Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro , Jurnalis – Pemerhati Sejarah dan Seni Budaya tinggal di Semarang
Angin sore di Ambarawa tidak sekadar berhembus; ia bercerita. Ia menyusup melalui celah-celah batu bata merah setebal lengan manusia di Benteng Willem I, membawa serta gema masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Selama lebih dari dua abad, dinding-dinding “Benteng Pendem” ini telah menelan teriakan perang, dentuman meriam, dan desah napas terakhir para pejuang yang gugur demi kemerdekaan. Namun, pada malam Sabtu, 28 Maret 2026, sejarah menulis babaknya yang paling lembut. Benteng itu tidak bergetar karena ledakan mesiu, melainkan karena getaran hati puluhan manusia yang berkumpul dalam hening, merajut doa agar Nusantara tidak pecah.
Ini adalah sebuah paradoks yang indah. Di tempat yang dulunya dibangun untuk memisahkan, untuk menahan, dan untuk menaklukkan, kini manusia-manusia dari berbagai iman, suku, dan budaya justru datang untuk menyatu. Rengga Dumadi, sang penggagas, menyebutnya sebagai “ikhtiar sunyi”. Sebuah upaya sadar untuk melawan riuh rendah politik identitas yang semakin bising dengan bahasa universal yang paling purba: doa. Dalam keheningan yang diciptakan oleh puluhan jiwa yang hadir, suara hati terdengar lebih nyaring daripada teriakan massa.
“Di atas tahta, awan kelabu menyelimuti,
Ibu bersimpuh, lara merayap di nadi,
Sembilu menyayat hati yang perih.”
Ketika Rengga membacakan bait-bait pembuka puisinya, “Sandyaning Ibu Pertiwi”, suara beratnya seolah menjadi corong bagi tanah air yang sedang terluka. Di bawah langit Ambarawa yang berubah ungu kebiruan, kita dipaksa untuk menatap cermin yang retak. Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah diagnosis atas penyakit bangsa. Ibu Pertiwi, yang dulu digambarkan subur dan makmur, kini digambarkan bersimpuh, terluka oleh keserakahan anak-anaknya sendiri.
“Mata yang dulu berbinar jernih bak telaga,
Kini keruh, membasahi bumi dengan air mata duka.
Menatap belantara yang gundul meranggas,
Dipangkas paksa oleh tangan-tangan buas.”
Setiap bait yang dilantunkan di depan Benteng Pendem terasa seperti pisau bedah yang mengupas luka sosial kita. Gunung yang dibongkar demi emas, hutan yang gundul demi keuntungan sesaat, dan rakyat yang mengais remah-remah di tengah pesta pora korupsi para penguasa. Puisi itu bertanya dengan getir: “Katanya ini Surga, tapi mengapa anak-anakku merana?” Pertanyaan itu menggantung di udara malam, bercampur dengan aroma dupa dari prosesi Kirab Pusaka, menuntut jawaban yang tak bisa diucapkan hanya dengan janji politik.
Namun, esai ini bukan hanya tentang ratapan. Malam itu di Benteng Pendem adalah tentang transformasi rasa sakit menjadi harapan. Ketika Prof. Dr. Widodo Brotosejati berbicara tentang benteng yang berubah fungsi dari simbol penjajahan menjadi benteng moral, kita menyadari bahwa penyembuhan itu mungkin. Ketika puluhan penari dari Sanggar Centhini dan Sarasvati Widiasmara membawakan Tari Sufi dan Tari Rantaya dengan gerakan berputar yang hipnotis, mereka mengajarkan kita satu hal: bahwa dalam putaran kehidupan, semua sekat buatan manusia—agama, ras, golongan—pada akhirnya akan melebur menjadi satu titik ketundukan di hadapan Sang Pencipta. Kekuatan tidak selalu diukur dari jumlah massa, melainkan dari kedalaman rasa yang dimiliki oleh puluhan hati yang tersambung.
