Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Nama Ashoka kerap hadir dalam sejarah bukan hanya sebagai penakluk, melainkan sebagai seorang yang belajar untuk melepaskan penaklukan. Ia adalah raja yang, setelah menyaksikan kehancuran dalam Perang Kalinga, justru menemukan bahwa kemenangan terbesar bukanlah menguasai wilayah, melainkan menundukkan diri sendiri—amarah, kesombongan, dan keinginan untuk merasa paling benar.
Dari sanalah lahir maklumat yang sederhana, namun daya getarnya melintasi abad: jangan membanggakan agama sendiri dengan mencela agama lain.
Kalimat itu tampak ringan, seolah hanya nasihat etika. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia adalah kritik tajam terhadap kecenderungan manusia yang paling tua: kebutuhan untuk merasa unggul dengan cara merendahkan yang lain. Dalam banyak peradaban, agama yang seharusnya menjadi jalan menuju kebijaksanaan justru kerap diperalat sebagai alat pembeda—bahkan pemisah. Ia berubah dari jembatan menjadi tembok.
Maklumat Asoka hadir sebagai upaya meruntuhkan tembok itu, bukan dengan paksaan, melainkan dengan kesadaran.
Pada dasarnya, membanggakan agama adalah hal yang wajar. Setiap orang mencintai jalan yang ia yakini, sebagaimana seseorang mencintai rumahnya sendiri. Namun, persoalan muncul ketika kebanggaan itu berubah menjadi pembandingan. Ketika keyakinan tidak lagi menjadi ruang pertumbuhan batin, melainkan arena kompetisi diam-diam: siapa yang paling benar, siapa yang paling suci, siapa yang paling dekat dengan kebenaran mutlak.
Dalam situasi seperti itu, yang terjadi bukanlah penghayatan, melainkan penghakiman.
Maklumat Asoka seolah mengingatkan: iman yang sejati tidak membutuhkan celaan sebagai penopang. Ia berdiri dari kedalaman, bukan dari perbandingan. Ia tumbuh dari pengertian, bukan dari penolakan terhadap yang berbeda.
Karena itu, menghargai agama lain bukanlah ancaman bagi keyakinan sendiri. Justru sebaliknya—ia adalah ujian kedewasaan iman.
Kita hidup di dunia yang semakin terhubung, namun pada saat yang sama juga semakin rentan terhadap gesekan identitas. Perbedaan yang dulu dipisahkan oleh jarak kini hadir di depan mata—dalam percakapan, media sosial, bahkan dalam ruang keluarga. Di sinilah maklumat Asoka menemukan relevansinya yang baru.
Menghargai agama lain bukan berarti mengaburkan keyakinan sendiri. Ia bukan ajakan untuk menjadi seragam, melainkan untuk menjadi luas. Seperti langit yang tidak kehilangan dirinya hanya karena menaungi berbagai bentuk kehidupan di bawahnya.
Seseorang bisa teguh dalam keyakinannya, sekaligus lembut dalam sikapnya terhadap yang berbeda. Teguh dan lembut—dua hal yang sering dianggap bertentangan, padahal justru saling melengkapi.
Maklumat itu menyiratkan sebuah kebijaksanaan: bahwa kebenaran yang dalam tidak pernah bersuara keras. Ia tidak perlu berteriak untuk diakui, apalagi menyerang untuk dibenarkan. Ia hadir dengan tenang, seperti air yang mengalir—memberi kehidupan tanpa memaksa.
Sebaliknya, ketika seseorang mencela agama lain, yang sebenarnya ia lakukan bukanlah membela keyakinannya, melainkan mempersempitnya. Ia menjadikan agama sebagai identitas yang rapuh—yang harus terus dilindungi dengan menyerang pihak lain.
Padahal, keyakinan yang kokoh tidak membutuhkan musuh.
Maklumat Asoka dengan tegas menyatakan bahwa sikap mencela tidak hanya merugikan pihak lain, tetapi juga merugikan agama sendiri. Ini adalah pernyataan yang sangat jujur, bahkan radikal. Sebab ia membalik logika umum: bahwa dengan menyerang yang lain, kita justru melemahkan diri sendiri.
Mengapa demikian?
Karena dalam mencela, kita kehilangan esensi dari ajaran itu sendiri. Hampir semua agama mengajarkan kasih, welas asih, atau setidaknya pengendalian diri.
Namun ketika kita mencela, kita sedang melanggar nilai-nilai itu. Kita mungkin merasa sedang membela agama, tetapi pada saat yang sama kita sedang menjauh dari ruhnya.
Di titik ini, agama berubah menjadi simbol tanpa jiwa.
Apa yang ditawarkan oleh Asoka bukan sekadar toleransi dalam arti pasif—hidup berdampingan tanpa konflik. Ia menawarkan sesuatu yang lebih dalam: penghormatan aktif. Sebuah sikap batin yang tidak hanya menahan diri dari mencela, tetapi juga berusaha memahami.
Memahami bukan berarti menyetujui. Ia adalah upaya untuk melihat manusia di balik keyakinan, untuk menyadari bahwa setiap orang berjalan dengan latar, pengalaman, dan pencarian yang berbeda.
Dengan pemahaman itu, perbedaan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kekayaan.
Dalam konteks ini, agama kembali pada fungsinya yang paling awal: sebagai jalan menuju kebijaksanaan, bukan alat untuk mengukur siapa yang lebih tinggi.
Menariknya, maklumat ini tidak disampaikan dalam ruang hampa. Ia lahir dari pengalaman seorang penguasa yang pernah berada di puncak kekuasaan duniawi. Ashoka tidak berbicara sebagai seorang pertapa yang menjauh dari dunia, melainkan sebagai seseorang yang pernah merasakan kerasnya ambisi dan akibatnya.
Karena itu, kata-katanya memiliki bobot pengalaman.
Ia tahu bagaimana mudahnya manusia terjebak dalam keinginan untuk menguasai—baik secara fisik maupun simbolik. Ia juga tahu bahwa kekuasaan yang tidak diimbangi dengan kebijaksanaan hanya akan melahirkan penderitaan.
Maklumat tentang penghormatan antaragama adalah bagian dari upayanya untuk membangun masyarakat yang tidak hanya tertib, tetapi juga beradab.
Dalam kehidupan sehari-hari, maklumat ini bisa diterjemahkan dalam hal-hal yang sangat sederhana. Cara kita berbicara tentang keyakinan orang lain. Cara kita merespons perbedaan. Bahkan cara kita menyampaikan keyakinan kita sendiri.
Apakah kita berbicara dengan keinginan untuk memahami, atau sekadar untuk menang?
Apakah kita mendengarkan dengan hati terbuka, atau hanya menunggu giliran untuk membalas?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar kecil, tetapi di situlah maklumat itu hidup—bukan di prasasti batu, melainkan dalam sikap manusia.
Pada akhirnya, maklumat Raja Asoka adalah undangan untuk melihat agama tidak sebagai benteng, melainkan sebagai jalan. Jalan yang, meskipun berbeda arah, sama-sama berusaha membawa manusia menuju kebaikan.
Dalam dunia yang sering terpecah oleh perbedaan, pesan ini terasa seperti napas panjang yang menenangkan. Ia tidak memaksa, tidak menggurui, tetapi mengajak untuk merenung.
Bahwa mungkin, kebesaran suatu agama tidak terletak pada seberapa tinggi ia mengangkat dirinya, tetapi pada seberapa dalam ia mampu menghargai yang lain.
Dan di situlah, diam-diam, kemanusiaan menemukan wajahnya yang paling utuh. (*)




