Hysteria Artlab menghadirkan program artist talk dalam rangkaian festival mural bertajuk “Aturan Awuren”. Program ini menjadi ruang bagi publik untuk memahami lebih dalam karya para seniman yang terlibat, sekaligus menjembatani komunikasi antara seniman dan audiens.
Seniman Hysteria Artlab, Winatra Wicaksana, menjelaskan bahwa artist talk merupakan program yang dirancang untuk menguraikan proses dan gagasan di balik karya yang ditampilkan. Menurutnya, tidak semua karya seni dapat langsung dipahami oleh publik tanpa adanya penjelasan dari pembuatnya.
“Artist talk itu program yang menguraikan apa yang sudah dibuat oleh seniman. Ini jadi ruang presentasi, karena tidak semua orang bisa langsung memahami karya para seniman, apalagi dengan tema yang cukup kompleks,” ujar Winatra.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya Hysteria Artlab dalam memperluas keterlibatan seniman, termasuk dengan menghadirkan peserta dari luar kota melalui mekanisme open call. Menariknya, ini merupakan kali pertama Hysteria membuka kesempatan tersebut secara lebih luas.
Melalui artist talk, para seniman, diberikan ruang untuk menjelaskan konteks, proses kreatif, hingga pesan yang ingin disampaikan melalui karya mereka. Dengan demikian, publik tidak hanya menikmati visual karya, tetapi juga memahami narasi yang melatarbelakanginya.
Winatra menambahkan bahwa keberadaan artist talk menjadi penting, terutama karena tema yang diangkat dalam festival ini, yakni “Aturan Awuren”, memiliki dimensi konseptual yang cukup mendalam.
“Tema kita sekarang adalah Aturan Awuren, yang tentu tidak sederhana untuk dipahami. Maka artist talk ini jadi jembatan agar publik bisa lebih dekat dengan gagasan yang diusung,” katanya.
Selain sebagai ruang edukasi, program ini juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem seni, khususnya dalam membangun dialog antara seniman dan masyarakat. Dengan adanya interaksi langsung, publik dapat mengapresiasi karya tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari nilai dan pesan yang dibawa.
Festival mural ini sendiri awalnya dirancang sebagai bagian dari program internal Hysteria Artlab. Namun, dalam perjalanannya, kegiatan ini berkembang menjadi ruang kolaboratif yang melibatkan lebih banyak pihak, termasuk seniman dari berbagai daerah.
Winatra menyebut, tingginya antusiasme seniman untuk berpartisipasi menjadi salah satu faktor yang mendorong perluasan program ini. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ruang-ruang alternatif seperti yang diinisiasi Hysteria masih sangat dibutuhkan dalam ekosistem seni saat ini.
Dengan hadirnya artist talk, Hysteria Artlab tidak hanya menghadirkan karya visual di ruang publik, tetapi juga menyediakan ruang refleksi dan diskusi yang memperkaya pengalaman audiens.
(Christian Saputro)




