Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Semarang — Di sebuah jalan di kawasan Pecinan Semarang, waktu seakan berjalan pelan. Pagi itu, Minggu (8/3/2026), dalambGedung Rasa Dharma di Jalan Gang Pinggir 31 dipenuhi wajah-wajah yang datang dengan satu perasaan yang sama: syukur. Mereka berkumpul untuk merayakan perjalanan panjang sebuah perkumpulan yang telah hidup lebih dari satu setengah abad—Boen Hian Tong.
Di ruangan yang sarat sejarah itu, para pengurus, anggota, dan sahabat komunitas duduk berdampingan. Tak ada hiruk-pikuk besar, hanya suasana hangat yang mengalir seperti percakapan lama yang tak pernah putus. Di kota yang telah berkali-kali berubah wajah, Boen Hian Tong tetap berdiri sebagai salah satu penanda ingatan kolektif masyarakat Tionghoa Semarang.
Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin Wense Andi Gunawan. Dalam keheningan yang khidmat, para hadirin menundukkan kepala. Doa itu bukan sekadar ritual pembuka, tetapi juga sebuah harapan yang dilayangkan ke masa depan—agar organisasi yang telah lahir sejak abad ke-19 ini terus bertumbuh dan menebarkan kebajikan.
Boen Hian Tong bukan sekadar nama perkumpulan. Ia adalah kisah tentang solidaritas, tentang orang-orang yang percaya bahwa kebajikan harus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah doa usai, suasana berubah menjadi lebih cair. Para peserta kemudian menikmati makan siang bersama dengan hidangan khas Nasi Ulam Bunga Telang. Warna kebiruan dari bunga telang yang mewarnai nasi menjadi semacam simbol sederhana: keindahan yang lahir dari alam dan kebersamaan.
Bagi sebagian orang yang hadir, makan bersama itu adalah cara paling jujur untuk merayakan sejarah. Di meja-meja panjang, cerita lama kembali mengalir—tentang masa-masa sulit, tentang kegiatan sosial yang pernah dilakukan, juga tentang generasi baru yang kini mulai mengambil peran.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menyebut peringatan 150 tahun ini sebagai titik penting untuk kembali mengingat akar organisasi.
“Boen Hian Tong telah melewati perjalanan panjang selama 150 tahun. Semangat persaudaraan, kepedulian sosial, dan kebajikan harus terus kita jaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Bagi Harjanto, perjalanan panjang itu bukan sekadar angka. Ia adalah rangkaian tindakan kecil yang dilakukan dari waktu ke waktu—membantu sesama, menjaga tradisi, dan merawat nilai kemanusiaan.
“Harapan kami, Boen Hian Tong tetap menjadi rumah kebajikan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Setelah makan siang dan ramah tamah, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Di hadapan kamera, para anggota berdiri berdampingan—seolah menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu bingkai.
Menurut Fitrika Purnama Dewi, sesi foto tersebut bukan sekadar dokumentasi biasa. Foto-foto itu akan menjadi bagian dari buku “150 Tahun Boen Hian Tong” yang tengah dipersiapkan.
“Dokumentasi ini akan menjadi bagian dari buku yang sedang kami siapkan.
Rencananya buku tersebut akan diterbitkan dan diluncurkan dalam Malam Gala Dinner peringatan 150 Tahun Boen Hian Tong,” kata Fitrika.
Buku itu kelak diharapkan menjadi catatan perjalanan sebuah komunitas—tentang bagaimana sebuah perkumpulan mampu bertahan melewati pergantian zaman, perubahan politik, hingga transformasi sosial di kota pelabuhan tua bernama Semarang.
Di luar gedung, Pecinan tetap berdenyut seperti biasa. Toko-toko membuka pintu, aroma makanan dari dapur-dapur tua mengalir ke jalan, dan orang-orang lalu lalang tanpa banyak mengetahui bahwa di sebuah gedung tua, sebuah sejarah sedang dirayakan.
Seratus lima puluh tahun bukan waktu yang pendek. Tetapi bagi Boen Hian Tong, perjalanan itu tampaknya belum selesai.
Sebab selama masih ada orang-orang yang percaya pada persaudaraan dan kebajikan, api kecil yang dinyalakan para pendiri perkumpulan ini akan terus menyala—diam-diam, tetapi tak pernah padam. (*)




