi representasi visual dari dimensi psikologis yang tak terlihat, seperti kenangan, percakapan batin, dan bayangan emosional yang terus melekat dalam kesadaran seseorang,” ujar Dian, yang juga tutor Universitas Terbuka.
Menurutnya, hologram akan tampil sebagai “tubuh-tubuh imaji”, yakni bayang-bayang masa lalu atau aspek mental penari yang berinteraksi secara simbolik dengan tubuh nyata di atas panggung.
Sementara itu, sutradara Putra Agung menjelaskan judul “40” merujuk pada tradisi masyarakat tentang empat puluh hari masa duka setelah kehilangan seseorang. Simbol tersebut kemudian ditafsirkan sebagai ruang perenungan atas pencapaian hidup, identitas diri, nilai kehidupan, hingga luka masa lalu yang belum tuntas.
“Karya ini berbicara tentang perjalanan emosional manusia saat menghadapi kehilangan mendalam, mulai dari kesedihan, rasa bersalah, depresi, kesunyian, hingga bangkit menuju penerimaan dan pelepasan,” kata Agung saat ditemui Selasa pagi.
Ia menambahkan, pertunjukan ini juga menyoroti pentingnya kesadaran akan kondisi mental dalam menghadapi rasa kehilangan, sekaligus menghadirkan seni sebagai medium penyembuhan.
Pertunjukan akan dimainkan oleh lima penampil dalam format danceteater dengan tipe studi gerak dramatik. Karya ini diharapkan mampu menjadi refleksi sekaligus terapi emosional bagi penonton.
Menariknya, pertunjukan dibuka gratis untuk publik sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap seni pertunjukan.
“Kebijakan ini kami ambil agar seni bisa lebih dekat dengan masyarakat tanpa sekat ekonomi,” tambahnya.
Dian menegaskan, pementasan ini merupakan bagian dari komitmen DAAL dalam memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Lampung, sekaligus membuka ruang apresiasi yang lebih luas bagi publik.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung melalui UPTD Taman Budaya Lampung. (Christian Saputro,,)




