BANDAR LAMPUNG – Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) sukses mementaskan karya tari kontemporer bertajuk “Naniyu” di Taman Budaya Lampung, pada 30 April 2026. Pentas yang dihadiri lebih dari 350 penonton ini merupakan bagian dari Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif (PKKI) berbasis tradisi, yang mendapat dukungan hibah Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan RI.
Koreografer “Naniyu”, Yovi Sanjaya, mengungkapkan bahwa karya ini lahir sebagai respons artistik terhadap fenomena tampah atau nyiru beras. Bagi Yovi, tampah bukan sekadar alat rumah tangga, melainkan simbol nilai yang mengalami transformasi makna di tengah perubahan zaman.
“Melalui pendekatan tari kontemporer berbasis tradisi, kami berupaya menghadirkan kembali tampah dalam ruang baru yang komunikatif, reflektif, dan relevan dengan kehidupan masa kini,” ujar Yovi, yang juga Ketua MGMP Seni Budaya Kota Bandar Lampung, saat ditemui, Senin (4/5/2026).
Secara artistik, “Naniyu” memadukan eksplorasi gerak tubuh dinamis dengan properti tampah yang menjadi ekstensi tubuh penari. Keunikan lain terletak pada musik internal dari bunyi butiran beras, serta elemen visual kontemporer seperti pencahayaan dan desain kostum.
“Pendekatan ini menempatkan tubuh sebagai pusat pengalaman. Tradisi tidak hanya ditampilkan secara mentah, tetapi diolah, diuji, dan dimaknai ulang agar memiliki daya ungkap yang kuat bagi penonton modern,” tambah Yovi.
Sementara itu, dramaturg “Naniyu”, Putra Agung, menekankan bahwa karya ini adalah ruang refleksi tentang posisi tradisi dalam kehidupan modern. Tujuannya bukan untuk nostalgik, melainkan memahami akar budaya dan membawanya ke masa depan.
“Kami mengolah simbol budaya lokal, yaitu tampah, menjadi bahasa gerak kontemporer tanpa kehilangan nilai dasarnya. Ini upaya pelestarian budaya agar mudah dipahami generasi masa kini melalui medium pertunjukan,” jelas Putra.
Pertunjukan yang dimainkan lima penari DAAL ini telah melalui kurasi ketat oleh tiga tokoh seni, yakni Darmawan Dadijono (maestro tari ISI Yogyakarta), Iswadi Pratama (maestro teater Teater Satu Lampung), dan Riyan Hidayullah (musikolog Universitas Lampung).
Dengan dukungan Dana Indonesiana, DAAL berharap karya seperti “Naniyu” dapat memicu diskusi tentang relevansi tradisi di era modern, sekaligus menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat tetap hidup dalam bentuk ekspresi baru. (Christian Saputro)




