KUDUS – Suasana Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3/2026) pagi, tampak berbeda dari biasanya. Ribuan mata tertuju pada deretan gunungan ketupat atau “kupat” yang disusun rapi dan siap diarak. Agenda tahunan Parade Sewu Kupat Muria 2026 resmi digelar, menyedot antusiasme ribuan warga lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Acara yang mengusung tema “Pelestarian Budaya dan Simbol Kebersamaan” ini bukan sekadar ritual pasca-Lebaran biasa. Ia telah bertransformasi menjadi ikon budaya lereng Gunung Muria yang sarat nilai filosofi dan dampak ekonomi nyata.
Sejak fajar menyingsing, kawasan Colo sudah dipadati pengunjung. Mereka rela berdiri berhimpitan demi menyaksikan prosesi arak-arakan ribuan kupat yang menjadi daya tarik utama. Warna-warni busana peserta kirab, diiringi tabuhan gamelan dan sholawat, menciptakan atmosfer tradisi yang kental dan menyentuh hati.
Filosofi Kupat: Dari Makanan Menjadi Pemersatu
Ketua Panitia Parade Sewu Kupat Muria, Suwanto, S.E., menekankan bahwa esensi acara ini melampaui sekadar perayaan. Baginya, ini adalah wujud rasa syukur dan benteng pertahanan budaya di tengah arus modernisasi.
“Kupat di sini bukan cuma makanan. Ia punya filosofi mendalam tentang ngaku lepat (mengakui kesalahan), saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi,” ujar Suwanto di sela-sela kesibukannya memimpin jalannya parade.
Yang menarik, kesuksesan acara ini murni hasil gotong royong lintas elemen. Suwanto menuturkan bahwa mulai dari organisasi masyarakat (ormas), komunitas ojek online, pedagang pasar, hingga Karang Taruna Desa Colo bahu-membahu menyukseskan event ini tanpa sekat.
“Ini bukti nyata gotong royong. Dari tukang ojek sampai pedagang kecil, semua punya peran. Tidak ada yang merasa paling penting, karena semuanya sama-sama penting untuk keberhasilan acara ini,” tambahnya bangga.
Dongkrak Ekonomi Lewat Jalur Budaya
Semarak parade juga dimeriahkan oleh puluhan stan UMKM yang menjajakan kuliner khas Kudus dan cenderamata. Aroma jenang, soto kudus, dan aneka camilan tradisional menguar, menggugah selera para pengunjung yang kebanyakan langsung berbelanja usai menyaksikan parade.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang hadir membuka acara secara resmi, melihat potensi besar dari tradisi ini. Menurutnya, pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi rakyat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
“Tradisi seperti Sewu Kupat ini adalah aset. Ini bukan hanya soal nilai budaya, tapi juga strategi kita meningkatkan ekonomi melalui pariwisata. Semoga agenda tahunan ini mampu menarik lebih banyak wisatawan ke Kudus dan memberikan efek berganda bagi pendapatan warga sekitar,” tegas Sam’ani.
Data sementara menunjukkan lonjakan kunjungan wisatawan di kawasan Colo selama pelaksanaan acara, yang secara langsung mendongkrak omzet pelaku usaha mikro di lokasi.
Harmoni di Tengah Keberagaman
Di balik riuh rendah sorak penonton dan kilatan kamera ponsel yang mengabadikan momen, tersimpan pesan kuat tentang harmoni. Parade Sewu Kupat Muria 2026 berhasil membuktikan bahwa budaya lokal tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat. Ia menjadi perekat sosial yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua, dalam satu napas kebersamaan.
Saat ribuan kupat akhirnya didoakan dan dibagi-bagikan kepada warga sebagai simbol berkah, terlihat senyum kepuasan di wajah-wajah peserta. Sebuah tradisi tua yang terus bernapas, menjaga ingatan kolektif tentang arti pentingnya saling menghargai dan berbagi.
Seperti kata pepatah Jawa, “Budaya itu seperti akar, semakin dalam ia menancap, semakin kokoh pohon masyarakat berdiri.” Dan di lereng Muria hari ini, akar itu tampak semakin kuat.
Fakta Singkat:
* Event: Parade Sewu Kupat Muria 2026
* Lokasi: Taman Ria Desa Colo, Kec. Dawe, Kab. Kudus
* Waktu: Sabtu, 28 Maret 2026
* Peserta: 18 Desa di lereng Muria, Ormas, Komunitas Ojek, Pedagang, Karang Taruna.
* Highlight: Arak-arakan 19 Gunungan Kupat dan Hasil Bumi.
* Tujuan: Pelestarian budaya, silaturahmi, dan peningkatan ekonomi wisata. (Christian Saputro)