“Gunung-gunung dibongkar demi emas dan permata,
Menyisakan lubang menganga, saksi bisu keserakahan mata.
Bencana melanda, luluh lantak rumahku.”
Rengga terus membacakan, suaranya bergetar seiring dengan emosi puluhan peserta yang menyimak lekat. Tapi kemudian, nada berubah. Dari keputusasaan menuju panggilan untuk bangkit. Momen ketika para tokoh agama dari enam keyakinan berbeda naik ke panggung yang sama bukanlah sekadar simbolisme protokol. Itu adalah manifestasi nyata dari baris puisi yang tersirat: “Nak… Ibu memanggil semua.” Mereka tidak datang untuk saling mengklaim kebenaran, melainkan untuk menyatukan frekuensi doa. Dalam hening itu, perbedaan dogma mencair, menyisakan satu inti yang sama: cinta pada tanah air dan kerinduan akan kedamaian.
Alunan gamelan Ketawang Ibu Pertiwi dari Sanggar Nayanika menjadi soundtrack bagi renungan ini. Tempo yang lambat dan menghanyutkan seolah memperlambat waktu, memberi ruang bagi setiap jiwa untuk introspeksi. Apakah kita termasuk “tangan-tangan buas” yang disebut dalam puisi? Ataukah kita bisa menjadi tangan-tangan yang merajut kembali benang kasih yang putus?
Puncak dari malam itu adalah ketika puluhan lampion diterbangkan. Cahaya kecil yang melayang naik ke langit gelap membawa serta ujub atau harapan yang tertulis di kertas-kertas tipis. Ini adalah visualisasi puisi yang hidup. Jika sebelumnya puisi menggambarkan “awan kelabu”, maka malam itu puluhan manusia berusaha menciptakan bintang-bintang baru di tengah kegelapan. Setiap cahaya mewakili satu tekad bulat dari peserta yang hadir.
“Di atas tanah yang amat subur ini,
Lagu tak lagi lelala lidung.
Nak…
Ibu memanggil semua.
Bangunlah, sebelum senja benar-benar pergi,”
Seruan Rengga dalam puisinya menemukan jawabannya dalam aksi nyata puluhan orang yang hadir. Mereka datang bukan sebagai penonton, tapi sebagai pelaku perubahan. Mereka membuktikan bahwa selama masih ada orang yang bersedia duduk bersama, berdoa bersama, dan menangis bersama untuk nasib bangsa, maka Nusantara belum akan pecah. Benteng Pendem, dengan segala sejarah kelamnya, malam itu menjadi saksi kebangkitan semangat baru. Bahwa pertahanan terbaik bagi bangsa ini bukanlah meriam atau tembok tebal, melainkan persatuan hati yang dijaga dengan doa dan kasih sayang, sekalipun yang menjaganya hanyalah puluhan orang yang tulus.
Esai ini ditutup dengan sebuah keyakinan: bahwa puisi dan realitas bisa menyatu. Ratapan Ibu Pertiwi dalam puisi Rengga Dumadi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan alarm kebangunan. Dan malam itu, di Ambarawa, alarm tersebut telah berbunyi nyaring, menggugah hati nurani puluhan insan, dan menyatukan langkah untuk merajut kembali Indonesia yang utuh.
“Merajut kembali benang-benang kasih yang putus,
Agar Nusantara tak pecah,
Agar Ibu Pertiwi tak lagi menangis sendirian.”
Di bawah langit yang kini dihiasi cahaya puluhan lampion, kita berjanji pada diri sendiri dan pada sejarah: Kita akan menjawab panggilan Ibu. Kita akan menjadi tangan-tangan yang menyembuhkan, bukan yang melukai. Karena di Benteng Pendem, kita belajar bahwa bahkan dari tempat yang paling gelap sekalipun, cahaya persatuan bisa lahir dari puluhan nyala api kecil, menerangi jalan pulang bagi bangsa yang sedang tersesat. (*)




