SEMARANG — Festival mural yang digelar Hysteria Artlab mendapat apresiasi dari para seniman yang terlibat. Kegiatan ini dinilai menjadi ruang penting bagi pekerja kreatif, khususnya muralis dan perupa, untuk memperluas ekspresi sekaligus memperkuat jejaring seni.
Seniman mural Iyung Sunyoto mengatakan, festival semacam ini memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan praktik seni di ruang publik. Menurutnya, ruang alternatif seperti festival mural masih sangat dibutuhkan di tengah keterbatasan ruang pamer konvensional.
“Ini bermanfaat banget untuk para pekerja kreatif, khususnya yang berprofesi sebagai muralis dan perupa. Ini satu jalan yang baik,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan seniman yang akrab disapa Bang Edi. Ia menilai festival ini tidak sekadar menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang pertemuan ide dan praktik seni dalam suasana yang terbuka.
“Ini jadi salah satu jalan yang baik untuk terus berkarya. Tidak hanya pamer, tapi juga mempertemukan banyak gagasan,” katanya.
Menurut para seniman, kegiatan ini mampu mendorong produktivitas sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas latar belakang. Festival mural juga menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan karya kepada publik yang lebih luas, tanpa batasan ruang formal seperti galeri.
Kehadiran festival ini mempertegas bahwa seni dapat tumbuh dan hidup di ruang publik, seperti kampung dan lingkungan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, karya mural tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga di Semarang.
Iyung menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam menyaksikan proses hingga hasil karya menjadi nilai lebih dari festival ini. Hal tersebut membuat seni tidak lagi terasa eksklusif, melainkan hadir sebagai bagian dari ruang hidup bersama.
Selain itu, suasana yang terbuka dan kolaboratif memberi kesempatan bagi seniman untuk mengeksplorasi ide serta teknik baru. Pertukaran gagasan antar seniman dinilai menjadi salah satu kekuatan utama festival ini.
Bang Edi menilai keberadaan festival mural juga mampu menjadi pemantik semangat bagi pekerja kreatif di tengah berbagai tantangan yang dihadapi. Ia menekankan pentingnya ruang ekspresi yang konsisten dan berkelanjutan untuk menjaga dinamika ekosistem seni.
“Kegiatan seperti ini perlu terus ada dan dikembangkan, supaya seniman punya ruang untuk terus bergerak,” tambahnya.
Festival mural Hysteria Artlab menjadi bukti bahwa inisiatif kolektif mampu menghadirkan ruang alternatif yang relevan dan berdampak. Tidak hanya bagi seniman, tetapi juga masyarakat yang turut menjadi bagian dari ruang interaksi tersebut.
Dengan meningkatnya partisipasi seniman, festival ini sekaligus menunjukkan kebutuhan akan ruang bersama yang inklusif. Seni pun kian menegaskan perannya sebagai medium komunikasi yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. (Christian Saputro)




